Musik Hindi

on 24 Mei, 2009

Oleh Saroni Asikin

MARSELLI Sumarno, sineas Indonesia, di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta (TBS) akhir November 2002 lalu menceritakan suasana ruangan bioskop di Bombay, India, yang penuh sesak oleh orang-orang dari lapisan kota melarat itu. Mereka menonton film sambil berdiri di kursi, dan hampir selalu bersorak-sorak.
Cerita itu, mengingatkan saya pada suasana di beberapa bioskop kelas rendah di Tegal dan Brebes, Jawa Tengah. Beberapa tahun lalu, menjelang Lebaran, saya dari Semarang pulang ke Brebes. Hari masih sore, ketika tiba di Tegal. Iseng menunggu malam, saya turun tak jauh dari sebuah bioskop, yang kala itu hendak memutar film India (saya lupa judulnya). Peristiwanya, jauh sebelum tayangan Bollywood menjadi menu di hampir semua televisi swasta.
Hampir saja saya urung menonton film, saat melihat begitu panjangnya antrean di loket, persis seperti antrean pemudik di loket kereta api. Tapi saya kemudian berpikir, berdesak-desakan dengan para penonton adalah sebuah keisengan yang mengasyikkan. Maka, saya pun lalu membeli karcis.
Gila! Ketika pintu gedung dibuka, saya terjepit di antara ratusan penonton. Kalau Anda pernah antre tiket untuk mudik dari Jakarta, Anda bisa membayangkan posisi saya saat itu. Bisa dibayangkan, ruangan yang hanya menyediakan kursi sekitar 300 buah itu, harus diisi sekitar 700 orang. Walaupun saat itu masih hari puasa, ruangan yang jadi sangat pengap itu tetap penuh oleh asap rokok.
Begitu film dimulai, tak pernah ada keheningan. Apalagi ketika adegan berisi nyanyian khas film India, telinga saya pekak oleh koor para penonton. Saya terjepit di antara mereka, dan seolah-olah saya menjadi satu-satunya yang tidak terlibat dalam drama di luar layar film.
Mengapa mereka bisa fasih menyanyikan lagu berbahasa Hindi itu? Ternyata, sebagian besar di antara mereka telah beberapa kali menonton film yang diputar tersebut.
***
KETIKA sudah sampai di kampung (di daerah Brebes), antusiasme menonton film India masih saya jumpai. Beberapa pedagang Warung Tegal (Warteg) yang mudik dari Jabotabek, sudah banyak yang punya VCD player. Dan, hampir selalu mereka menyetel film India yang berdurasi hingga tiga jam itu.
Ketika saya bertanya pada beberapa pemilik rental CD, film Indialah yang terlaris. Hampir-hampir saya menyimpulkan untuk diri sendiri: betapa kampung saya sedang dilanda demam India.
Lalu, sekitar dua bulan usai Lebaran tahun itu, saya masih iseng menonton film India pada sebuah bioskop kelas rendahan. Bahkan, saya sempat berpikir bahwa kursi rotan yang jadi tempat duduk di gedung bioskop tersebut penuh oleh kutu busuk. Saya lupa judul filmnya; tapi saya tak akan melupakan penonton yang sebagian besar berusia 11 hingga 15 tahun. Lagi-lagi saya menjadi satu-satunya orang yang disuguhi drama di luar film. Anak-anak itu fasih melakukan koor, sembari bertepuk tangan ketika layar bertebaran nyanyian lagu India.
Kini, tayangan Bollywood hampir setiap hari bisa ditonton di televisi swasta. Bioskop-bioskop kelas rendahan yang sempat memberi saya drama di luar film itu pun, sebagian besar telah bangkrut. Saya kehilangan suasana koor penonton bersama para bintang film India. Tak ada lagi aura Hindi. Film yang ditonton dengan jeda iklan, tak mungkin lagi menciptakan ketertegunan berlebihan.
Hanya saja, mengingat Marselli yang meratapi ketiadaan budaya perfilman kita, saya jadi geregetan: Kenapa kita tak pernah bisa memelihara penonton? Padahal, penonton yang antusias sebelum berbicara soal kualitas film yang ditonton, adalah sebuah potensi tersendiri. Walaupun di sisi sebaliknya, saya juga sering tidak mengerti: Mengapa film seperti Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho dilempari dengan botol-botol air mineral yang sudah kosong, ketika diputar di bioskop yang biasanya selalu mengucurkan koor pada saat memutar film India? Sungguh, saya tak mengerti.(*)

PERNIK, Suara Merdeka, 11 Desember 2002

Read more.....

