Cerita dari Hutan Batu

on 13 Oktober, 2008

BAYANGKANLAH sebuah hutan. Pepohonan lebat, hijau, dan liar. Selalu ada misteri terserak di dalamnya. Bayangkanlah andai di hutan tersebut kelebatan, keliaran, dan kemisteriusan itu bukannya tercipta dari deretan pepohonan, melainkan batu-batu. Ya, batu-batu karsit hasil endapan ratusan juta tahun di dasar laut. Maka yang terpacak di benak adalah sebuah hutan batu. Dan itu bisa Anda temukan di distrik Lunan Yu, 120 kilometer di tenggara dari pusat kota Kunming, provinsi Yunnan, China. Orang China menyebutnya Shi Lin. Kita boleh memadankannya dengan istilah Hutan Batu, dan bagi turis internasional, ia biasa disebut Stone Forest.
Stone Forest berisi tonggak-tonggak batu karsit besar yang menurut penelitian telah berusia 270 juta tahun. Batuan tersebut terbentuk oleh proses sedimentasi dasar laut. Dengan begitu, kita bisa membayangkan bahwa tanah Shilin atau Lunan Yu di Provinsi Yunnan China tersebut dulunya adalah lautan.Berdasarkan prasasti yang ada di lokasi dengan tulisan dalam huruf China dan terjemahannya dalam bahasa Inggris, disebutkan bahwa pada tahun 1931, Gubernur Yunnan yang bernama Long Yun berkunjung ke tempat tersebut dan terperangah oleh kedahsyatan bebatuan yang ada. Lalu dia menuliskan dua karakter China yang berbunyi Shi Lin atau Hutan Batu. Selanjutnya, inskripsi hasil tulisan tangan sang gubernur dipahatkan di salah satu batu di Da Shi Lin, sekaligus memberi nama loka tersebut.
Selama bertahun-tahun, Stone Forest telah menjadi objek wisata tang tak pernah sepi pengunjung. Apalagi memang begitu banyak kemudahan untuk pergi ke lokawisata yang sangat terkenal tersebut. Di Kunming misalnya, begitu banyak biro travel yang menawarkan wisata ke tempat eksotis itu. Apalagi, begitu banyak orang asing melewatkan liburan musim panas di kota tersebut.
Jumat (24 Juni 2005), bersama saya dalam satu mobil yang disediakan biro travel Kunming Camellia Hotel, ada pasangan Clay dan Anna dari Australia, Alban Molle dari Prancis, James Wangzhu dari Singapura, dan Chang Faiyuk orang Kanada keturunan China. Iini mirip perwisataan pelbagai bangsa. Jadinya perjalanan terasa mengasyikkan karena kami bisa saling berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Paling tidak, saya tak perlu merasa tengah mendengarkan sinetron Mandarin tanpa pernah tahu maknanya seperti telah beberapa hari saya alami ketika berada di dalam alat transportasi umum. Perlu dicatat, orang China terkenal suka mengobrol di bus atau kereta dengan langgam bahasa mereka yang cepat.
Dalam perjalanan, ketika saling mengobrol, tema kedahsyatan Stone Forest sudah bergaung. Meskipun kami baru mereka-reka berdasarkan informasi yang kami dengar atau baca, seolah-olah kami akan menuju ke suatu tempat yang menakjubkan di dunia. Ya, mobil berjalan melalui banyak Express Way atau jalan bebas hambatan sebelum memasuki areal pedesaan dan pebukitan Yunnan yang terkenal alamiah tersebut. Di kanan kiri kami, terbentang ladang-ladang sayuran dan bebuahan. Untuk orang dari Indonesia yang tak pernah melihat tanaman persik dan plum, pedesaan Yunnan memberi tambahan pengetahuan. Apalagi, di musim panas itu, kedua tanaman itu sedang berbuah.
Sekitar 4 kilometer sebelum lokasi Stone Forest, kami telah melihat bukit-bukit yang penuh dengan tonggak-tonggak batu. Dari kejauhan, lanskap tersebut lebih mirip pepuingan candi di areal yang sangat luas. Awal kekaguman kami sudah bermula dari situ. Sopir kami, orang China, yang bereaksi terhadap keheranan kami, mengucapkan kata-kata dalam Mandarin. James yang bisa berbahasa Mandarin menerjemahkannya untuk kami. Katanya, itu belum seberapa, karena luas areal Shi Lin atau Stone Forest sekitar 300 kilometer persegi. Alamak! Dan untuk wisata satu hari, paling-paling kami hanya bisa mengunjungi Daxiao Shi Lin (Hutan Batu yang besar dan kecil) saja.
