Kita barangkali sering mendengar wejangan begini: "Untuk jadi terkenal itu tak mudah. Harus berjuang superkeras. Harus belajar supergiat. Harus prihatin tak henti-henti. Harus tawakal, juga istiqomah. Harus teruji di Kawah Candradimuka" Hmm, rumit sekali. Begitu banyak rumus yang bikin kening berkerut.
Memang untuk ternama, Einstein saja harus bertahun-tahun tersuruk di kamar sempitnya di Berne, Swiss, membikin pelbagai rumus sebelum menemukan Teori Relativitas. Siddharta juga begitu. Untuk menemukan ''Om'', suatu kesempurnaan rohaniah, dia harus melewati kegelisahan panjang ketika hidupnya melulu pada jalan pemuasan nafsu ragawi. Dia berasyik-masyuk dengan Kamala yang cantik, berbinis kotor, atau berjudi. Setelah melewati periode buruk itu, dia lalu dikenal sebagai Sang Buddha Gautama. Dalam kisah pewayangan, ada Wisanggeni. Untuk bisa sangat sakti, bahkan Batara Guru pun tak bisa mengalahkannya, putra Arjuna dan Dersanala itu harus dilempar ke Kawah Candradimuka oleh Semar.
Anda bisa membuat senarai yang panjang untuk tokoh-tokoh ternama yang harus berjuang panjang sebelum orang membaiatnya sebagai si pesohor.
Tak adakah jalan pintas untuk jadi pesohor? Tak bisakah dengan sedikit keberuntungan seseorang sontak menjelma sosok ternama? Atau sebenarnya popularitas itu rahasia ilahi?
Mari kita lihat Ponari. Sebelum tersiar kabar bahwa orang rela antre, berderet-berdesakan (sampai ada yang menemu maut) untuk mencucup air bekas celupan batunya, dia hanya anak lugu dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, sama seperti jutaan anak lainnya.
Namun dia ''mendadak pesohor''. Tak hanya kalangan bawah, para pejabat tinggi negeri kita pun urun komentar, juga keheranan. Saking terkenalnya, juga karena bermedium air, banyak situs internet memunculkan nama ''Ponari Sweat'' yang beranalog pada satu merek minuman penambah ion tubuh.
Tapi pesohor yang ini unik. Dia tak perlu tampil dengan sikap jumawa. Mukanya pun selalu lugu. Sama sekali tak membersitkan kecemasan apakah air yang sudah tercelup batunya bakal jadi tuah penyembuh si sakit atau malah jadi penyebab sakit perut. Dia asyik saja dalam gendongan sembari main-main ponsel. Dia bahkan tak mau memandang muka ''pasiennya'' yang bermuka mengiba. Dia tak secemas Elia ketika dituntut kaumnya membuktikan kenabian di Gunung Karmel lewat mezbah-mezbah bakaran. Untungnya, Dik Popon itu tak menahbiskan diri sebagai nabi atau wali.
Saya tak tahu dan tak mencemaskan apakah popularitas mendadak Ponari itu sebuah keberuntungan atau jadi bagian rahasia ilahi. Tersambar petir dan tak mati bahkan tak secuil pun bagian tubuhnya gosong, itu mungkin sebuah keberuntungan. Dia tak perlu berlatih goyang ngebor bertahun-tahun seperti Inul, atau kaya raya dan cari-cari perhatian dengan mengawini gadis di bawah umur, pamer tumpukan uang dan mobil mewah seperti Syeh (dari mana gelar kharismatis ini?) Puji. Dia juga tentu berbeda dari Mpok Nori atau Ponaryo Astaman untuk kondang. Cukup tersambar petir, dapat batu, dan hopla... dunia membicarakannya.
Tapi kenapa harus Ponari, kenapa bukan si Budi Kecil penjaja koran atau si Sakerah kecil yang tekun mengaji? Itu mungkin rahasia Tuhan.
Yang saya cemaskan adalah anak-anak kita yang menyimak berita tentang Ponari. Kemendadakan jadi pesohor tanpa melakukan apa-apa selain (konon) tersambar petir bisa saja ditangkap anak-anak kita dengan persepsi lugu mereka: untuk terkenal cukup dengan menunggu keberuntungan. Untuk dielu-elukan dan jadi ''kaya mendadak'' itu tak perlu berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.