Mari Membaca (Lagi)!

Oleh Saroni Asikin

SEBUAH wacana seperti teks sastra, folklor atau epos, ada kalanya memang tak bisa ditafsir dengan sekali simak. Perlu pembacaan berulang-ulang (regresi). Itu kalau kita memang memburu tafsir baru.
Tafsir baru atas sebuah teks, seringkali melahirkan teks yang ''sama sekali baru''. Baca, misalnya, Arok Dedes Pramoedja Ananta Tur. Sementara orang bilang, itu tafsir baru dari kisah Kitab Pararaton. Bahkan, dalam pengantar novelnya, dihubung-hubungkan kisah kudeta Arok pada Tunggul Ametung dengan kisah kudeta 1965.
Untuk lebih memperkuat penafsirannya itu, Pram bahkan menolak penggunaan sebutan ''Ken'', yang sekian lama dimaknakan sebagai ksatria. Setahu saya, dari teks Pram itu, bahkan muncul lagi penafsiran barunya yang lebih menonjolkan wacana soal feminisme lewat sosok Dedes dalam lakon Arok Dedes karya Benny (teaterawan muda Semarang) yang pernah ditampilkan di Teater Arena TBS Solo, beberapa waktu silam.
Apa menariknya penafsiran teks lama yang telah populer? Bolehlah itu ditanyakan pada Pram. Paling tidak, maestro sastra Indonesia itu telah menggubah beberapa karya sejenis Arok Dedes. Lakon Mangir dan cerita Calon Arang, misalnya.
Paling menarik, tafsir Pram pada sosok Ki Gede Mangir. Pada Babad Tanah Jawi yang jadi pijakan lakonnya, Mangir dibunuh Sunan Amangkurat setelah kepalanya dihantamkan ke Watu Gilang. Pram mengubahnya menjadi lebih dramatis, tapi kurang horor: Mangir dibunuh dengan ditusuk keris.
Ada yang mengatakan, tafsir baru itu lebih mendekati aspek kultural kejawaannya. Toh, tafsir boleh beragam. Karya yang multiinterpretable sering disebut karya bagus.
***
KESUKAAN memberikan tafsir baru atas teks lama, muncul pula dalam dua repertoar yang dipentaskan di Solo, dua pekan berselang. Teater Gidag-gidig Solo menggelar lakon Membaca Calon Arang; sebuah lakon gugatan (tafsir baru?) karya Hanindawan yang mencoba membayangkan sosok perempuan tukang sihir yang kejam sedang membaca kisah tentang dirinya.
Repertoar satunya, berupa tari topeng garapan kolaborasi Mugiyo Kasido dengan beberapa koreografer lain berjudul Surat Shinta. Menariknya, repertoar itu menyuguhkan percakapan Walmiki -si penulis epos Ramayana yang menyimpan kisah mengenai Shinta itu- dengan perempuan yang sedang diragukan kesuciannya oleh suami.
Paling pasti, sebuah tafsir baru selalu membutuhkan kajian intertekstual. Begitu banyak teks dari wilayah kultural dan era yang berbeda bisa begitu sama. Beberapa contoh bisa disebutkan. Kisah Uriah yang dikorbankan Daud demi mendapatkan Batsyeba dalam Perjanjian Lama, sangat mirip dengan kisah dari Bali Layonsari-Jayaprana. Romeo-Juliet yang banyak memberikan inspirasi dalam soal kesetiaan tak mati-mati, kenapakah pula muncul dalam kisah Bangsacara-Ragapadmi di Madura?
Kalau diperluas, kenapa kisah persekasihan Dayang Sumbi dan Sangkuriang dalam Tangkuban Perahu hampir mirip Jocasta dan Oedipus? Lalu, apa hubungannya dengan kisah incest yang jadi babon pawukon antara Watugunung dan Shinta? Jadi, mari terjemahkan kata pertama Alquran Iqra dengan: bacalah, lagi dan lagi!(*)

PERNIK, Suara Merdeka, 16 Oktober 2002

Read more.....

