<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539</id><updated>2012-01-13T22:14:38.029-08:00</updated><category term='Country'/><category term='Etnomusic'/><category term='education'/><category term='Sport'/><category term='Theater'/><category term='Obituary'/><category term='human interest'/><category term='China'/><category term='Chinese Tradition'/><category term='Music'/><category term='Locality'/><category term='Culture'/><category term='Photography'/><category term='Feminism'/><category term='kid'/><category term='Film'/><category term='Art'/><category term='Classic Music'/><category term='Social Change'/><category term='Leisure'/><category term='Dakwah'/><category term='Jazz'/><category term='Traditional Dance'/><category term='Lifestyle'/><category term='Gender'/><category term='Healthy Life'/><category term='Spirituality'/><category term='Transgender'/><category term='Dance'/><category term='Mass Culture'/><category term='Poligami'/><category term='Religion'/><category term='Column'/><category term='Nationalism'/><category term='Tourisme'/><category term='Painting'/><title type='text'>Trubadur Tak Bernyanyi</title><subtitle type='html'>CATATAN SARONI ASIKIN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-9145175892100720910</id><published>2009-05-24T05:37:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T05:42:20.115-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feminism'/><title type='text'>Perempuan yang Berteriak</title><content type='html'>APA makna seorang perempuan yang mencebis minta diperhatikan kata-katanya di hadapan lelaki yang berkuasa? Tak ada sama sekali. Lihat saja reaksi Priam, Raja Troya, saat anak perempuannya Cassandra mendedahkan nubuat kehancuran kerajaannya yang agung.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Priam yang lelaki tentu saja lebih suka cara Paris dalam ''merebut'' si cantik Helena dari pelukan Menelaus. Sebuah manifestasi dari kedayaan lelaki. Maka persetan Troya akan hancur! Persetan Paris, juga Hector, serta kehancuran Troya oleh ''sesosok makhluk'' seperti yang ditakutkan perempuan cenayang malang itu! Dan omongan perempuan tak cantik dan lemah seperti Cassandra hanyalah nonsens.&lt;br /&gt;Dan ketika semua terbukti, hanya istri Priam yang terguguk oleh tangis. Sedangkan, Cassandra yang malang itu hanya bisa menangis tanpa suara di kerangkeng bawah tanah milik ayahnya. Dia sudah kehilangan suaranya, bahkan untuk sekadar berteriak, ''Jangan remehkan omongan perempuan betapa pun terkesan nyinyir!''&lt;br /&gt;''Tak ada tempat baginya di surga!'' jerit Nawal El Saadawi belasan abad setelah Homerus mensyairkan mitologi Yunani itu. Perempuan Mesir itu melawan dalam jeritan bahasa kata-kata. Tak seperti cebisan sengit kata-kata Cassandra ketika berhadapan dengan ''keluarganya'' yang lelaki, Nawal membuatnya jadi lirik yang tragis dalam fiksi lewat tokoh Zainab.&lt;br /&gt;''Seumur hidup ia tidak pernah marah kepada ayahnya, saudara, juga suaminya. Jika ia dipukuli suaminya hingga hampir mati, kemudian pulang ke rumah ayahnya, segera si ayah akan mengantarkannya pulang kembali ke rumah suaminya. Dan jika ia sampai kembali kedua kalinya, ayahnya malah akan memukulinya, kemudian mengantarkannya kembali. Atau jika suaminya yang menjemput, kemudian tidak mengusirnya, tapi tetap memukulinya. Kemudian ia kembali ke ibunya. Maka si ibu akan berkata kepadanya, ''Zainab, pulanglah ke rumah suamimu! Kelak akan kau dapatkan surga di akhirat!'' tulis Nawal&lt;br /&gt;Jadi, memang tak ada ''surga'' buat perempuan, paling tidak di dunia ini. Seperti Cassandra yang menanggung ketersiksaan di kerangkeng bawah tanah, Zainab terdera pukulan-pukulan tanpa bisa berteriak.&lt;br /&gt;Dan selama berabad-abad, kehidupan yang terbingkai oleh patriarki, teriakan perempuan selalu hanya terlipat di perut dan tak sempat keluar menjadi sekadar sebuah desisan, apalagi gema. Tapi tetap saja ada perempuan yang berteriak. Nyonya Moya Mudenda, sosok utama novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Legacy&lt;/span&gt; (Warisan) karya Tsitsi V Himunyanga-Phiri adalah seorang perempuan dari sedikit lainnya yang teriakannya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nyangkut&lt;/span&gt; di kuping ''masyarakat lelaki''.&lt;br /&gt;Tak selalu lelaki yang tutup telinga pada teriakan perempuan, tapi juga kaum perempuan. Itu juga jadi ironi bagi pejuang feminisme. Apa yang dialami Nyonya Moya Mudenda jadi bukti. Ia itu pejuang feminisme dan mendidik anak perempuannya menjadi seperkasa dirinya. Tapi apa lacur? Si anak perempuan malah rela menjadi gundik seorang lelaki.&lt;br /&gt;Jadi memang tak mudah memang ketika seorang perempuan harus berteriak. Tapi teriakan itu adalah keniscayaan. Dalam bingkai itu pula, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iber-iber Tledek Barangan&lt;/span&gt; karya Sahita adalah keniscayaan itu. Repertoar itu memang lahir dari semangat meneriaki perempuan lain yang serupa anak perempuan Nyonya Moya Mudenda. ''Saya jengkel lihat perempuan yang begitu mudah menggapai karier bukan karena dirinya, tapi karena jadi simpanan seorang lelaki yang memiliki kekuasaan,'' kata Wahyu Widayati, penggagasnya.&lt;br /&gt;Maka, dalam segala ironisme, juga adanya gegar gender yang akrab di telinga kaum feminis, harga seorang perempuan yang berteriak bisa diperkirakan.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BIANGLALA&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 15 Februari 2004&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-9145175892100720910?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/9145175892100720910/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=9145175892100720910' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/9145175892100720910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/9145175892100720910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/05/perempuan-yang-berteriak.html' title='Perempuan yang Berteriak'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-1327327529786073096</id><published>2009-05-24T05:25:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T05:31:58.193-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Locality'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Culture'/><title type='text'>Kaca Pembesar</title><content type='html'>''&lt;span style="font-style:italic;"&gt;JON, ente aja macem-macem garo wong Tegal. Angger dikerasi njadag, tapi dirimuk nglungkruk.&lt;/span&gt;'' (Jon, kamu jangan macam-macam sama orang Tegal. Kalau dikasari melawan, tapi dibujuk takluk.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tafsir atas kalimat itu bisa berarti sebuah ancaman. Tapi bisa juga itu wujud mekanisme pertahanan diri sebuah komunitas yang bernama Tegal. Tegal di situ tak semata merujuk wilayah geografis Kabupaten dan Kota Tegal. Ia bisa berarti pula masyarakat yang berbahasa Jawa Tegal sekaligus kebudayaan yang melingkupinya. Maka, sebagian orang Pemalang dan sebagian besar Brebes bisa diikutkan.&lt;br /&gt;Kalau ungkapan di atas dianggap menjadi pola-biru sikap orang Tegal dalam berhubungan dengan orang lain, maka sungguh mengherankan ketika mereka distereotipekan sebagai masyarakat medioker yang hanya pantas untuk dilecehkan dalam bahasa lawakan televisi. Lihat saja, selain dari Warteg yang sebenarnya mirip dengan pola waralaba, kita mengenal mereka lewat banyolan Parto Tegal atau Cici Tegal, atau Samson yang bertubuh besar tapi selalu dikalahkan oleh Tuyul Ucil yang bertubuh kecil, atau ke belakang lagi lewat pelawak Kholik.&lt;br /&gt;Potret orang Tegal dalam bingkai bahasanya seolah-olah memang hanya pantas untuk membuat orang tertawa. Potret orang yang ketika bicara hanya jadi ''bulan-bulanan'' lawan bicara. Dengan orang semacam itu, mengapa kita tak boleh macam-macam? Apa pasal?&lt;br /&gt;Ungkapan di atas bukannya ahistoris dan niracuan. Banteng Loreng Binoncengan yang menjadi simbol orang Tegal boleh jadi memang bukan gambar mati. Seorang anak kecil yang terkesan lugu menunggangi seekor banteng besar tentu saja tak diciptakan sebagai simbol tanpa kandungan makna. Boleh jadi orang Tegal itu selugu anak kecil itu, tentu saja dengan atribut lainnya seperti kelugasan dan kebersahajaan. Tapi bukankah si kecil itu penakluk? Bukankah para pewarteg mampu menaklukkan ''pasar besar'' Jakarta lewat dandang nasinya?&lt;br /&gt;Dengan gambaran serupa itu, saya jadi paham arti kegundahan orang Tegal seperti Nurngudiono ketika bahasa ibunya hanya dikenal sebagai bahasa lawakan. Ketika orang Tegal hanya dimaknai sebagai orang yang menarik sebagai sasaran kekonyolan. Sampai-sampai dia melontarkan pertanyaan retoris, ''Apakah bahasa Tegal tak memiliki bahasa puisi?''