Kecemasan saya ini bolehlah disebut kenaifan. Tapi bagaimana bila pelan-pelan Ponari menjadi role-model anak-anak kita? Dia bukan Gundala si Putra Petir atau Flash Gordon. Dia bukan Superman atau Cinderella. Dia bukan Ical atau Lintang ciptaan Andrea Hirata. Dia bukan Harry Potter atau Barbie.
Mereka semua fiktif. Ketika anak-anak kita sudah cukup umur, mereka bakal paham, semua nama itu sosok tak nyata yang lahir dari proses imajinasi.
Tapi Ponari itu nyata. Dia berdarah dan berdaging, dan bisa digendong-gendong. Di televisi atau pada foto di koran dan majalah, dia hadir dengan kesan bahwa semua orang menyayanginya. Anak mana yang tak ingin disayang-sayang?
Dulu kalau Ria Enes bertanya mau jadi apa Susan kalau besar, si boneka centil itu bilang, ''Mau jadi dokter, Kak Ria.'' Bagaimana bila dengan pertanyaan sama, anak kita mantap menjawab, "Seperti Ponari.'' Apalagi Dik Popon memang mirip dokter tanpa harus bertahun-tahun berkuliah kedokteran yang mahalnya naudzubillah itu. Dan jarang ada dokter yang cepat terkenal kecuali menjadi ''dokter aborsi'' yang diciduk polisi. Lebih-lebih lagi, hanya dengan mencelupkan batu, puluhan juta rupiah mengalir, sehingga datang ke Monas yang barangkali tadinya semata impian bagi Ponari Kecil, kini tinggal alakazam dan the dream comes true.
Kalau seperti itu, punyakah kita jawaban kalau anak kita bertanya soal kesuksesan? Itu kalau popularitas berbanding lurus dengan kesuksesan. (*)
LATAR, Suara Merdeka, 15 Maret 2009
Label: Healthy Life, human interest, kid
Oleh Saroni Asikin
Gelang logam itu berkesan sederhana. Warnanya pun tak semengilat perak, malah agak kusam. Di tangan atau kaki, ia tak lebih sebagai gelang aksesoris. Tapi bagi Anwar (26), gelang itu bukan semata hiasan tangan melainkan serupa ''jimat''. Namanya gelang biomagnetik.
''Tadinya saya tak percaya gelang seperti itu punya khasiat hebat. Tak lama setelah pakai gelang ini, pusing dan mudah lelah yang saya idap jadi hilang. Tubuh pun jadi selalu segar ketika bangun tidur,'' kata Anwar dengan gaya bicara mirip salesman produk kesehatan.
Betapa afdolnya ''jimat'' milik Anwar itu. Ketika dia pusing atau kelelahan, dia tak perlu meminta seseorang memijati tubuhnya atau pun meminum obat. Cukup melingkarkan gelang itu di tangan atau kaki, bersantai atau bahkan beraktivitas lain, dia bebas dari penyakit menjengkelkan itu.
''Padahal tadinya saya ndak percaya kalau gelang itu memang berkhasiat.''
Yusuf (37) pun tadinya begitu. Saat ditawari untuk membeli gelang tersebut, dia langsung berpikiran bahwa itu hanya trik jualan anggota MLM (multilevel marketing).
''Banyak teman menyarankan agar saya pakai gelang itu untuk menyembuhkan migren dan imsomnia menahun saya. Katanya, mereka sudah mencoba dan berkhasiat. Jadi tertarik juga. Awalnya, tak ada pengaruh yang berarti. Setelah satu bulan saya pakai, kedua penyakit itu lenyap.''
Tulisan ini tak melulu membicarakan gelang sederhana yang oleh sebagian orang dipercaya seajaib jimat penyembuh itu. Yang lebih menarik adalah mencermati perilaku pemakai peranti kesehatan. Sebab, pada hakikatnya setiap orang ingin sehat. Berbagai cara mereka lakukan untuk jadi sehat. Bahkan, kadang uang dianggap nomor dua setelah kesehatan. Buktinya, meski gelang itu mahal (lebih dari Rp 1 juta), banyak orang membelinya. Pada titik tertentu, peranti yang bentuknya mirip jam tangan atau rosario tersebut jadi ngetren.