Kepayon Kemanjon

''Kepayon-Kemanjon''

Oleh: Saroni Asikin

TERNYATA, sebuah kesuksesan tak senantiasa membawa kegembiraan. Saya mencoba belajar kenyataan itu pada sosok Boy Tri Harjanto. Pelukis muda dari Solo itu, baru saja berpameran selama beberapa hari di The Japan Foundation Jakarta. Puluhan lukisan wayang bebernya, dibeber untuk publik Ibukota. Hasilnya, sungguh di luar dugaan: Tiga buah lukisannya terjual; masing-masing seharga di atas Rp 10 juta.
Tapi, di sela-sela kebanggaan Boy menceritakan soal kepayon itu, ada kabut menggayut di wajahnya. Apa pasal? ''Saya sungguh shock. Tak membayangkan sampai seperti itu. Ngerinya lagi, proses kreativitas saya seperti buntu. Seolah-olah saya tak punya kekuatan lagi untuk melukis,'' ujarnya lirih.
Saya juga tak membayangkan dia akan berkata seperti itu. Dalam bayangan saya, dia akan bercerita dengan penuh kebanggaan, lalu bicara soal rencana pameran selanjutnya. Tapi tidak! Dia mengalami kebuntuan kreatif, momok terngeri bagi seniman. Dan yang pasti, itu bukan penyakit main-main.
Bagi saya, Boy hanyalah sebuah kasus. Dia berkarya sekian lama; menyimpan karyanya, dan mengeluarkannya ketika ada kesempatan pameran. Di The Japan Foundation itu, adalah pamerannya yang kali pertama. Lalu, seperti mendapat pulung, karyanya laku dengan harga yang terbilang tinggi untuk pelukis pemula. Seolah-olah dia mendapat wahyu kepayon; namun ternyata dia belum siap.

***

BOY seolah-olah mengajarkan, seseorang butuh energi kesiapan yang besar untuk menerima kesuksesan. Pun, barangkali kalau dibalik, itu berlaku ketika seseorang menangguk kegagalan. Padahal, tidak semua pelukis muda bisa seperti Boy. Begitu banyak cerita mengenai sulitnya mendaki tangga sukses. Bahkan idiom yang kerap mengikuti diskursus itu, selalu berupa ''penuh onak-duri'', atau ''kerikil-kerikil tajam''.
Tapi, ada juga kesuksesan yang diraup seperti permainan sulap. Simsalabim, sukses! Lebih sering memang, wahyu kepayon itu bersifat pilih kasih. Juga dalam soal pasar seni lukis. Begitu banyak pelukis muda yang memiliki obsesi bisa berpameran, dan ''paling tidak'' ada sebuah karyanya yang terjual. Ada juga pelukis -yang atas alasan kebutuhan ''biologis''- menjual karyanya dengan cara yang mirip pengasong. Disanding kasus seperti itu, Boy masih beruntung.
Tapi, kasus Boy bukan soal kepayon semata. Ia bicara soal kreativitas yang tiba-tiba buntu, setelah masa kepayon itu. Ia merasa dirinya kemanjon (setengah matang-Red); dan itu selalu buruk untuk sebuah proses kreatif. Padahal, seorang seniman yang mengalami kebuntuan kreasi berarti harus siap-siap disebut telah mati.
Pada kenyataan itu, bisa jadi ada banyak ''Boy'' lain. Tidak hanya di kalangan pelukis, barangkali; seniman atau status sosial lain pun bisa mengalaminya. Maka, pada mulanya adalah kesiapan menerima kesuksesan; juga kegagalan. Pasti, sindrom kepayon-kemanjon yang berujung kebuntuan kreativitas akan tersembuhkan.(41)

PERNIK, Suara Merdeka, 4 September 2002

Read more.....

Keberuntungan Pemula

''Memang begitulah selalu,'' kata si orang tua. " Itu namanya hukum keberuntungan. Orang yang baru kali pertama main kartu hampir selalu menang. Keberuntungan pemula.''
''Kenapa begitu?''
''Sebab ada daya yang menghendaki engkau mewujudkan takdirmu; kau dibiarkan mencicipi sukses, untuk menambah semangatmu.''