&lt;br /&gt;Tentu saja punya. Saya ingat sebuah nyanyian ketika kanak-kanak pada saat turun hujan. Begini, ''Tauge-tauge udane sing gedhe, taurang-taurang udane sing terang''. Sebuah kalimat puitis yang bahkan bisa berdaya mantra. Bahkan untuk keperluan pola persajakan, orang yang entah menciptakan nyanyian itu membuat kata baru (neologisme) ''taurang'' demi bersajak dengan kata ''terang''. Dan kata itu, mungkin hingga hari ini, tak pernah ditemukan maknanya.&lt;br /&gt;Nurngudiono pun pasti ingat, beberapa tahun lalu Lanang Setiawan mencuatkan puisi Tegalan dengan sangat jumawa. Saya pun sangat yakin orang-orang seperti Nur Hidayat Poso, Yono Daryono, Lutfi AN, Suriali, Abidin Abror, Enthieh Mudzakir, Ki Enthus, Atmo Tan Sidik, Eko Tunas, banyak lagi lainnya yang saya kenal begitu bangga dengan identitas daerahnya tak pernah merasa diri mereka medioker sebagai orang Tegal. Sebutan ''Jon'' untuk saling memanggil sesama kawan misalnya, di luar alasan uniformitas dan kesetaraan, adalah juga perujuk kebanggaan identitas. Sebutan yang lalu membuat kawan dari luar Tegal terheran-heran mendengar setiap orang memiliki nama ''Jon''.&lt;br /&gt;Nah, itulah persoalannya. Keterheran-heranan itu kalau diperbesar lagi menciptakan stereotivikasi tertentu yang acap bernada minor. Pada tataran itu, parameter yang selalu dipakai adalah ''kita'' bukan ''mereka''. Sialnya, kita acap melakukan itu. Ibaratnya, kita melihat wajah orang lain dengan kaca pembesar. Secantik dan setampan dewa-dewi, wajah orang yang dilihat dengan kaca pembesar pastilah buruk muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bianglala, Suara Merdeka 11 April 2004&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BIANGLALA&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 11 April 2004&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-1327327529786073096?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/1327327529786073096/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=1327327529786073096' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/1327327529786073096'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/1327327529786073096'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/05/kaca-pembesar.html' title='Kaca Pembesar'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-8842884532131825511</id><published>2009-05-24T04:36:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T04:57:39.094-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Obituary'/><title type='text'>Harapan Itu Tak Boleh Mati</title><content type='html'>Obituari untuk Sukma Ayu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA seorang putri yang tidur lama sekali seolah-olah telah mati. Dia menunggu kedatangan seorang pangeran. Dan ketika pangeran itu benar-benar datang dan membangunkannya, dia bangun dalam kondisi segar-bugar dan menikah dengan sang pangeran. Happy ending.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi kehidupan nyata sering tak sama dengan dongeng. Artis Sukma Ayu yang ''tidur'' (baca: koma) lebih dari lima bulan akhirnya benar-benar ''tidur abadi''. Sabtu (25/9/2004) pukul 13.45, putri bungsu pasangan H Misbach Yusa Biran dan Nani Wijaya itu dinyatakan meninggal oleh dr Suparman selaku dokter keluarga.&lt;br /&gt;Selalu ada cerita yang mengharukan setiap kali seseorang yang masih muda, populer, dan sedang menanjak titian kariernya harus pulang menghadap ke hadirat Allah SWT.&lt;br /&gt;Ungkapan ''only the good dying young'' acap dimunculkan mengiringi kepergiaan orang serupa itu. Adakah hanya yang baik yang mati muda seperti predikat pernah diberikan orang kepada, sebut saja, Jim Morrisson, Jonas Japlin, Jimmy Hendrix, Lady Di, atau Nike Ardila? Kalau toh berbeda barangkali kematian Sukma tak setragis mereka semua.&lt;br /&gt;Secara jujur, saya tak begitu mengenal Sukma Ayu. Saya hanya tahu aksinya yang membikin tawa dan membuat gemas ketika memerani Rohaye dalam sinetron Kecil Kecil Jadi Manten (KKJM), serta sedikit cerita kontroversial mengenai foto asyik-masuknya dengan B'jah.&lt;br /&gt;Citra Sukma yang terpacak adalah sosok gadis tomboy dengan tampilan mirip Ronaldo, lengkap dengan kaus kesebelasan Brasil bernomor punggung 9 seperti yang ditunjukkannya dalam diri Rohaye. Seorang remaja putri yang suka memanjat dan berkelahi dengan teman laki-laki sebaya.&lt;br /&gt;Itu yang tersaji di layar kaca. Lalu ada rasa simpati yang menelisik hati saya ketika tahu bahwa demi peran Rohaye itu dara kelahiran Jakarta, 10 November 1979, itu rela menggunduli rambutnya yang cantik menjadi sama dengan Ronaldo. Setiap hari dia pun harus rela mengakrabi wig.&lt;br /&gt;Bagi saya, apa yang dilakukan gadis yang akrab disapa Euis itu tentu bukan semata nafsu memburu peran itu. Ada tekad dan keseriusan yang memang lalu dibayar tunai oleh popularitas yang lalu digenggamnya. Meskipun sebenarnya sebelum KKJM, Sukma telah berperan di beberapa sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ya, ada kekerasan hati atau tekad yang membulat pada Sukma. Dan di mata keluarganya, si bungsu itu memang keras hati seperti ibunya, Nani Wijaya. Kekerasan itu bahkan telah ditunjukkannya ketika baru hadir ke dunia.&lt;br /&gt;Dengar saja cerita Nani yang ber tanggal lahir sama dengan putri bungsunya itu.&lt;br /&gt;''Dibandingkan dengan lima saudara lainnya, tangisan Sukma paling keras. Kayak apaan tuh.''&lt;br /&gt;''Kita memang orangnya sama-sama keras,'' ujar Sukma suatu ketika mengenai dirinya dan ibunya. ''Aku sering pulang syuting malam-malam. Mama tanya dari mana pulang malam-malam. Karena baru pulang, aku suka menjawab keras. Udah gitu kita suka diem-dieman besok paginya. Nggak lama sih, setelah itu kita udah baikan lagi. Dan aku deket banget sama Mama.''&lt;br /&gt;Dan di antara anak-anak yang lainnya, Sukma memang paling popular di mata khalayak penyuka dunia selebritas. Tapi memang popularitas acap kali bermuka dua.&lt;br /&gt;Satu muka melambungkan, muka satunya berusaha menenggelamkannya. Itu juga yang dialami Sukma. Dia melambung dengan ikon Rohaye, tapi lalu foto syurnya dengan penyanyi B'jah yang beredar luas seolah-olah angin puting beliung yang ingin mengempaskannya.&lt;br /&gt;Tapi ketegarannya yang kadangkala terkesan cuek seperti Rohaye dalam menghadapi hantaman itu pun makin membuka rasa simpati publik. Dia masih asyik-asyik saja menjalani rutinitas sehari-harinya seolah-olah tidak sedang dipermalukan oleh beberapa foto.&lt;br /&gt;Belum lagi jernih soal foto, hantaman tragis kembali menimpa Sukma. Jumat 9 April 2004, Sukma bertandang ke seorang temannya. Ketika sedang minum, dia jatuh terpeleset. Luka yang menggores lengannya dari pecahan gelas membawanya berobat ke RS Medistra, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt;Sebuah operasi harus dijalaninya, namun tak lama setelah itu dia tak sadarkan diri dan tak pernah lagi terbangun hingga kematian menjemputnya. Itulah saat Si Rohaye menjadi ''putri tidur''.&lt;br /&gt;Lalu cerita mengenai upaya keluarganya, memenuhi cerita publik lewat media massa. Sebuah cerita mengenai harapan yang tak boleh mati, meskipun berdasarkan analisis medis, angka harapan hidup Sukma Ayu hanya sekitar 1-2 persen. Dan harapan itu pun sirna siang itu.&lt;br /&gt;Tapi apa yang dilakukan keluarga H Misbach Yusa Biran menunjukkan pada kita bahwa sekecil apa pun harapan tak boleh begitu saja mati. Sebab, kehidupan memang selalu berujung pada kematian dan pada kenyataan itu, hanya harapanlah yang membuat manusia benar-benar merasa hidup. Selamat jalan, Sukma Ayu, "putri tidur" yang manis...(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 26 September 2004&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-8842884532131825511?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/8842884532131825511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=8842884532131825511' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/8842884532131825511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/8842884532131825511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/05/harapan-itu-tak-boleh-mati.html' title='Harapan Itu Tak Boleh Mati'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-8508989553206845128</id><published>2009-05-24T04:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T04:35:59.542-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human interest'/><title type='text'>Musik Hindi</title><content type='html'>Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARSELLI Sumarno, sineas Indonesia, di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta (TBS) akhir November 2002 lalu menceritakan suasana ruangan bioskop di Bombay, India, yang penuh sesak oleh orang-orang dari lapisan kota melarat itu. Mereka menonton film sambil berdiri di kursi, dan hampir selalu bersorak-sorak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Cerita itu, mengingatkan saya pada suasana di beberapa bioskop kelas rendah di Tegal dan Brebes, Jawa Tengah. Beberapa tahun lalu, menjelang Lebaran, saya dari Semarang pulang ke Brebes. Hari masih sore, ketika tiba di Tegal. Iseng menunggu malam, saya turun tak jauh dari sebuah bioskop, yang kala itu hendak memutar film India (saya lupa judulnya). Peristiwanya, jauh sebelum tayangan Bollywood menjadi menu di hampir semua televisi swasta.