Dari literatur yang saya baca, Stone Forest memiliki 7 titik lanskap. Enam lainnya adalah Naigu Shi Lin (Batu Hutan Hitam), Daxiao Zhiyun Dong (Gua Batu Zhiyun Besar dan Kecil), Chang Hu (Danau Persegi), Yue Hu (Danau Bulan), Qifeng Dong (Gua Batu Angin Keras), dan Da Dieshin (Air Terjun Besar).
Dan meskipun Anda hanya punya kesempatan mengunjungi Daxiao Shi Lin, tak perlu terlalu kecewa. Sebab, titik lanskapnya sendiri terbagi dalam banyak bagian yang menarik. Yakni, Shi Lin Hu (Danau Hutan Batu Besar) Da Shi Lin yang juga dinamakan Lizi Qing (Lembah Tanaman Plum), Xiao Shi Lin (Hutan Batu Kecil), Lizi Yuan (Perkebunan Plum), Shizi Ting (Paviliun Singa), Jiangfeng Chi (Kolam Ujung Pedang), Wangfeng Ting (Paviliun Menara Pandang), dan Lianhua Feng (Puncak Bunga Padma).
***
SAMPAILAH kami di lokasi. Di loket masuk, kami harus membayar tiket seharga 80 RMB Yuan (sekitar Rp 96 ribu). Pelajar atau mahasiswa boleh membayar 50 RMB Yuan dengan menunjukkan kartu pelajar. Memang, banyak tempat khususnya museum di China menggratiskan tiket untuk mereka. Si Prancis Alban rupanya ingin mendapat keistimewaan itu. Saya melihat dia menyodorkan Carte d'Identité (KTP Prancis) miliknya sembari menyerahkan 50 RMB Yuan. Petugas di loket tak terlalu memeriksa dan menyerahkan tiket dengan harga tersebut. Saya bilang padanya, ''Tu es intelligent d'économiser ton argent, hein?'' (Cerdik betul kau mengirit uangmu, ya?) Alban hanya tertawa.
Beberapa pemandu yang kebanyakan gadis-gadis suku Sani dalam pakaian khas kaum Yi merubungi kami untuk menawarkan jasa. Kebanyakan dari mereka hanya tahu bahasa Mandarin dalam dialek setempat. Selain untuk James, tentu saja itu tak akan berarti buat kami. Akhirnya seorang pemandu yang mengaku bernama Inggris Lina (nama aslinya Ge Zhu Qing) mendatangi kami sembari meyakinkan bahwa hanya dia seorang di antara banyak pemandu di situ yang bisa berbahasa Inggris. Cukup murah harga yang ditawarkan. Hanya 80 RMB Yuan.
Maka, kami mulai berjalan. Dan agaknya, Stone Forest memang mirip butir-butir gula yang selalu dikerubut semut. Begitu banyak orang di situ: pewisata dari berbagai bangsa, juga orang China, para pedagang, pemandu, atau sopir angkutan khusus wisata di situ yang harganya 200 RMB Yuan untuk sekitar dua jam.Situs pertama yang kami kunjungi adalah areal Da Shi Lin (Hutan Batu Besar). Lina dengan kefasihan Inggrisnya tak henti-hentinya memberi penjelasan. Di situs tersebut, berjubel orang mengagumi pilar-pilar batu besar yang seolah-olah menantang langit yang ketika itu bermatahari sangat menyengat. Para pengujung sibuk memotret, memegangi kekerasan batu-batu karsit tersebut. Banyak pula yang menyewa kostum Yi untuk sekadar berpose dengan latar belakang tonggak-tongak batu. Apalagi biayanya hanya 10 RMB Yuan sekali pakai.
Ya, berhenti di situs tersebut, saya membayangkan sebuah lanskap yang tak ubahnya sebuah hutan majal penuh pokok pepohonan besar yang terpotong-potong tanpa dedaunan. Hanya saja, pokok-pokok itu bukan kayu melainkan batu-batu karsit yang berusia ratusan juta tahun. Alangkah dahsyatnya! Dan itu baru awal perwisataan. Sebab, selanjutnya kami tak henti-henti dianugerahi gelimang keagungan alam yang memuaskan pandang.
Dari Da Shi Lin kami meniti trap-trap yang melingkar-lingkar, menanjak dan menurun, berjalan satu demi satu memasuki celah-celah sempit di antara tongak-tongak batu. Sampai di ujung menara pandang, kami harus berjalan begitu berjejalan saking banyaknya pengunjung. Dari atas menara tersebut, keluasan lanskap (paling tidak di areal Daxiao Shi Lin) terpampang dari berbagai sudut. Geremengan dalam pelbagai bahasa terdengar seperti bunyi ribuan lebah di situ. Dan hampir semuanya menguarkan kekaguman.