(Sang Alkemis - Paulo Coelho )

SAYA tidak tahu apakah Sir Alex Ferguson sudah membaca novel yang judul aslinya O Alquimista itu atau belum ketika menurunkan Federico Macheda dalam pertandingan Manchester United (MU) versus Aston Villa, 5 April lalu. Saya juga tidak tahu apakah dia memercayai Hukum Keberuntungan atau tidak.
Yang jelas, melawan klub dari Birmingham itu, Sir Alex kehabisan stok striker. Wayne Rooney terkena sanksi larangan bermain setelah mendapat kartu merah pada pertandingan Liga Primer sebelumnya melawan Fulham. Dimitar Berbatov cedera. Hanya ada Carlos Tevez; dia pun dikhawatirkan kelelahan setelah membela Argentina dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia zona Conmebol.
Sementara Tevez bermain, di bangku cadangan ada dua nama striker: Danny Welbeck dan Federico ''Kiko'' Macheda dari tim cadangan. Di antara mereka berdua, baru kali itulah si Kiko dipanggil. Dan si pemula itulah yang mengubah hasil pertandingan lewat gol cantiknya semenit sebelum laga bubar. MU menang dan pecinta sepak bola mengelu-elukan nama Kiko sebagai kartu keberuntungan Sir Alex.
Belum habis puja-puji itu, seminggu berikutnya Kiko bermain lagi melawan Sunderland pada menit ke-75. Belum ada semenit di lapangan, sentuhan defleksi kakinya dari tendangan Michael Carrick, dan itu sentuhan pertama, membuat bola meluncur ke sudut gawang. MU kembali menang karena gol itu. Saga mengenai keberuntungan kembali bergaung. Sampai-sampai Ricky Sbragia, pelatih Sunderland yang dikalahkan si anak 17 tahun itu bilang, ''Apa pun yang dia sentuh selalu berubah jadi emas.''
Mungkin Kiko, si anak Roma itu, memang awatara alias titisan Raja Midas. Atau, jangan-jangan itu hanya sebuah keberuntungan pemula seperti yang diucapkan Melkisedek, si Raja Salem kepada Santiago, bocah penggembala domba, pada novel Coelho itu.
Tapi Sir Alex seperti menafikan hal itu. ''Anak itu punya sesuatu yang spesial,'' ujarnya. Dia berpikir cepat selayaknya para pencetak gol lain. "Dia punya instink dan tak takut pada apa pun.''
Barangkali benar Sir Alex bukan orang yang percaya pada Hukum Keberuntungan meskipun dalam sepak bola kadang hal itu terjadi. Buktinya, pada pertandingan perempat final Liga Champion di Stadion Dragao melawan Porto, Kiko yang ada di bangku cadangan tidak dimainkan. MU tetap menang lewat gol Cristiano Ronaldo.
Dalam hidup, hitungan-hitungan rasional dan logis acap kali tak cukup. Kita masih sering berharap pada keberuntungan. Tentu saja, keberuntungan berbeda dengan ''untung-untungan'' yang nothing to loose . Keberuntungan adalah terminal terakhir dari pengharapan seseorang.