&lt;br /&gt;Hampir saja saya urung menonton film, saat melihat begitu panjangnya antrean di loket, persis seperti antrean pemudik di loket kereta api. Tapi saya kemudian berpikir, berdesak-desakan dengan para penonton adalah sebuah keisengan yang mengasyikkan. Maka, saya pun lalu membeli karcis.&lt;br /&gt;Gila! Ketika pintu gedung dibuka, saya terjepit di antara ratusan penonton. Kalau Anda pernah antre tiket untuk mudik dari Jakarta, Anda bisa membayangkan posisi saya saat itu. Bisa dibayangkan, ruangan yang hanya menyediakan kursi sekitar 300 buah itu, harus diisi sekitar 700 orang. Walaupun saat itu masih hari puasa, ruangan yang jadi sangat pengap itu tetap penuh oleh asap rokok.&lt;br /&gt;Begitu film dimulai, tak pernah ada keheningan. Apalagi ketika adegan berisi nyanyian khas film India, telinga saya pekak oleh koor para penonton. Saya terjepit di antara mereka, dan seolah-olah saya menjadi satu-satunya yang tidak terlibat dalam drama di luar layar film.&lt;br /&gt;Mengapa mereka bisa fasih menyanyikan lagu berbahasa Hindi itu? Ternyata, sebagian besar di antara mereka telah beberapa kali menonton film yang diputar tersebut.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KETIKA sudah sampai di kampung (di daerah Brebes), antusiasme menonton film India masih saya jumpai. Beberapa pedagang Warung Tegal (Warteg) yang mudik dari Jabotabek, sudah banyak yang punya VCD player. Dan, hampir selalu mereka menyetel film India yang berdurasi hingga tiga jam itu.&lt;br /&gt;Ketika saya bertanya pada beberapa pemilik rental CD, film Indialah yang terlaris. Hampir-hampir saya menyimpulkan untuk diri sendiri: betapa kampung saya sedang dilanda demam India.&lt;br /&gt;Lalu, sekitar dua bulan usai Lebaran tahun itu, saya masih iseng menonton film India pada sebuah bioskop kelas rendahan. Bahkan, saya sempat berpikir bahwa kursi rotan yang jadi tempat duduk di gedung bioskop tersebut penuh oleh kutu busuk. Saya lupa judul filmnya; tapi saya tak akan melupakan penonton yang sebagian besar berusia 11 hingga 15 tahun. Lagi-lagi saya menjadi satu-satunya orang yang disuguhi drama di luar film. Anak-anak itu fasih melakukan koor, sembari bertepuk tangan ketika layar bertebaran nyanyian lagu India.&lt;br /&gt;Kini, tayangan Bollywood hampir setiap hari bisa ditonton di televisi swasta. Bioskop-bioskop kelas rendahan yang sempat memberi saya drama di luar film itu pun, sebagian besar telah bangkrut. Saya kehilangan suasana koor penonton bersama para bintang film India. Tak ada lagi aura Hindi. Film yang ditonton dengan jeda iklan, tak mungkin lagi menciptakan ketertegunan berlebihan.&lt;br /&gt;Hanya saja, mengingat Marselli yang meratapi ketiadaan budaya perfilman kita, saya jadi geregetan: Kenapa kita tak pernah bisa memelihara penonton? Padahal, penonton yang antusias sebelum berbicara soal kualitas film yang ditonton, adalah sebuah potensi tersendiri. Walaupun di sisi sebaliknya, saya juga sering tidak mengerti: Mengapa film seperti Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho dilempari dengan botol-botol air mineral yang sudah kosong, ketika diputar di bioskop yang biasanya selalu mengucurkan koor pada saat memutar film India? Sungguh, saya tak mengerti.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERNIK&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 11 Desember 2002&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-8508989553206845128?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/8508989553206845128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=8508989553206845128' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/8508989553206845128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/8508989553206845128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/05/musik-hindi.html' title='Musik Hindi'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-7701872448642821449</id><published>2009-05-24T04:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T04:32:40.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human interest'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Column'/><title type='text'>Mari Membaca (Lagi)!</title><content type='html'>Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBUAH wacana seperti teks sastra, folklor atau epos, ada kalanya memang tak bisa ditafsir dengan sekali simak. Perlu pembacaan berulang-ulang (regresi). Itu kalau kita memang memburu tafsir baru.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tafsir baru atas sebuah teks, seringkali melahirkan teks yang ''sama sekali baru''. Baca, misalnya, Arok Dedes Pramoedja Ananta Tur. Sementara orang bilang, itu tafsir baru dari kisah Kitab Pararaton. Bahkan, dalam pengantar novelnya, dihubung-hubungkan kisah kudeta Arok pada Tunggul Ametung dengan kisah kudeta 1965.&lt;br /&gt;Untuk lebih memperkuat penafsirannya itu, Pram bahkan menolak penggunaan sebutan ''Ken'', yang sekian lama dimaknakan sebagai ksatria. Setahu saya, dari teks Pram itu, bahkan muncul lagi penafsiran barunya yang lebih menonjolkan wacana soal feminisme lewat sosok Dedes dalam lakon Arok Dedes karya Benny (teaterawan muda Semarang) yang pernah ditampilkan di Teater Arena TBS Solo, beberapa waktu silam.&lt;br /&gt;Apa menariknya penafsiran teks lama yang telah populer? Bolehlah itu ditanyakan pada Pram. Paling tidak, maestro sastra Indonesia itu telah menggubah beberapa karya sejenis Arok Dedes. Lakon Mangir dan cerita Calon Arang, misalnya.&lt;br /&gt;Paling menarik, tafsir Pram pada sosok Ki Gede Mangir. Pada Babad Tanah Jawi yang jadi pijakan lakonnya, Mangir dibunuh Sunan Amangkurat setelah kepalanya dihantamkan ke Watu Gilang. Pram mengubahnya menjadi lebih dramatis, tapi kurang horor: Mangir dibunuh dengan ditusuk keris.&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan, tafsir baru itu lebih mendekati aspek kultural kejawaannya. Toh, tafsir boleh beragam. Karya yang multiinterpretable sering disebut karya bagus.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;KESUKAAN memberikan tafsir baru atas teks lama, muncul pula dalam dua repertoar yang dipentaskan di Solo, dua pekan berselang. Teater Gidag-gidig Solo menggelar lakon Membaca Calon Arang; sebuah lakon gugatan (tafsir baru?) karya Hanindawan yang mencoba membayangkan sosok perempuan tukang sihir yang kejam sedang membaca kisah tentang dirinya.&lt;br /&gt;Repertoar satunya, berupa tari topeng garapan kolaborasi Mugiyo Kasido dengan beberapa koreografer lain berjudul Surat Shinta. Menariknya, repertoar itu menyuguhkan percakapan Walmiki -si penulis epos Ramayana yang menyimpan kisah mengenai Shinta itu- dengan perempuan yang sedang diragukan kesuciannya oleh suami.&lt;br /&gt;Paling pasti, sebuah tafsir baru selalu membutuhkan kajian intertekstual. Begitu banyak teks dari wilayah kultural dan era yang berbeda bisa begitu sama. Beberapa contoh bisa disebutkan. Kisah Uriah yang dikorbankan Daud demi mendapatkan Batsyeba dalam Perjanjian Lama, sangat mirip dengan kisah dari Bali Layonsari-Jayaprana. Romeo-Juliet yang banyak memberikan inspirasi dalam soal kesetiaan tak mati-mati, kenapakah pula muncul dalam kisah Bangsacara-Ragapadmi di Madura?&lt;br /&gt;Kalau diperluas, kenapa kisah persekasihan Dayang Sumbi dan Sangkuriang dalam Tangkuban Perahu hampir mirip Jocasta dan Oedipus? Lalu, apa hubungannya dengan kisah incest yang jadi babon pawukon antara Watugunung dan Shinta? Jadi, mari terjemahkan kata pertama Alquran Iqra dengan: bacalah, lagi dan lagi!(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERNIK&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 16 Oktober 2002&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-7701872448642821449?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/7701872448642821449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=7701872448642821449' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7701872448642821449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7701872448642821449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/05/mari-membaca-lagi.html' title='Mari Membaca (Lagi)!'