Masih banyak bagian yang harus kami kunjungi. Kami memang telah mulai merasa lelah. Tapi panduan Lina yang hampir selalu berbicara dalam nada riang sepanjang perjalanan, kesejukan udara di situ, serta keingintahuan kami untuk mengetahui lebih banyak lagi cukup membuat semangat kami tetap menyala.
***
DI Stone Forest, sepanjang menyusuri setiap celah batu, berhenti sesaat kreasi alam, pengunjung juga bakal disuguhi cerita di balik kemisteriusan bentuk bebatuannya. Menarik benar menyusuri setiap cerita yang seolah-olah terdedah dari bentuk sebuah batu. Apalagi pihak pengelola lokawisata membagi Stone Forest ke dalam bagian-bagian yang dibingkai dalam sebuah sekuel cerita.
Maka jangan heran, pada sebuah persimpangan trap, Anda akan menjumpai sebuah tengara batu yang menunjukkan arah ke suatu bagian dengan nama unik. Keunikan nama-nama tersebut merujuk pada bentuk batu yang diandalkan. Memang secara umum, penamaannya lebih banyak berasal dari penglihatan pada bentuk batu yang ‘’seolah-olah’’ mirip suatu bentuk. Beberapa nama yang telah saya sebutkan di bagian sebelumnya, sudah memberi bukti betapa uniknya penamaan bagian-bagian situs di Daxiao Shi Lin.
Beberapa diberi nama tanaman atau binatang. Sekali lagi, nama diberikan atas alasan kemiripan dengan rujukan benda nyatanya. Ambil contoh, batu yang diberi nama Dua Babi Bertarung, kalau dicermati puncak batunya memang sangat mirip dua kepala babi yang tengah mengadu moncong. Atau batu yang disebut Anggrek di Lembah Curam memang berada di bagian Stone Forest yang curam. Bentuk yang mirip bunga tersebut hanya bisa diamati dari sebuah puncak tangga bertrap. Begitu pula batu yang mirip burung merak, pohon cedar, kura-kura.Saat Lina menjelaskan bentuk-bentuk batu tersebut, saya teringat Gua Akbar di Tuban. Di tempat yang disebut terakhir, memang banyak stalaktit dan stalagmit yang mirip bentuk binatang tertentu.
Di luar itu semua, cerita di balik batu semakin memesona ketika kita berhadapan misalnya dengan batu yang diberi nama Ibu dan Anak Tengah Berjalan-jalan. Bentuknya berupa dua tonggak batu besar yang kalau dipandang dari kejauhan memang mirip ibu yang tengah menggamit anaknya.
Apalagi Lina yang memandu kami cukup humoris orangnya. Ketika menjelaskan bentuk batu tersebut, dengan tertawa dia menunjuk beberapa batu lagi dan mengatakan, ‘’Itu suami si ibu. Kalau yang itu paman si anak, dan yang satunya sang kakek.’’Boleh jadi Lina tak hanya tengah membanyol atau menyenangkan kami yang tengah dipandunya. Ketika sampai di batu yang disebut Perempuan yang Menunggu Suaminya, dia terlihat serius ketika memberi penjelasan. ‘’Anda lihat, dia seperti sangat bersedih dan penuh kepasrahan. Anda lihat bagian kepalanya? Itu sangat mirip dengan penutup kepala yang orang Sani pakai seperti saya. Dan bagi kami orang Sani di sini, batu-batu itu selalu menyimpan legenda dan membuat kaya budaya kami. Kami punya banyak cerita dari batu-batu itu.’’Dia menyebut sebuah legenda orang Sani mengenai terjunnya seorang lelaki ke dalam api akibat cintanya tak bertaut dengan seorang gadis. ‘’Anda tadi melihat batu Puncak Api. Kami memercayai dari batu itulah legenda dilahirkan.’’
Aha, ketika itu saya teringat kisah kasih incest Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang lalu memunculkan legenda Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Sebuah legenda yang lahir dengan merujuk pada bentuk puncak gunung yang mirip perahu terbalik. Tapi memang, setiap tempat selalu menyimpan legendanya sendiri dan itu memperkaya khasanah budaya yang berada di lingkungannya. Dan diakui atau tidak, legenda-legenda tersebut sering kali membuat tempat yang sedahsyat Stone Forest menjadi sangat bermakna.(*)
Saroni Asikin
(Suara Merdeka, Juli 2005)