Ketika muncul banyak partai baru menjelang Pemilu (meskipun para pendirinya bukan orang baru di kancah politik), saya sering berpikir mereka hanya bersandar pada Hukum Keberuntungan. Syukur dapat suara bagus, kalau pun tidak, sudah beruntung ikut ramai-ramai berpartai dan berkampanye sekalian menghabiskan dana dari pemerintah atau donatur. Apakah Gerindra misalnya, benar-benar mengabaikan hukum itu mengingat pendirinya punya rekam jejak tak sedap? Apakah bukan keberuntungan pemula karena dalam perhitungan sementara, partai baru itu masuk 10 besar? Entahlah, tapi kita tahu, berapa duit keluar untuk pencitraan diri lewat iklan di televisi. Sama entahnya ketika lima tahun lalu Partai Demokrat yang pemula bisa melancarkan jalan pendirinya menjadi presiden. Apakah lima tahun lalu, SBY dinaungi keberuntungan pemula? Mungkin tak sesederhana itu.
Tapi siapa pun sekarang, ''pelama'' atau pemula, kalau ingin jadi presiden, carilah Raja Melkisedek. Tanyakan bagaimana Hukum Keberuntungan itu bekerja. Saya yang tak pernah sekali pun berjumpa dengannya, juga dalam mimpi, sangat yakin, lelaki yang dalam Alkitab konon pernah bertemu Abraham atau Ibrahim itu tak selalu mau menjawab. Sebab, dia hanya datang kepada orang yang dia pilih untuk diajari bagaimana mau mengejar takdirnya dan tak melulu bersandar pada Hukum Keberuntungan.
Kalau tak mungkin bertemu Melkisedek, belajar sajalah pada Santiago. Dia tak pernah berpikir soal keberuntungan, bahkan setelah dia tidur di dekat pohon sikamor pada sebuah puing gereja di Spanyol dan bermimpi soal harta karun di sebuah piramida di Mesir. Kita mungkin menertawakannya ketika dia mengejar impian itu dengan pergi menyeberang ke Afrika, berlarat-larat sebagai penjaga toko kristal, berada dalam karavan yang melintasi bentangan padang pasir, terjebak dalam perang antarsuku di gurun, dan saat sampai di piramida dia dirampok sembari ditertawakan. Salah seorang perampok itu mengatakan, ketika tidur di bawah piramida itu, dia bermimpi tentang harta karun di tempat dulu Santiago tidur.
''Tapi aku bukan orang tolol. Aku tidak mau menyeberangi bentangan padang pasir hanya gara-gara mengalami mimpi berulang."
Dan Santiago tahu, dia harus kembali ke pohon sikamor itu. Benarlah, di bawah akar-akarnya, ada sekotak besi berisi kepingan uang emas, batu mulia, dan topeng bertatahkan permata. Dan kita tahu, tanpa pergi ke piramida dengan segala perjuangan beratnya dan ditertawakan perampok, Santiago tak mungkin beroleh harta itu, dan kita tak bisa menyebut dirinya orang yang dinaungi keberuntungan.
Kalau Melkisedek atau Santiago sulit juga ditemui, tonton saja film Kungfu Panda . Tapi jangan terlalu banyak tertawa, nanti perut kita sakit dan kita lupa sesorah bahwa keberuntungan itu tak jatuh dari langit. (*)