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-6653837957527826375</id><published>2009-05-24T04:25:00.001-07:00</published><updated>2009-05-24T04:28:56.149-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human interest'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Column'/><title type='text'>Kepayon Kemanjon</title><content type='html'>''Kepayon-Kemanjon''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERNYATA, sebuah kesuksesan tak senantiasa membawa kegembiraan. Saya mencoba belajar kenyataan itu pada sosok Boy Tri Harjanto. Pelukis muda dari Solo itu, baru saja berpameran selama beberapa hari di The Japan Foundation Jakarta. Puluhan lukisan wayang bebernya, dibeber untuk publik Ibukota. Hasilnya, sungguh di luar dugaan: Tiga buah lukisannya terjual; masing-masing seharga di atas Rp 10 juta.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, di sela-sela kebanggaan Boy menceritakan soal kepayon itu, ada kabut menggayut di wajahnya. Apa pasal? ''Saya sungguh shock. Tak membayangkan sampai seperti itu. Ngerinya lagi, proses kreativitas saya seperti buntu. Seolah-olah saya tak punya kekuatan lagi untuk melukis,'' ujarnya lirih.&lt;br /&gt;Saya juga tak membayangkan dia akan berkata seperti itu. Dalam bayangan saya, dia akan bercerita dengan penuh kebanggaan, lalu bicara soal rencana pameran selanjutnya. Tapi tidak! Dia mengalami kebuntuan kreatif, momok terngeri bagi seniman. Dan yang pasti, itu bukan penyakit main-main.&lt;br /&gt;Bagi saya, Boy hanyalah sebuah kasus. Dia berkarya sekian lama; menyimpan karyanya, dan mengeluarkannya ketika ada kesempatan pameran. Di The Japan Foundation itu, adalah pamerannya yang kali pertama. Lalu, seperti mendapat pulung, karyanya laku dengan harga yang terbilang tinggi untuk pelukis pemula. Seolah-olah dia mendapat wahyu kepayon; namun ternyata dia belum siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BOY seolah-olah mengajarkan, seseorang butuh energi kesiapan yang besar untuk menerima kesuksesan. Pun, barangkali kalau dibalik, itu berlaku ketika seseorang menangguk kegagalan. Padahal, tidak semua pelukis muda bisa seperti Boy. Begitu banyak cerita mengenai sulitnya mendaki tangga sukses. Bahkan idiom yang kerap mengikuti diskursus itu, selalu berupa ''penuh onak-duri'', atau ''kerikil-kerikil tajam''.&lt;br /&gt;Tapi, ada juga kesuksesan yang diraup seperti permainan sulap. Simsalabim, sukses! Lebih sering memang, wahyu kepayon itu bersifat pilih kasih. Juga dalam soal pasar seni lukis. Begitu banyak pelukis muda yang memiliki obsesi bisa berpameran, dan ''paling tidak'' ada sebuah karyanya yang terjual. Ada juga pelukis -yang atas alasan kebutuhan ''biologis''- menjual karyanya dengan cara yang mirip pengasong. Disanding kasus seperti itu, Boy masih beruntung.&lt;br /&gt;Tapi, kasus Boy bukan soal kepayon semata. Ia bicara soal kreativitas yang tiba-tiba buntu, setelah masa kepayon itu. Ia merasa dirinya kemanjon (setengah matang-Red); dan itu selalu buruk untuk sebuah proses kreatif. Padahal, seorang seniman yang mengalami kebuntuan kreasi berarti harus siap-siap disebut telah mati.&lt;br /&gt;Pada kenyataan itu, bisa jadi ada banyak ''Boy'' lain. Tidak hanya di kalangan pelukis, barangkali; seniman atau status sosial lain pun bisa mengalaminya. Maka, pada mulanya adalah kesiapan menerima kesuksesan; juga kegagalan. Pasti, sindrom kepayon-kemanjon yang berujung kebuntuan kreativitas akan tersembuhkan.(41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PERNIK&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 4 September 2002&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-6653837957527826375?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/6653837957527826375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=6653837957527826375' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/6653837957527826375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/6653837957527826375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/05/kepayon-kemanjon.html' title='Kepayon Kemanjon'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-892473000016382017</id><published>2009-05-24T04:16:00.000-07:00</published><updated>2009-05-24T04:21:52.267-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human interest'/><title type='text'>Keberuntungan Pemula</title><content type='html'>&lt;i&gt;''Memang begitulah selalu,'' kata si orang tua. " Itu namanya hukum keberuntungan. Orang yang baru kali pertama main kartu hampir selalu menang. Keberuntungan pemula.''&lt;br /&gt;''Kenapa begitu?''&lt;br /&gt;''Sebab ada daya yang menghendaki engkau mewujudkan takdirmu; kau dibiarkan mencicipi sukses, untuk menambah semangatmu.''&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(&lt;b&gt;Sang Alkemis - Paulo Coelho&lt;/b&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SAYA&lt;/b&gt;  tidak tahu apakah Sir Alex Ferguson sudah membaca novel yang judul aslinya &lt;i&gt;O Alquimista&lt;/i&gt; itu atau belum ketika menurunkan Federico Macheda dalam pertandingan Manchester United (MU) versus Aston Villa, 5 April lalu. Saya juga tidak tahu apakah dia memercayai Hukum Keberuntungan atau tidak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, melawan klub dari Birmingham itu, Sir Alex kehabisan stok striker. Wayne Rooney terkena sanksi larangan bermain setelah mendapat kartu merah pada pertandingan Liga Primer sebelumnya melawan Fulham. Dimitar Berbatov cedera. Hanya ada Carlos Tevez; dia pun dikhawatirkan kelelahan setelah membela Argentina dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia zona Conmebol.&lt;br /&gt;Sementara Tevez bermain, di bangku cadangan ada dua nama striker: Danny Welbeck dan Federico ''Kiko'' Macheda dari tim cadangan. Di antara mereka berdua, baru kali itulah si Kiko dipanggil. Dan si pemula itulah yang mengubah hasil pertandingan lewat gol cantiknya semenit sebelum laga bubar. MU menang dan pecinta sepak bola mengelu-elukan nama Kiko sebagai kartu keberuntungan Sir Alex.&lt;br /&gt;Belum habis puja-puji itu, seminggu berikutnya Kiko bermain lagi melawan Sunderland pada menit ke-75. Belum ada semenit di lapangan, sentuhan defleksi kakinya dari tendangan Michael Carrick, dan itu sentuhan pertama, membuat bola meluncur ke sudut gawang. MU kembali menang karena gol itu. Saga mengenai keberuntungan kembali bergaung. Sampai-sampai Ricky Sbragia, pelatih Sunderland yang dikalahkan si anak 17 tahun itu bilang, ''Apa pun yang dia sentuh selalu berubah jadi emas.''&lt;br /&gt;Mungkin Kiko, si anak Roma itu, memang awatara alias titisan Raja Midas. Atau, jangan-jangan itu hanya sebuah keberuntungan pemula seperti yang diucapkan Melkisedek, si Raja Salem kepada Santiago, bocah penggembala domba, pada novel Coelho itu.&lt;br /&gt;Tapi Sir Alex seperti menafikan hal itu. ''Anak itu punya sesuatu yang spesial,'' ujarnya. Dia berpikir cepat selayaknya para pencetak gol lain. "Dia punya instink dan tak takut pada apa pun.''&lt;br /&gt;Barangkali benar Sir Alex bukan orang yang percaya pada Hukum Keberuntungan meskipun dalam sepak bola kadang hal itu terjadi. Buktinya, pada pertandingan perempat final Liga Champion di Stadion Dragao melawan Porto, Kiko yang ada di bangku cadangan tidak dimainkan. MU tetap menang lewat gol Cristiano Ronaldo.&lt;br /&gt;Dalam hidup, hitungan-hitungan rasional dan logis acap kali tak cukup. Kita masih sering berharap pada keberuntungan. Tentu saja, keberuntungan berbeda dengan ''untung-untungan'' yang &lt;i&gt;nothing to loose&lt;/i&gt; . Keberuntungan adalah terminal terakhir dari pengharapan seseorang.&lt;br /&gt;Ketika muncul banyak partai baru menjelang Pemilu (meskipun para pendirinya bukan orang baru di kancah politik), saya sering berpikir mereka hanya bersandar pada Hukum Keberuntungan. Syukur dapat suara bagus, kalau pun tidak, sudah beruntung ikut ramai-ramai berpartai dan berkampanye sekalian menghabiskan dana dari pemerintah atau donatur. Apakah Gerindra misalnya, benar-benar mengabaikan hukum itu mengingat pendirinya punya rekam jejak tak sedap? Apakah bukan keberuntungan pemula karena dalam perhitungan sementara, partai baru itu masuk 10 besar? Entahlah, tapi kita tahu, berapa duit keluar untuk pencitraan diri lewat iklan di televisi. Sama entahnya ketika lima tahun lalu Partai Demokrat yang pemula bisa melancarkan jalan pendirinya menjadi presiden. Apakah lima tahun lalu, SBY dinaungi keberuntungan pemula? Mungkin tak sesederhana itu.