Read more.....

''Dagangan'' Bernama Alam

on 28 Juni, 2008

Oleh Saroni Asikin

SISWONO Yudhohusodo tak pernah bisa melupakan suatu hari yang cerah pada tahun 1958. Dia berusia 15 tahun kala ayahnya yang dokter mengajak dia mengobati seseorang di Medini. Itu sebuah tempat di lereng Gunung Ungaran yang masuk wilayah Kendal. ''Alam di situ sangat menakjubkan. Pesonanya seperti terus membayang dalam diri saya,'' kenang mantan menteri zaman Orba itu.
Ketika telah hidup di kota besar seperti Jakarta, keindahan panorama Gunung Merbabu, Telomoyo, Andong, juga Rawapening yang terpampang dari puncak Gunung Ungaran menjadi kenangan yang terus mengharu-biru dirinya. Kenangan itu begitu kuat mengajak dia kembali.
Dan dia kembali ke tempat itu pada 2007. Seperti sebuah deja-vu, dia masih menjumpai keindahan yang sama dengan saat dia melihatnya hampir setengah abad lalu. Pada saat itu dia berpikir bagaimana agar keindahan itu tak hanya dia nikmati sendiri. Dia ingin orang lain ikut merasakan keterpesonaan yang dia alami. Maka, 2 Agustus 2007, jadilah Umbul Sidomukti, sebuah wisata alam berluas 36 hektare dengan sebuah kolam renang alami pada ketinggian 1.000 meter dpl.
Tak hanya kolam renang, Siswono yang ketika mahasiswa memang pecinta petualangan alami melengkapi tempat itu dengan sarana untuk uji nyali. Flying fox yang terbentang pada Lembah Ungup-ungup, juga marine bridge (jembatan tali) terpasang. Tak ketinggalan camping ground untuk perkemahan dia sediakan.Tak lama setelah dibuka, Umbul Sidomukti yang berada di bawah naungan PT PAS jadi serupa magnet yang menarik minat banyak orang penyuka wisata alam. ''Ketika liburan, pernah sehari datang seribu pengunjung,'' jelas Bambang Wijanarko yang dipercaya Siswono sebagai manajer lapangan.
Sepintas saja, sebagai bisnis, wisata alam seperti itu tentu sangat menguntungkan. Betapapun begitu, Siswono menampik usahanya semata bisnis yang memburu laba. ''Saya membuatnya setahap demi setahap dari uang sendiri. Tak ada pinjaman dari bank. Ini tak semata bisnis. Sebab, untuk idealisme, laba rugi adalah pertimbangan kesekian.''Barangkali agak mengherankan melihat seseorang membuka lahan wisata yang tentu saja berbiaya besar tanpa mengharapkan keuntungan darinya. Tapi kita juga tak bisa memungkiri, untuk sebuah idealisme adakalanya orang memang mau melakukan apa saja, termasuk siap (omong pahitnya) rugi dalam hitungan bisnis.
Begitu juga ketika Budi Dharmawan membuka wisata agro Sentra Buah Prima Ngebruk di Desa Patean, Sukorejo Kendal. Sebagai pengusaha, tentu dia memikirkan keuntungan dari usaha itu. Apalagi, dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp 2 miliar untuk mewujudkan lokawisata agro tersebut. Tak termasuk perkebunan yang memang sudah ada, uang itu untuk sarana pendukung perwisataan seperti pembangunan gedung auditorium, infrastruktur jalan, dan operasional kendaraan wisata. Dan itu bukan jumlah yang kecil.
''Jujur saja, saya memikirkan keuntungan. Tapi awalnya, tujuan saya adalah agar buah produksi petani lokal mampu bersaing dengan buah impor. Bolehlah disebut ini upaya pemberdayaan petani buah kita.''
Ya, keuntungan tetap penting dipikirkan. Tapi sering pula ada yang lebih dari itu. Idealisme memberdayakan petani buah dalam hal ini menjadi prioritas awal. Lebih-lebih lagi, kata Pak Budi, usahanya baru balik modal atau istilah kerennya break even poin (BEP) baru enam tahun setelah beroperasi.