LATAR, Suara Merdeka, 19 April 2009

Read more.....

Mendadak Pesohor

on 15 Maret, 2009

Kita barangkali sering mendengar wejangan begini: "Untuk jadi terkenal itu tak mudah. Harus berjuang superkeras. Harus belajar supergiat. Harus prihatin tak henti-henti. Harus tawakal, juga istiqomah. Harus teruji di Kawah Candradimuka" Hmm, rumit sekali. Begitu banyak rumus yang bikin kening berkerut.
Memang untuk ternama, Einstein saja harus bertahun-tahun tersuruk di kamar sempitnya di Berne, Swiss, membikin pelbagai rumus sebelum menemukan Teori Relativitas. Siddharta juga begitu. Untuk menemukan ''Om'', suatu kesempurnaan rohaniah, dia harus melewati kegelisahan panjang ketika hidupnya melulu pada jalan pemuasan nafsu ragawi. Dia berasyik-masyuk dengan Kamala yang cantik, berbinis kotor, atau berjudi. Setelah melewati periode buruk itu, dia lalu dikenal sebagai Sang Buddha Gautama. Dalam kisah pewayangan, ada Wisanggeni. Untuk bisa sangat sakti, bahkan Batara Guru pun tak bisa mengalahkannya, putra Arjuna dan Dersanala itu harus dilempar ke Kawah Candradimuka oleh Semar.
Anda bisa membuat senarai yang panjang untuk tokoh-tokoh ternama yang harus berjuang panjang sebelum orang membaiatnya sebagai si pesohor.
Tak adakah jalan pintas untuk jadi pesohor? Tak bisakah dengan sedikit keberuntungan seseorang sontak menjelma sosok ternama? Atau sebenarnya popularitas itu rahasia ilahi?
Mari kita lihat Ponari. Sebelum tersiar kabar bahwa orang rela antre, berderet-berdesakan (sampai ada yang menemu maut) untuk mencucup air bekas celupan batunya, dia hanya anak lugu dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, sama seperti jutaan anak lainnya.
Namun dia ''mendadak pesohor''. Tak hanya kalangan bawah, para pejabat tinggi negeri kita pun urun komentar, juga keheranan. Saking terkenalnya, juga karena bermedium air, banyak situs internet memunculkan nama ''Ponari Sweat'' yang beranalog pada satu merek minuman penambah ion tubuh.
Tapi pesohor yang ini unik. Dia tak perlu tampil dengan sikap jumawa. Mukanya pun selalu lugu. Sama sekali tak membersitkan kecemasan apakah air yang sudah tercelup batunya bakal jadi tuah penyembuh si sakit atau malah jadi penyebab sakit perut. Dia asyik saja dalam gendongan sembari main-main ponsel. Dia bahkan tak mau memandang muka ''pasiennya'' yang bermuka mengiba. Dia tak secemas Elia ketika dituntut kaumnya membuktikan kenabian di Gunung Karmel lewat mezbah-mezbah bakaran. Untungnya, Dik Popon itu tak menahbiskan diri sebagai nabi atau wali.
Saya tak tahu dan tak mencemaskan apakah popularitas mendadak Ponari itu sebuah keberuntungan atau jadi bagian rahasia ilahi. Tersambar petir dan tak mati bahkan tak secuil pun bagian tubuhnya gosong, itu mungkin sebuah keberuntungan. Dia tak perlu berlatih goyang ngebor bertahun-tahun seperti Inul, atau kaya raya dan cari-cari perhatian dengan mengawini gadis di bawah umur, pamer tumpukan uang dan mobil mewah seperti Syeh (dari mana gelar kharismatis ini?) Puji. Dia juga tentu berbeda dari Mpok Nori atau Ponaryo Astaman untuk kondang. Cukup tersambar petir, dapat batu, dan hopla... dunia membicarakannya.
Tapi kenapa harus Ponari, kenapa bukan si Budi Kecil penjaja koran atau si Sakerah kecil yang tekun mengaji? Itu mungkin rahasia Tuhan.
Yang saya cemaskan adalah anak-anak kita yang menyimak berita tentang Ponari. Kemendadakan jadi pesohor tanpa melakukan apa-apa selain (konon) tersambar petir bisa saja ditangkap anak-anak kita dengan persepsi lugu mereka: untuk terkenal cukup dengan menunggu keberuntungan. Untuk dielu-elukan dan jadi ''kaya mendadak'' itu tak perlu berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Kecemasan saya ini bolehlah disebut kenaifan. Tapi bagaimana bila pelan-pelan Ponari menjadi role-model anak-anak kita? Dia bukan Gundala si Putra Petir atau Flash Gordon. Dia bukan Superman atau Cinderella. Dia bukan Ical atau Lintang ciptaan Andrea Hirata. Dia bukan Harry Potter atau Barbie.
Mereka semua fiktif. Ketika anak-anak kita sudah cukup umur, mereka bakal paham, semua nama itu sosok tak nyata yang lahir dari proses imajinasi.
Tapi Ponari itu nyata. Dia berdarah dan berdaging, dan bisa digendong-gendong. Di televisi atau pada foto di koran dan majalah, dia hadir dengan kesan bahwa semua orang menyayanginya. Anak mana yang tak ingin disayang-sayang?
Dulu kalau Ria Enes bertanya mau jadi apa Susan kalau besar, si boneka centil itu bilang, ''Mau jadi dokter, Kak Ria.'' Bagaimana bila dengan pertanyaan sama, anak kita mantap menjawab, "Seperti Ponari.'' Apalagi Dik Popon memang mirip dokter tanpa harus bertahun-tahun berkuliah kedokteran yang mahalnya naudzubillah itu. Dan jarang ada dokter yang cepat terkenal kecuali menjadi ''dokter aborsi'' yang diciduk polisi. Lebih-lebih lagi, hanya dengan mencelupkan batu, puluhan juta rupiah mengalir, sehingga datang ke Monas yang barangkali tadinya semata impian bagi Ponari Kecil, kini tinggal alakazam dan the dream comes true.
Kalau seperti itu, punyakah kita jawaban kalau anak kita bertanya soal kesuksesan? Itu kalau popularitas berbanding lurus dengan kesuksesan. (*)

LATAR, Suara Merdeka, 15 Maret 2009

Read more.....