Tapi sampai kapan kecenderungan itu bertahan? Itu pertanyaan skeptis mengingat sudah banyak orang memburu peranti tertentu, yang lalu jadi ngetren, lalu hilang begitu saja atau digeser ''barang'' baru.
***
SERUPA dengan gelang biomagnetik, sebelumnya ada korset dan bantal kesehatan. Kebanyakan kalangan perempuanlah yang kepincut. Padahal seperti peranti kesehatan lainnya, harga produk itu terbilang mahal. Lihat saja, satu korset harganya Rp 2,5 juta itu, sementara bantal seharga Rp 800 ribu.
Untuk Eni Suprihati (41) yang kondisi perekonomiannya pas-pasan, harga korset dan bantal itu jelas mahal sekali. Tapi demi memburu kesehatan, dia membelinya juga. Dia berprinsip uang bisa dicari, tapi kalau kesehatan sudah jebol, risikonya bisa sangat parah.
Lalu apa yang diperoleh perempuan itu? Nihil! Berbulan-bulan memakai kedua peranti itu, dia tak merasakan manfaat apa pun. Padahal, tadinya dia sangat yakin bisa menyembuhkan gangguan syaraf penglihatan yang dia derita. Itu juga yang diomongkan produsen alat itu saat berpromosi.
''Saat itu saya benar-benar terpengaruh oleh informasi mengenai kemujaraban yang diimpor dari Jepang itu. Tetangga dan teman juga ikut memengaruhi. Banyak dari mereka yang tak mampu beli ingin meminjam punya saya. Karena belinya mahal, saya sewakan saja. Lumayan, per minggu saya sewakan Rp 20 ribu.''
Tapi sayang sekali, hingga berbulan-bulan, Eni merasa tak mendapat manfaat dari kedua barang itu. Hasilnya, keduanya kini mangkrak. Berdebu.
Akankah gelang biomagnetik atau peranti kesehatan lainnya (sekadar menyebut misalnya biolantern) hanya tren sesaat yang bakal segera diganti tren lain? Kita lihat saja nanti. Sebab, diakui atau tidak hal seperti itu sering terjadi.
Begitu pula, ada orang-orang yang lebih memercayai obat-obat herbal ketimbang obat kimiawi. Lihat saja orang yang datang ke beberapa toko obat herbal China di Jl Pekojan Semarang. Yang membeli tak hanya orang Tionghoa. Di kalangan etnis Tionghoa, khususnya penganut Konghucu, fanatisme terhadap jenis obat itu bisa dibilang menjadi bagian dari keyakinan mereka. Dan benarlah, salah satu hal yang selalu diinginkan ketika orang melakukan ritual ciamsi di kelenteng adalah meminta obat.
''Banyak yang datang ke sini cuma bawa resep dari kelenteng. Saking fanatisnya, kalau di tempat kami tak ada, mereka tak mau,'' cerita Luciana Thio, pemilik Toko Obat Taurus.
Apa pun jenis peranti pengobatannya, sebenarnya kita tidak boleh mengabaikan pola hidup kita. Sehat-sakitnya seseorang banyak dipengaruhi oleh bagaimana kita menjalani hidup. Saya yakin, kita sudah banyak membaca entah itu dari media cetak atau online, atau dari buletin dan jurnal-jurnal kesehatan mengenai tips-tips untuk sehat. Kalau ditarik garisnya, tips-tips itu memang bermuara pada pola hidup kita.
Maka perlu kita renungkan ucapan seorang tabib besar Arab seperti yang dikutip Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya The Prophetic Medicine (1997): ''Barangsiapa ingin panjang usia, meskipun hidup abadi itu mustahil, harus makan siang dan makan malam pada waktunya, mengenakan pakaian yang lembut dan menghindari aktivitas berlebihan.''
