Oleh Saroni Asikin
SEBUAH wacana seperti teks sastra, folklor atau epos, ada kalanya memang tak bisa ditafsir dengan sekali simak. Perlu pembacaan berulang-ulang (regresi). Itu kalau kita memang memburu tafsir baru.
Tafsir baru atas sebuah teks, seringkali melahirkan teks yang ''sama sekali baru''. Baca, misalnya, Arok Dedes Pramoedja Ananta Tur. Sementara orang bilang, itu tafsir baru dari kisah Kitab Pararaton. Bahkan, dalam pengantar novelnya, dihubung-hubungkan kisah kudeta Arok pada Tunggul Ametung dengan kisah kudeta 1965.
Untuk lebih memperkuat penafsirannya itu, Pram bahkan menolak penggunaan sebutan ''Ken'', yang sekian lama dimaknakan sebagai ksatria. Setahu saya, dari teks Pram itu, bahkan muncul lagi penafsiran barunya yang lebih menonjolkan wacana soal feminisme lewat sosok Dedes dalam lakon Arok Dedes karya Benny (teaterawan muda Semarang) yang pernah ditampilkan di Teater Arena TBS Solo, beberapa waktu silam.
Apa menariknya penafsiran teks lama yang telah populer? Bolehlah itu ditanyakan pada Pram. Paling tidak, maestro sastra Indonesia itu telah menggubah beberapa karya sejenis Arok Dedes. Lakon Mangir dan cerita Calon Arang, misalnya.
Paling menarik, tafsir Pram pada sosok Ki Gede Mangir. Pada Babad Tanah Jawi yang jadi pijakan lakonnya, Mangir dibunuh Sunan Amangkurat setelah kepalanya dihantamkan ke Watu Gilang. Pram mengubahnya menjadi lebih dramatis, tapi kurang horor: Mangir dibunuh dengan ditusuk keris.
Ada yang mengatakan, tafsir baru itu lebih mendekati aspek kultural kejawaannya. Toh, tafsir boleh beragam. Karya yang multiinterpretable sering disebut karya bagus.
***
KESUKAAN memberikan tafsir baru atas teks lama, muncul pula dalam dua repertoar yang dipentaskan di Solo, dua pekan berselang. Teater Gidag-gidig Solo menggelar lakon Membaca Calon Arang; sebuah lakon gugatan (tafsir baru?) karya Hanindawan yang mencoba membayangkan sosok perempuan tukang sihir yang kejam sedang membaca kisah tentang dirinya.
Repertoar satunya, berupa tari topeng garapan kolaborasi Mugiyo Kasido dengan beberapa koreografer lain berjudul Surat Shinta. Menariknya, repertoar itu menyuguhkan percakapan Walmiki -si penulis epos Ramayana yang menyimpan kisah mengenai Shinta itu- dengan perempuan yang sedang diragukan kesuciannya oleh suami.
Paling pasti, sebuah tafsir baru selalu membutuhkan kajian intertekstual. Begitu banyak teks dari wilayah kultural dan era yang berbeda bisa begitu sama. Beberapa contoh bisa disebutkan. Kisah Uriah yang dikorbankan Daud demi mendapatkan Batsyeba dalam Perjanjian Lama, sangat mirip dengan kisah dari Bali Layonsari-Jayaprana. Romeo-Juliet yang banyak memberikan inspirasi dalam soal kesetiaan tak mati-mati, kenapakah pula muncul dalam kisah Bangsacara-Ragapadmi di Madura?
Kalau diperluas, kenapa kisah persekasihan Dayang Sumbi dan Sangkuriang dalam Tangkuban Perahu hampir mirip Jocasta dan Oedipus? Lalu, apa hubungannya dengan kisah incest yang jadi babon pawukon antara Watugunung dan Shinta? Jadi, mari terjemahkan kata pertama Alquran Iqra dengan: bacalah, lagi dan lagi!(*)
PERNIK, Suara Merdeka, 16 Oktober 2002
Label: Column, human interest
''Kepayon-Kemanjon''
Oleh: Saroni Asikin
TERNYATA, sebuah kesuksesan tak senantiasa membawa kegembiraan. Saya mencoba belajar kenyataan itu pada sosok Boy Tri Harjanto. Pelukis muda dari Solo itu, baru saja berpameran selama beberapa hari di The Japan Foundation Jakarta. Puluhan lukisan wayang bebernya, dibeber untuk publik Ibukota. Hasilnya, sungguh di luar dugaan: Tiga buah lukisannya terjual; masing-masing seharga di atas Rp 10 juta.
Tapi, di sela-sela kebanggaan Boy menceritakan soal kepayon itu, ada kabut menggayut di wajahnya. Apa pasal? ''Saya sungguh shock. Tak membayangkan sampai seperti itu. Ngerinya lagi, proses kreativitas saya seperti buntu. Seolah-olah saya tak punya kekuatan lagi untuk melukis,'' ujarnya lirih.
Saya juga tak membayangkan dia akan berkata seperti itu. Dalam bayangan saya, dia akan bercerita dengan penuh kebanggaan, lalu bicara soal rencana pameran selanjutnya. Tapi tidak! Dia mengalami kebuntuan kreatif, momok terngeri bagi seniman. Dan yang pasti, itu bukan penyakit main-main.
Bagi saya, Boy hanyalah sebuah kasus. Dia berkarya sekian lama; menyimpan karyanya, dan mengeluarkannya ketika ada kesempatan pameran. Di The Japan Foundation itu, adalah pamerannya yang kali pertama. Lalu, seperti mendapat pulung, karyanya laku dengan harga yang terbilang tinggi untuk pelukis pemula. Seolah-olah dia mendapat wahyu kepayon; namun ternyata dia belum siap.
***
BOY seolah-olah mengajarkan, seseorang butuh energi kesiapan yang besar untuk menerima kesuksesan. Pun, barangkali kalau dibalik, itu berlaku ketika seseorang menangguk kegagalan. Padahal, tidak semua pelukis muda bisa seperti Boy. Begitu banyak cerita mengenai sulitnya mendaki tangga sukses. Bahkan idiom yang kerap mengikuti diskursus itu, selalu berupa ''penuh onak-duri'', atau ''kerikil-kerikil tajam''.
Tapi, ada juga kesuksesan yang diraup seperti permainan sulap. Simsalabim, sukses! Lebih sering memang, wahyu kepayon itu bersifat pilih kasih. Juga dalam soal pasar seni lukis. Begitu banyak pelukis muda yang memiliki obsesi bisa berpameran, dan ''paling tidak'' ada sebuah karyanya yang terjual. Ada juga pelukis -yang atas alasan kebutuhan ''biologis''- menjual karyanya dengan cara yang mirip pengasong. Disanding kasus seperti itu, Boy masih beruntung.
Tapi, kasus Boy bukan soal kepayon semata. Ia bicara soal kreativitas yang tiba-tiba buntu, setelah masa kepayon itu. Ia merasa dirinya kemanjon (setengah matang-Red); dan itu selalu buruk untuk sebuah proses kreatif. Padahal, seorang seniman yang mengalami kebuntuan kreasi berarti harus siap-siap disebut telah mati.
Pada kenyataan itu, bisa jadi ada banyak ''Boy'' lain. Tidak hanya di kalangan pelukis, barangkali; seniman atau status sosial lain pun bisa mengalaminya. Maka, pada mulanya adalah kesiapan menerima kesuksesan; juga kegagalan. Pasti, sindrom kepayon-kemanjon yang berujung kebuntuan kreativitas akan tersembuhkan.(41)
PERNIK, Suara Merdeka, 4 September 2002
Label: Column, human interest