&lt;br /&gt;Tapi siapa pun sekarang, ''pelama'' atau pemula, kalau ingin jadi presiden, carilah Raja Melkisedek. Tanyakan bagaimana Hukum Keberuntungan itu bekerja. Saya yang tak pernah sekali pun berjumpa dengannya, juga dalam mimpi, sangat yakin, lelaki yang dalam Alkitab konon pernah bertemu Abraham atau Ibrahim itu tak selalu mau menjawab. Sebab, dia hanya datang kepada orang yang dia pilih untuk diajari bagaimana mau mengejar takdirnya dan tak melulu bersandar pada Hukum Keberuntungan.&lt;br /&gt;Kalau tak mungkin bertemu Melkisedek, belajar sajalah pada Santiago. Dia tak pernah berpikir soal keberuntungan, bahkan setelah dia tidur di dekat pohon sikamor pada sebuah puing gereja di Spanyol dan bermimpi soal harta karun di sebuah piramida di Mesir. Kita mungkin menertawakannya ketika dia mengejar impian itu dengan pergi menyeberang ke Afrika, berlarat-larat sebagai penjaga toko kristal, berada dalam karavan yang melintasi bentangan padang pasir, terjebak dalam perang antarsuku di gurun, dan saat sampai di piramida dia dirampok sembari ditertawakan. Salah seorang perampok itu mengatakan, ketika tidur di bawah piramida itu, dia bermimpi tentang harta karun di tempat dulu Santiago tidur.&lt;br /&gt;''Tapi aku bukan orang tolol. Aku tidak mau menyeberangi bentangan padang pasir hanya gara-gara mengalami mimpi berulang."&lt;br /&gt;Dan Santiago tahu, dia harus kembali ke pohon sikamor itu. Benarlah, di bawah akar-akarnya, ada sekotak besi berisi kepingan uang emas, batu mulia, dan topeng bertatahkan permata. Dan kita tahu, tanpa pergi ke piramida dengan segala perjuangan beratnya dan ditertawakan perampok, Santiago tak mungkin beroleh harta itu, dan kita tak bisa menyebut dirinya orang yang dinaungi keberuntungan.&lt;br /&gt;Kalau Melkisedek atau Santiago sulit juga ditemui, tonton saja film &lt;i&gt;Kungfu Panda&lt;/i&gt; . Tapi jangan terlalu banyak tertawa, nanti perut kita sakit dan kita lupa sesorah bahwa keberuntungan itu tak jatuh dari langit. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LATAR&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 19 April 2009&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-892473000016382017?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/892473000016382017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=892473000016382017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/892473000016382017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/892473000016382017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/05/keberuntungan-pemula-memang-begitulah.html' title='Keberuntungan Pemula'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-4473814675679996275</id><published>2009-03-15T11:29:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T11:33:04.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Healthy Life'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human interest'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kid'/><title type='text'>Mendadak Pesohor</title><content type='html'>Kita barangkali sering mendengar wejangan begini: "Untuk jadi terkenal itu tak mudah. Harus berjuang superkeras. Harus belajar supergiat. Harus prihatin tak henti-henti. Harus tawakal, juga istiqomah. Harus teruji di Kawah Candradimuka" Hmm, rumit sekali. Begitu banyak rumus yang bikin kening berkerut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Memang untuk ternama, Einstein saja harus bertahun-tahun tersuruk di kamar sempitnya di Berne, Swiss, membikin pelbagai rumus sebelum menemukan Teori Relativitas. Siddharta juga begitu. Untuk menemukan ''Om'', suatu kesempurnaan rohaniah, dia harus melewati kegelisahan panjang ketika hidupnya melulu pada jalan pemuasan nafsu ragawi. Dia berasyik-masyuk dengan Kamala yang cantik, berbinis kotor, atau berjudi. Setelah melewati periode buruk itu, dia lalu dikenal sebagai Sang Buddha Gautama. Dalam kisah pewayangan, ada Wisanggeni. Untuk bisa sangat sakti, bahkan Batara Guru pun tak bisa mengalahkannya, putra Arjuna dan Dersanala itu harus dilempar ke Kawah Candradimuka oleh Semar.&lt;br /&gt;Anda bisa membuat senarai yang panjang untuk tokoh-tokoh ternama yang harus berjuang panjang sebelum orang membaiatnya sebagai si pesohor.&lt;br /&gt;Tak adakah jalan pintas untuk jadi pesohor? Tak bisakah dengan sedikit keberuntungan seseorang sontak menjelma sosok ternama? Atau sebenarnya popularitas itu rahasia ilahi?&lt;br /&gt;Mari kita lihat Ponari. Sebelum tersiar kabar bahwa orang rela antre, berderet-berdesakan (sampai ada yang menemu maut) untuk mencucup air bekas celupan batunya, dia hanya anak lugu dari Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, sama seperti jutaan anak lainnya.&lt;br /&gt;Namun dia ''mendadak pesohor''. Tak hanya kalangan bawah, para pejabat tinggi negeri kita pun urun komentar, juga keheranan. Saking terkenalnya, juga karena bermedium air, banyak situs internet memunculkan nama ''Ponari Sweat'' yang beranalog pada satu merek minuman penambah ion tubuh.&lt;br /&gt;Tapi pesohor yang ini unik. Dia tak perlu tampil dengan sikap jumawa. Mukanya pun selalu lugu. Sama sekali tak membersitkan kecemasan apakah air yang sudah tercelup batunya bakal jadi tuah penyembuh si sakit atau malah jadi penyebab sakit perut. Dia asyik saja dalam gendongan sembari main-main ponsel. Dia bahkan tak mau memandang muka ''pasiennya'' yang bermuka mengiba. Dia tak secemas Elia ketika dituntut kaumnya membuktikan kenabian di Gunung Karmel lewat mezbah-mezbah bakaran. Untungnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dik Popon&lt;/span&gt; itu tak menahbiskan diri sebagai nabi atau wali.&lt;br /&gt;Saya tak tahu dan tak mencemaskan apakah popularitas mendadak Ponari itu sebuah keberuntungan atau jadi bagian rahasia ilahi. Tersambar petir dan tak mati bahkan tak secuil pun bagian tubuhnya gosong, itu mungkin sebuah keberuntungan. Dia tak perlu berlatih goyang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngebor&lt;/span&gt; bertahun-tahun seperti Inul, atau kaya raya dan cari-cari perhatian dengan mengawini gadis di bawah umur, pamer tumpukan uang dan mobil mewah seperti Syeh (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dari mana gelar kharismatis ini?&lt;/span&gt;) Puji. Dia juga tentu berbeda dari Mpok Nori atau Ponaryo Astaman untuk kondang. Cukup tersambar petir, dapat batu, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hopla&lt;/span&gt;... dunia membicarakannya.&lt;br /&gt;Tapi kenapa harus Ponari, kenapa bukan si Budi Kecil penjaja koran atau si Sakerah kecil yang tekun mengaji? Itu mungkin rahasia Tuhan.&lt;br /&gt;Yang saya cemaskan adalah anak-anak kita yang menyimak berita tentang Ponari. Kemendadakan jadi pesohor tanpa melakukan apa-apa selain (konon) tersambar petir bisa saja ditangkap anak-anak kita dengan persepsi lugu mereka: untuk terkenal cukup dengan menunggu keberuntungan. Untuk dielu-elukan dan jadi ''kaya mendadak''  itu tak perlu berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.&lt;br /&gt;Kecemasan saya ini bolehlah disebut kenaifan. Tapi bagaimana bila pelan-pelan Ponari menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;role-model&lt;/span&gt; anak-anak kita? Dia bukan Gundala si Putra Petir atau Flash Gordon. Dia bukan Superman atau Cinderella. Dia bukan Ical atau Lintang ciptaan Andrea Hirata. Dia bukan Harry Potter atau Barbie.&lt;br /&gt;Mereka semua fiktif. Ketika anak-anak kita sudah cukup umur, mereka bakal paham, semua nama itu sosok tak nyata yang lahir dari proses imajinasi.&lt;br /&gt;Tapi Ponari itu nyata. Dia berdarah dan berdaging, dan bisa digendong-gendong. Di televisi atau pada foto di koran dan majalah, dia hadir dengan kesan bahwa semua orang menyayanginya. Anak mana yang tak ingin disayang-sayang?&lt;br /&gt;Dulu kalau Ria Enes bertanya mau jadi apa Susan kalau besar, si boneka centil itu bilang, ''Mau jadi dokter, Kak Ria.'' Bagaimana bila dengan pertanyaan sama, anak kita mantap menjawab, "Seperti Ponari.'' Apalagi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dik Popon&lt;/span&gt; memang mirip dokter tanpa harus bertahun-tahun berkuliah kedokteran yang mahalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;naudzubillah&lt;/span&gt; itu. Dan jarang ada dokter yang cepat terkenal kecuali menjadi ''dokter aborsi'' yang diciduk polisi. Lebih-lebih lagi, hanya dengan mencelupkan batu, puluhan juta rupiah mengalir, sehingga datang ke Monas yang barangkali tadinya semata impian bagi Ponari Kecil, kini tinggal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;alakazam&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the dream comes true&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Kalau seperti itu, punyakah kita jawaban kalau anak kita bertanya soal kesuksesan? Itu kalau popularitas berbanding lurus dengan kesuksesan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LATAR&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 15 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-4473814675679996275?