Jadi, siapa yang mau sakit? Siapa yang tak mau hidup sehat? Saya jadi ingat sebuah tulisan di bak belakang truk yang puitik-menggelitik tapi mengandung doa yang (bisa saja) mustajab. Bunyi tulisan itu: wira-wiri waras. Tentu saja itu bisa kita terjemahkan secara bebas bahwa ke mana pun atau dengan cara apa pun, kita memang menginginkan selalu sehat-sehat saja. (*)
Murah pun Bisa Bikin Sehat
JANGAN gampang percaya terhadap satu jenis alat kesehatan. Sebagian orang yang kecewa tak mendapat manfaat dari alat alat yang konon bisa menyembuhkan pelbagai penyakit bisa kita ambil contoh. Mengenai gelang biomagnetik, Ruddyanto Nadjoedjojo, ahli pengobatan tradisional China yang berkala mengisi rubrik Pengobatan Sinshe di harian Suara Merdeka, mengatakan belum bisa membuktikan alat itu secara ilmiah.
''Gelang itu mungkin hanya berkhasiat untuk penyakit-penyakit riangan seperti pusing-pusing atau demam. tapi untuk menyembuhkan openyakit berat seperti kanker misalnya, saya kok tak yakin,'' tandas dia.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Prof Dr dr Anies MKes PKK berpendapat hampir serupa.
''Apakah alat-alat seperti itu benar-benar bisa mengurangi sakit atau menyembuhkan penyakit?'' tanyanya. Lalu dia jawab sendiri, ''Sebagian kecil secara teoretis benar, tapi sebagian besar sama sekali bohong. Bagaimana dalam tinjauan media? Sebagai dokter, saya mengatakan perlu pembuktian lebih lanjut, dalam hal ini harus dilakukan penelitian yang mendalam.''
Pasalnya, semua keputusan medis harus berdasarkan evidence base medicine atau dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kedokteran. Adapun alat-alat kesehatan tersebut biasanya ditawarkan hanya berdasarkan argumentasi, logika, dan kesaksian.
''Itu bukan cara-cara ilmiah kedokteran.''
Kalau seperti itu, pakar kesehatan keluarga, itu memandang antusiasme orang membeli alat-alat kesehatan itu semata gaya hidup. ''Padahal, kalau tujuannya mencari cara untuk sehat, sebenarnya banyak yang mudah dilakukan dan murah. Tak perlu Mahal, murah pun bisa bikin sehat. Misalnya, kalau ingin mengurangi lemak, ya kita harus mengurangi makanan berlemak dan berolahraga teratur. Ingin mengurangi berat badan? Mengapa tidak jogging, bersepeda, atau berenang? Semua itu lebih sehat, murah, dan bisa dipertanggungjawabkan."
Dalam hal-hal tertentu, menurut dia, orang-orang modern ''terancam'' bahaya penyakit gaya hidup. Biang keladinya adalah unhealthy lifestyle (gaya hidup tidak sehat). Contoh-contohnya pola makan tidak sehat, aktivitas kurang gerak, kebiasaan merokok, atau minum minuman beralkohol. Itu semua sumber penyakit seperti jantung koroner, penyakit pembuluh darah otak atau stroke, diabetes mellitus, dan kanker paru-paru.
''Itulah penyakit-penyakit gaya hidup yang tak sehat. Lebih parah lagi bagi yang jarang beraktivitas fisik. Misalnya naik ke lantai dua saja harus pakai lift, atau pergi ke tempat yang dekat sajaharus naik mobil. Ini akan menurunkan HDL (high density lipoprotein) atau kolesterol baik yang berkecenderungan menyebabkan penyakit.''
Selain pemakaian alat-alat kesehatan, kecenderungan orang berduit yang berobat ke Singapura atau luar negeri bagi dr Anies pun semata gaya hidup.
''Mengapa Mengapa harus ke Singapura, sementara di Indonesia sebenarnya sudah ada fasilitas pengobatan yang kurang lebih sama? Jelas itu bagian dari gaya hidup orang-orang kaya.''
Tapi menurutnya kecenderungan itu tidak lahir begitu saja. Perbedaan pelayanan pengobatan di Singapura dan Indonesia bisa jadi faktor pemicunya.
''Kalau di Indonesia, masih banyak dokter atau pekerja medis yang memperlakukan pasien dengan pendekatan organ tubuh. Jadi pasien dianggap seolah-olah benda mati saja. Kalau di Singapura pasien lebih dimanusiakan dengan pendekatan kekeluargaan.''
Karena semata tren, dia yakin itu bisa berubah. Caranya? ''Ya pelayanan kesehatan di negeri kita harus ditingkatkan." (*)
Label: Healthy Life