***

DI luar ihwal pemenuhan idealisme atau perburuan keuntungan, beberapa tahun belakangan muncul kecenderungan orang membuat lokawisata dari alam yang tadinya berkesan biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang memiliki daya tarik. Dalam ranah ekonomi, ini ihwal bagaimana orang melakukan branding sehingga yang biasa menjadi tidak biasa atau bahkan luar biasa.
Memang tak selalu seperti itu. Alam di kitaran Umbul Sidomukti memang telah sangat cantik dan memesona sehingga membuat orang seperti Siswono terimpi-impi. Tapi tanpa naluri ''bisnis'' darinya, tempat itu mungkin hanya mirip seorang perawan molek yang terpingit sehingga sangat mungkin ia hanya bakal jadi perawan tua.
Tapi coba lihat Sentra Buah Prima Ngebruk. Sebelum dijadikan lokawisata agro, tempat itu hanyalah perkebunan biasa yang mungkin hanya menarik untuk dipandang selintasan sembari berkendara. Atau yang dahsyat kita jumpai pada Wahana Bahari Lamongan di Jatim. Tempat itu awalnya memang sudah jadi tujuan wisata bernama Tanjung Kodok. Lantaran objeknya hanya batu-batu serupa katak dan panorama laut, ia kehilangan kaloka alias popularitasnya. Nah, datang saja sekarang ke sana, Tanjung Kodok itu masih ada dan hanya menjadi lirikan sepintas duyunan pengunjung yang lebih terharu-biru oleh objek-objek buatan semacam Rumah Sakit Hantu, water boom, arena gokar, atau Sarang Bajak Laut. Dan itu semua objek-objek buatan.
Tirto Arum Baru di Jl Soekarno Hatta Barat Km 2,7 Kendal juga tadinya sebuah kolam renang. Tapi begitu bermetamorfosis menjadi tempat outbound berfasilitas lengkap, ia menjadi tempat tujuan berehat dan bermain-main dengan sebutan ''oase di jalur pantura.''
Di Jateng, nama Owabong di Purbalingga pantas dicatat sebagai tempat wisata buatan yang kaloka. Di tempat tersebut, materi alam berupa air yang jadi ''dagangan'' utama. Fasilitasnya berupa water boom, olympic pool, kolam arus, ember tumpah, pantai bebas tsunami ditambah flying fox dan sirkuit gokar. Sejak dibuka tahun 2005, pengunjung dari banyak kota berdatangan. Agus Dwiyantoro, manajer pemasaran Owabong memang tak menyebut rerata pengunjung tiap bulannya. Satu yang pasti, tempat itu mirip mesin pengeruk uang. Kata Agus, meskipun target yang dibebankan dari pemerintah setempat untuk PAD (pendapatan asli daerah), angkanya selalu naik (Rp 1 miliar di tahun 2005, Rp 1,5 miliar di tahun 2006, dan Rp 1,6 miliar di tahun 2007), Owabong selalu mampu memenuhinya. ''Tahun ini, targetnya dahsyat: Rp 2,3 miliar. Sampai bulan ini (Juni-Red), kami sudah beroleh sepertiganya,'' tandas Agus.
Jadi jelas benar, alam itu ''dagangan'' yang menjanjikan keuntungan. ''Tentu saja menguntung. Kalau tidak, mungkin kami sudah tutup,'' ujar Sri Sarwo Utomo, Direktur Tirto Arum Baru.
Kalau disigi lebih dalam, hal tersebut tentu saja dipengaruhi oleh kecenderungan orang untuk meyakini kembali konsepsi klasik tentang back to nature. Ya, kembali ke alam, dan kalau bisa dapat untung ketika kembali kepadanya. Gamblangnya, yang menikmati dapat pesona alam, yang mengelola dapat ''pesona'' uang.(73)