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/4473814675679996275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=4473814675679996275' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/4473814675679996275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/4473814675679996275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/03/mendadak-pesohor.html' title='Mendadak Pesohor'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-8524407916341328102</id><published>2009-02-07T15:37:00.001-08:00</published><updated>2009-02-07T15:59:15.294-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Traditional Dance'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art'/><title type='text'>Bedhaya Sanga Menarikan Kehidupan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4e295hbrI/AAAAAAAAAHA/iRr5_uFMdCs/s1600-h/sanga18.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 250px; height: 161px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4e295hbrI/AAAAAAAAAHA/iRr5_uFMdCs/s320/sanga18.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300207741139250866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin menyimak perjalanan hidup manusia dari lahir hingga ajal menjemput, duduk sajalah selama sekitar satu jam dan saksikan gerakan-gerakan ritmis sebuah tari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt;. Agak terdengar bombastis, memang. Kehidupan yang panjang dan kompleks rasanya musykil hanya didedah dalam sebuah karya koreografi. Tapi begitulah muatan nilai yang diinginkan Yoyok B Priyambodo dari Sanggar Greget Semarang dalam ''Bedhaya Sanga'' di TBRS, Sabtu (31/01/2009) malam.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tarian dibuka oleh gerakan dua penari, laki-laki dan perempuan (Yoyok B Priyambodo dan Suprapti) di atas punggung beberapa penari laki-laki yang membentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tableau&lt;/span&gt;. Tarian mengalir menciptakan beberapa konfigurasi hingga muncul para penari perempuan dari belakang penonton yang membawa obor, beberapa konfigurasi lagi hingga purna dengan konfigurasi yang mirip dengan pembuka tarian.&lt;br /&gt;Secara koreografis, "Bedhaya Sanga" adalah tarian terstruktur dan tartil. Maklum, ia terbentuk dari sembilan komposisi tari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; yang secara berurutan membangun rangkaian kisah mengenai perjalanan hidup manusia. Kesembilan komposisi itu adalah Bedhaya Mijil, Dandanggula, Ketawang, Ladrang, Sampak, Asmaradana, Pangkur, Sekati, dan Kinanti. Yoyok bilang, masing-masing &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; tersebut merupakan komposisi utuh yang telah dia ciptakan terlebih dahulu dan rencananya bakal dipentaskan berkeliling di beberapa kota di Jateng.&lt;br /&gt;Meski begitu, "Bedhaya Sanga" tetaplah sebagai koreografi utuh. Dengan analogi sederhana, kalau "Bedhaya Sanga" itu sebuah rumah, maka struktur pembangunnya seperti atap, genting, jendela, pintu, dan sebagainya itu terjumpai pada kesembilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; pembentuknya. Apalagi memang apa yang ditampilkan di TBRS itu memiliki tema tunggal. Yakni, ''bagaimana seseorang mesti mengelola sembilan lubang yang menjadi simbol hawa nafsu agar hidupnya sempurna".&lt;br /&gt;Begitu pula, kata ''Sanga" dalam tajuk, selain merujuk pada konsep ''&lt;span style="font-style: italic;"&gt;babahan hawa sanga&lt;/span&gt;", ia juga mengunjuk pada jumlah komposisi yang membangun tarian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; tersebut. Apalagi Yoyok cukup cerdik melakukan strukturisasi koreografinya secara tartil alias berurutan. Untuk mendedahkan konsep utama, dia berpijak pada gagasan mengenai tahap-tahap perjalanan kehidupan manusia. Kalau diringkas, struktur tematisnya seperti ini: manusia lahir (Mijil), hidup dalam pengasuhan orang tua (Dandanggula), menginjak masa remaja dan mulai 'membaca' dunia (Ketawang), mencari jati diri (Ladrang), bertemu dengan persoalan hidup (Sampak), merasakan cinta pada lawan jenis dan membuhulkannya dalam perkawinan (Asmaradana), menanggung beban kewajiban sebagai orang tua (Pangkur), terdorong kehendak memuliakan diri dan keluarganya (Sekati), dan menuju kematian dalam kepasrahan terhadap Tuhan (Kinanti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MEMBENTUK&lt;/span&gt; suatu tarian dari banyak komposisi tari yang notabene telah purna sebagai karya tidaklah selalu mudah. Transisi dari satu komposisi ke komposisi berikutnya bisa saja terjebak pada kerusakan alur atau ritme tarian. Bagaimana Yoyok mengatasi jebakan transisional itu?&lt;br /&gt;''Saya bersandar pada irama. 'Bedhaya Sanga' ini memiliki alur yang mengalir. Saya mengikuti itu. Karya ini terbentuk dari sembilan komposisi utuh. Kalau semuanya utuh ditampilkan, durasinya bisa  sangat lama. Maka saya ambil gerakan yang representatif saja dan menjalinnya dengan transisi yang tetap ritmis,'' jelasnya.&lt;br /&gt;Yang menarik dicermati adalah kemiripan pola konfigurasi tarian Bedhaya Mijil dengan Bedhaya Kinanti. Mengapa? ''Hidup itu sebuah siklus, juga bersifat dialektis. Kelahiran itu berujung pada kematian, dan selanjutnya muncullah kelahiran baru,'' ujar Yoyok, filosofis.&lt;br /&gt;Tapi memang benar, pada Mijil yang ditarikan dua penari lelaki dan perempuan (Yoyok B Priyambodo dan Suprapti) memainkan gerakan tarian yang pelan-ritmis di atas punggu&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4dT_q2NOI/AAAAAAAAAG4/AKy7K-Vp7aE/s1600-h/sanga17.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4dT_q2NOI/AAAAAAAAAG4/AKy7K-Vp7aE/s320/sanga17.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300206040807519458" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ng beberapa penari laki-laki. Bedanya, Mijil menguarkan (sedikit) keriangan, sementara Kinanti lebih bernuansa tintrim dan khusuk karena memang memuat pesan ''manembah'' atau berserah diri pada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bedhaya&lt;/span&gt;, seperti sudah kita kenal, adalah tarian sakral atau disakralkan. Beberapa jenisnya bahkan hanya boleh ditarikan pada tempat dan momentum khusus. Sebut saja ''Bedahaya Ketawang'' yang melengkapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;jumenengan ratu&lt;/span&gt; di Keraton Surakarta Hadiningrat, dan ''Bedhaya Semang'' di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Apakah bila tarian ''sakral" itu digelar tidak pada tempat dan momentum khusus, lantas memuai kesakralannya?&lt;br /&gt;Tak bisa disimpulkan seperti itu. Sebelum ''Bedhaya Sanga'', sudah banyak penari yang menciptakan beragam varian &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt;. Dan semangat kesakralan itu masih jadi sandaran kreasi Yoyok yang ini. Kesakralan itu tentu tak secara wantah dimunculkan lewat peranti pertunjukan seperti sebaran kelopak mawar merah di antero panggung, aroma setanggi, atau sembilan anyaman janur kuning pada dua sisi panggung seperti pada ''Bedhaya Sanga''. Muatan filosofis dan gerakan-gerakan simbolis pada tarian itu secara tak langsung menciptakan kesakralan tertentu.&lt;br /&gt;Yoyok juga setia pada jumlah penari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; yang (selalu) sembilan. Perlu diketahui, pada awalnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; ditarikan tujuh penari perempuan sebelum menjadi sembilan. Adanya sembilan penari laki-laki juga bukan sesuatu yang ahistoris. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bedhaya&lt;/span&gt; pada perkembangannya juga menciptakan varian tari yang dilakukan sembilan laki-laki atau disebut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bedhaya Kakung&lt;/span&gt;. Ini bukti lain kesetiaan Yoyok. Bedanya, dia menggabungkan penari perempuan dan laki-laki dalam satu koreografi.&lt;br /&gt;Meski begitu, Yoyok menciptakan pola-pola lain yang bersifat ''mendobrak'' kesakralan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt;. Misalnya tak mungkin penari menari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; di atas punggung penari lain. Alasanya, ''Saya ingin bicara soal harmoni dalam kehidupan. Penari yang punggungnya jadi pijakan itu semata sebagai simbol bumi. Kalau Anda cermat, beberapa konfigurasi gerakan mereka menyimbolkan gerak alam seperti ombak, angin, dan sebagainya."&lt;br /&gt;Dobrakan lainnya pada busana penari yang bernuansa pesisiran dan tergerainya rambut penari perempuan. Kata Yoyok, umumnya penari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bedhaya&lt;/span&gt; menyanggul rambutnya.&lt;br /&gt;Di luar itu, bisa disimpulkan bahwa ''Bedhaya Sanga'' itu menarikan kehidupan. Tapi dengan muatan filosofis yang lumayan berat itu, Anda tak perlu mengerutkan kening ketika menyaksikannya. Cukup duduk dan nikmati sajalah, dan setelah pulang, syukur-syukur Anda mulai memikirkan muatan nilai apa yang telah dibabar tarian itu. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Suara Merdeka, 8 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; &lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-8524407916341328102?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/8524407916341328102/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=8524407916341328102' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/8524407916341328102'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/8524407916341328102'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/02/bedhaya-sanga-menarikan-kehidupan.html' title='Bedhaya Sanga Menarikan Kehidupan'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4e295hbrI/AAAAAAAAAHA/iRr5_uFMdCs/s72-c/sanga18.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-3362765077127173958</id><published>2009-02-07T14:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T15:01:08.984-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Traditional Dance'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art'/><title type='text'>Tari Tradisional Gak Ada Matinya...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4OUPu8HfI/AAAAAAAAAGg/Ajtt-5hOgFg/s1600-h/dhenok2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 250px; height: 188px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4OUPu8HfI/AAAAAAAAAGg/Ajtt-5hOgFg/s320/dhenok2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300189552445234674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agnes Monica sedang beraksi di panggung dalam tayangan langsung televisi. Di belakangnya, beberapa penari riang berjingkrak dalam gerakan rampak. Maklum, lagu lantunan Agnes berirama pop R 'n B yang lumayan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngebeat&lt;/span&gt;. Ketika itu, bagaimana sekiranya yang jadi pengiring Agnes itu para penari tradisional?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;''&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nggak&lt;/span&gt; mungkin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;banget lah ya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;w&lt;/span&gt;.'' Mungkin itu jawaban Anda. Sebab, jarang atau bahkan tak pernah kita melihat di televisi, aksi penyanyi disertai tarian tradisional, khususnya dari Jawa. Kalau penari berkostum daerah tanpa menarikan satu jenis tari tradisional barangkali beberapa kali pernah kita lihat. Dan karena selama beberapa jam dalam sehari kita tak pernah lepas dari televisi, juga kerapnya tayangan serupa itu, jangan-jangan kita lalu beranggapan bahwa yang disebut tarian ya seperti yang kita kerap lihat itu. Jangan-jangan anak-anak&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; malah tak tahu bahwa kita memiliki kekayaan tarian tradisional yang dahsyat, apalagi setelah ekstrakurikuler di sekolah (yang di dalamnya sesekali bermateri tarian tradisional) dihapus.&lt;br /&gt;Ah, baiknya tak perlu mengukuhi pengandaian yang menyedihkan seperti itu. Bagaimana bila pertanyaan di akhir alinea pertama tulisan ini kita balik? Ya, bagaimana seandainya aksi penari tradisional diiringi musik dan lagu Agnes Monica, bukan gamelan? Bisa saja, malah kalau ''beruntung'', kreasinya bi&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;sa dianggap tarian kontemporer berbasis tradisi.&lt;br /&gt;Tapi setidaknya itu pernah dilakukan Sri Paminto, pelatih tari yang mengajarkan tarian tradisonal Jawa sejak tahun 1994. ''Suatu ketika anak-anak yang saya latih seperti tak bersemangat. Di tengah-tengah latihan, ada anak yang minta saya mengganti iringan gamelan dengan musik pop. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lhadalah&lt;/span&gt;, apa pula ini? Tapi akhirnya saya penuhi dengan pertimbangan itu sebagai pemancing agar mereka kembali bersemangat. Katakanlah sebagai pemanasan sebelum latihan yang seb&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;enarnya.''&lt;br /&gt;Paminto menjumpai beberapa alasan anak-anak dan remaja kurang meminati tari tradisional. Tarian itu dianggap jadul, mati gaya, dan sama sekali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggak ngetren&lt;/span&gt;. Ia dianggap tak sememikat tarian modern, sebut saja disko atau tarian seksi. Yang laki-laki dihinggapi kekhawatiran bakal dianggap wandu alias banci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TAPI&lt;/span&gt; benarkah anak-anak dan remaja kita tak berminat pada tarian tradisional? ''Tidak,'' jawab Bambang Priyambodo alias Yoyok, koreografer, pen&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ari, dan pemilik Sanggar Greget di Jl Pamularsih, Semarang.&lt;br /&gt;Sejak sanggar itu masih bernama Kusuma Budaya yang dikelola Soedibyo dan Sri Susanti (orang tua Yoyok), lalu malih nama jadi Geget Wilang pada tahun 1982, dan berubah lagi menjadi Greget pada tahun 1992, ia tak pernah kekurangan siswa yang berlatih tari. Apalagi ketika materi pelatihan tak sebatas tarian, tapi juga karawitan, pedalangan, dan koreografi, minat anak-anak dari usia TK hingga anak kuliahan semakin besar.&lt;br /&gt;''Saya pikir, anak-anak dan remaja tak kehilangan minat terhadap kesenian tradisional. Bahkan, ada antusiasme yang besar pada diri mereka, misalnya untuk bisa menari tradisional. Yang terpenting bagaimana sebuah sanggar mengelola proses pembelajarannya,'&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;' tutur Yoyok.&lt;br /&gt;Dia memang mengelola sang&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;garnya sangat mirip sekolah formal dengan sistem pembelajaran dan kurikulum yang terpola, lengkap dengan ujian per semester dan pemberian rapor. Siswa dibagi ke dalam kelas-kelas sesuai usia. Kelas anak-anak terdiri atas kelas pemula A dan B (B1 dan B2) untuk anak usia TK hingga kelas 2 SD, dan kelas untuk anak usia kelas 3-6 SD yang dianggap lulus bila telah menempuh 6 semester. Kelas dewasa dimulai usia SMP dengan masa studi 8 semester. Dengan pola seperti itu, setiap tahun rata-rata Greget memiliki sekitar 150 siswa yang dididik oleh 15 guru dan 5 dosen terbang yang sebagian besar para penari dan dosen STSI Surakarta antara lain S Pamardi SKar Mhum, Saryuni SKar MHum, dan pena&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ri Jarot B Darsono.&lt;br /&gt;Tentu saja bukan pekerjaan gampang membuat siswa bertahan menempuh pembelajaran hingga purna. Hanya belajar dan berlatih saja sangat mungkin menjadikan siswa bosan. Mereka harus selalu dimotivasi terus-menerus. Salah satunya dengan cara mengajak mer&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;eka pentas di luar sanggar, sekaligus sebagai uji kemampuan mereka. Untuk hal ini, sudah tak terbilang Yoyok membawa siswanya pentas di berbagai tempat. Tak hanya di Indonesia, mengajak mereka unjuk kebolehan menari di mancanegara pun telah berkali-kali dilakukan, sebut saja ke Malaysia, Singapura, dan Jepang.&lt;br /&gt;Minat yang bagus di kalangan anak-anak dan remaja untuk berlatih tari tradisional juga diungkapkan Wiyatno, pendiri dan ketua sanggar Yasa Budaya di Semarang. ''Luar biasa sebenarnya minat masyarakat terhadap tari tradisional. Sayangnya, kegiatan di sanggar-sanggar tari kurang diekpose media,'' ujarnya.&lt;br /&gt;Dia bilang, banyak orang tua yang ingin memenuhi keinginan anaknya berlatih tari kesulitan mencari alamat sanggar. ''Yang jelas, setelah ekstrakurikuler dihapus di sekolah, sanggar-sanggar tari bakal menjadi alternatif mereka yang berminat.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KALAU&lt;/span&gt; di Semarang, ada antusiasme besar terha&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;dap tari tradisional, bagaimana di Solo yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kaloka&lt;/span&gt; sebagai pusat kebudayaan Jawa? Bolehlah, pengandaian menyedihkan pada awal tulisan ini kita abaikan kalau kita menyigi dinamika pelatihan tari tradisional di kota itu, yang bisa diperikan dengan ungkapan ''gak ada matinya.''&lt;br /&gt;Dengar saja informasi dari Gembong Hadiwibowo, staf Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Surakarta. ''Yang tercatat di kantor kami, khusus untuk sanggar tari ada 12 sanggar. Namun di luar yang terdaftar ini, sebenarnya masih ada lagi sanggar lain yang juga tumbuh dengan baik.''