Peliput: Rony Yuwono, Modesta Fiska, Budi Setyawan

Di Kota pun Oke

APA yang terpacak di benak Anda ketika seseorang menyebut tempat outbound? Sebuah dusun yang hening, agak di daerah ketinggian, atau pelosok yang yang medannya sulit dijangkau? Tak sepenuhnya Anda keliru. Gambaran seperti itu juga yang dipertimbangkan pengelola Tirto Arum Baru di Kendal ingin membuka sarana outbound di tempat tadinya hanya kolam renang dan restoran lesehan. Pasalnya, tempat itu berada di pinggir jalan yang sibuk dan hanya sekitar dua kilometer dari pusat kota Kendal.
''Buka tempat outbound di kota itu bisa menguntungkan, tapi bisa pula tak bakal laku. Selama ini orang membayangkan tempat outbound itu sebuah pedesaan atau tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Lebih-lebih lagi orang membayangkan Kendal itu berhawa panas. Belum-belum, orang sudah membayangkan suasana yang tidak asyik,'' ujar Sri Warso Utomo.
Keraguan lelaki itu palastra alias sirna. Buktinya, sejak dibuka tahun 2004, jadwal outbound di situ hampir selalu penuh. Di situ, orang bisa beriang-riang bermain polo di lumpur , flying fox yang kayaknya wajib ada untuk outbound, naik gethek di ''danau'' buatan, taman refleksi untuk pijat-pijak kaki, atau berdebar-debar dalam ayunan berantai di atas kolam.
Pengunjung pun berdatangan dari berbagai tempat. Tak hanya Semarang, orang dari tempat sejauh Cirebon pun kata Sarwo mau ber-outbound di situ. Apalagi sejak tahun 2005, ada pengembangan baru berupa wisata agro. Walhasil, pada lahan seluas 3 hektare, orang bisa datang untuk berupa-rupa kegiatan. Lagi-lagi ini persoalan mengemas sesuatu dari yang biasa menjadi tak biasa. Selain tagline ''oase di jalur pantura'', Tirto Arum Baru menyedot pengunjung dengan ''merek'' yang menyebutkan tempat itu sebagai agrowisata. Jangan membayangkan sebuah perkebunan yang berhampar-hampar dengan aneka buah. Yang ada hanya puluhan pohon mangga yang kini ditambahi mengkudu dan lidah buaya.
''Meski tak banyak, tapi pepohonan itu tetap penting, setidaknya sebagai medium edukasi bagi sebagian orang,'' kata Sarwo.
Edukasi? ''Ya, selain bisnis, secara moral kami juga terdorong memberikan pendidikan alam, khususnya pada anak-anak.''Mungkin itu tak semata dalih. Sarwo bercerita mengapa tempatnya membuka program bertanam dan memanen padi di sawah. ''Suatu hari, ada serombongan keluarga makan di restoran ini. Saat itu padi sedang menguning. Si anak bertanya apa tanaman itu dan ayahnya menjawab itu padi yang nantinya jadi beras. Si anak langsung mengatakan bahwa itu 'pohon beras'. Itu satu contoh, ada sebagian orang yang anaknya tak tahu sama sekali berasal dari apa nasi yang dia makan. Itu mendorong kami untuk mengembangkan program-program edukatif.''
Yang jelas, untuk berpelesir dan berehat sekaligus beriung-ria, orang tak selalu harus pergi ke tempat terpencil. Di kota atau pinggirannya pun oke. Kalau bagus dalam pengemasan, tempat yang sibuk pun bisa dijadikan lokasi berwisata alam. Wahana Bahari Lamongan misalnya, ada di jalur jalan utama Tuban-Lamongan. Begitu juga Owabong yang berada di Desa Bojongsari, jaraknya hanya sekitar lima kilometer dari kota Purbalingga. Ini memudahkan orang yang tak ingin ''berpayah-payah'' dahulu melintasi medan yang (mungkin) sulit sebelum menikmati kegembiraan.(73)



Read more.....