&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kalau di kota itu ada 6 k&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;ecamatan, bisa disimpulkan masing-masing punya dua sanggar tari. Kalau dengan yang belum dicatat, tambah Gembong, jumlahnya pasti lebih banyak dari itu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di Pura Mangkunegaran, misalnya, ada dua sanggar, yaitu Suryasumirat dan Kinaryo Suryasumirat Pura Mangkunegaran. Tak jauh dari Mangkunegaran, di sekitar Sriwedari, ada dua sanggar tari lagi: Pusat Olah Seni (POS) Semarak Candrakirana dan Meta Budaya di Pendapa Joglo Sriwedari. Meski jaraknya hanya terpisah sekitar puluhan meter, menariknya kedua sanggar tersebut sama-sama memiliki siswa yang lumayan banyak.&lt;br /&gt;Agak ke barat lagi, ada sanggar Arena Langen Budaya di kawasan Jalan Transito, Pajang, Laweyan. Lalu ke timur, tepatnya di balai Kelurahan Serengan terdapat sanggar Sarwi Retno Budaya. Masih terus ke timur, di kawasan Baluwarti Keraton Surakarta ada sanggar Peni Budaya, kemudian Ekasanti Budaya di Hotel Sahid, sanggar Pucangarum di Pucangsawit Jebres, Sarotama di TBJT Surakarta dan masih ada lagi sanggar Padmasusastra dan Pagutri.&lt;br /&gt;Berapa jumlah peminatnya?&lt;br /&gt;''Sekarang jumlah anak yang bergabung di sanggar kami ada sekitar 300-an. Jumlahnya selalu dalam kisaran itu. Sebab meski ada yang sudah lulus dan keluar, tapi kemudian selalu ada generasi penggantinya,'' ujar Esti, Humas Sanggar Suryasumirat.&lt;br /&gt;Tentu itu bukan jumlah yang sedikit dan itu saja baru dari satu sanggar. Jadi bisa, dibayangkan berapa anak-anak yang bergabung di sanggar tari di Kota Solo yang jumlahnya lebih dari 12. Yang pasti, keberadaan sanggar-sanggar tari itu memiliki arti yang sangat penting bagi Solo.&lt;br /&gt;''Paling tidak, aktivitas di sanggar-sanggar itu ikut menyokong sebutan Solo sebagai Kota Budaya,'' ujar Wahyu Santosa Prabowo, pengamat budaya dari ISI Surakarta.&lt;br /&gt;Jadi, boleh saja dominasi ''pembelajaran oleh televisi'' dan media lain, khususnya dalam hal tarian, seolah-olah mengalpakan ingatan terhadap orang tari tradisional, dinamika pelatihan tari jenis itu tetap hidup. Ya, tari tradisional ''gak ada matinya'' kalau masih ada orang yang peduli. Tentu tak cuma para pemilik sanggar, pemerintah dan masyarakat seyogianya ''malu'' kalau tak ikut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nguri-uri&lt;/span&gt;. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;Menari Itu Menyehatkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BISAKAH&lt;/span&gt; keterampilan menari tradisional untuk penghidupan? Coba saja bandingkan setidaknya dengan latihan tari seksi. Penarinya punya sebutan memesona: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sexy dancer&lt;/span&gt;, yang gaul dan diminati dalam acara-acara khas anak muda, entah di kafe atau sebagai pengiring penyanyi top.&lt;br /&gt;Orang yang bertahun-tahun mengelola atau melatih tari tradisional seperti Bambang Priyambodo, Wiyatno, atau Sri Paminto pun tak bisa menjawab dengan yakin ketika ditanya seperti itu.&lt;br /&gt;''Sering saya ditanya begitu. Ya, untuk apa? Saya hanya bisa bilang, 'kalau terampil &lt;span style="font-style: italic;"&gt;njoget&lt;/span&gt;, kamu bisa ikut lomba lalu berprestasi. Prestasi itu membanggakan dan kalau kamu menggeluti bidang lain, kamu punya kelebihan berbeda dari orang lain','' cerita Paminto.&lt;br /&gt;''Banyak orang tua sebelum mendaftarkan anaknya ke sanggar sering menanyakan manfaat latihan nari. Menurut saya, menari itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tamba&lt;/span&gt; (obat) stres, juga penyaluran hobi. Dulu ada orang tua yang tadinya tak setuju anaknya ikut latihan nari. Tapi si anak sangat berminat, dan setelah berjalan lama si orang tua itu mengakui telah salah menilai. Dia merasa anaknya jadi punya sikap yang bagus setelah ikut menari,'' ujar Wiyatno.&lt;br /&gt;''Benar, secara formal tak ada pekerjaan yang bisa diperoleh dari keteram&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4PAi8Jg5I/AAAAAAAAAGw/Q2D39niKArY/s1600-h/yaiksemarangan.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 250px; height: 197px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4PAi8Jg5I/AAAAAAAAAGw/Q2D39niKArY/s320/yaiksemarangan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300190313515156370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;pilan menari. Latihan menari di sanggar jelas beda dengan lulusan sekolah atau akademi tari yang selulusnya bisa jadi guru tari. Meski begitu, seseorang tetap berolah manfaat yang besar dari latihan menari. Kalau tidak jadi sumber penghidupan utama, ia bisa jadi sumber sampingan,'' kata Bambang Priyambodo alias Yoyok.&lt;br /&gt;Dia mencontohkan siswa-siswa lulusan sanggarnya yang sekarang menjadi pelatih di sekolah-sekolah. Beberapa dari mereka bahkan mendirikan sanggar sendiri. ''Ada yang membuka sanggar di Semarang, Magelang, Demak, dan Cilacap. Jelas, mereka bisa hidup dari keterampilan menari. Dalam proses pembelajaran di sanggar kami, saya selalu menekankan pada siswa-siswa bahwa setelah lulus mereka punya keterampilan yang bisa didayagunakan.''&lt;br /&gt;Hanya saja, tambah Yoyok, seyogianya latihan menari tak melulu dimotivasi oleh keterampilan yang nantinya bisa dijadikan pekerjaan. Ada yang lebih dari itu. Yakni, kesadaran dan kepekaan spiritual, juga olah budi pekerti.&lt;br /&gt;''Saya tak hanya mengajar tari, tapi juga moralitas. Bahkan hal itu yang lebih kami tekankan di sanggar. Sebuah tarian diajarkan tak melulu gerakan-gerakan tubuh semata. Tarian juga mengajarkan nilai-nilai. Dengan bahasa sederhana yang bisa ditangkap siswa, dalam proses pembelajaran, kami mentransfer nilai-nilai itu. Bahkan, menari buat saya adalah terapi kenakalan bagi anak-anak.''&lt;br /&gt;Terapi kenakalan? ''Contoh kecil, seorang anak yang tak punya aktivitas bisa saja menganggu teman-temannya. Coba ajari saja dia gerakan-gerakan sederhana dari tari tradisional. Pasti yang tadinya banyak tingkah, bisa berubah. Apalagi sebenarnya menari itu menyehatkan. Latihan menari itu olah tubuh, juga olah jiwa, dan itu seperti olahraga, bukan?''&lt;br /&gt;Jadi, dengan menari tradisional, kita bisa sehat badaniah dan rohaniah. Itu karunia tak main-main, syukur-syukur bisa hidup darinya. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Kontributor bahan: Wisnu Kisawa&lt;br /&gt;Foto-foto: Saroni Asikin&lt;br /&gt;Suara Merdeka, 11 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; &lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-3362765077127173958?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/3362765077127173958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=3362765077127173958' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/3362765077127173958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/3362765077127173958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/02/tari-tradisional-gak-ada-matinya.html' title='Tari Tradisional Gak Ada Matinya...'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SY4OUPu8HfI/AAAAAAAAAGg/Ajtt-5hOgFg/s72-c/dhenok2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-1179673446592678919</id><published>2009-02-07T14:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T15:21:31.050-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Spirituality'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religion'/><title type='text'>Spiritualitas Ya,  Agama Ya</title><content type='html'>Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, fenomena pencarian spiritualitas baru kembali bergaung. Ada yang berinduk pada ajaran suatu agama, tapi ada pula yang menganut paham universalisme. Yang pertama misalnya Tarikat Naqsabandi Haqqani Rabbani, dan yang kedua Anand Ashram. Ada pula yang ekstrem menganut ajaran filsafat perenialisme yang berkehendak menggabungkan semua agama dan melebur agama formal yang ada seperti dilakukan Lia Eden.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu baru beberapa kelompok. Lainnya, banyak sekali. Tapi apa sebenarnya yang mereka cari? Tak cukupkah seseorang menganut suatu agama tertentu, menjalaninya dengan kukuh, dan terayomi, tercerahkan serta terpuaskan dahaga spiritualitasnya?&lt;br /&gt;Norma Harsono (56), sejak lama mengikuti jalan para filsuf yang suka mencari kebenaran mengenai banyak hal. Dia juga mendalami ilmu keagamaan lewat banyak cara. Hidupnya tenang, tenteram, dan damai. Namun Kerusuhan Mei 1998 di Jakarta membuat kehidupannya yang adem ayem itu rusak. Dia yang tinggal di Kampung Rambutan, Jakarta Timur itu jadi terdera kecemasan dan kegelisahan yang serius.&lt;br /&gt;''Setiap saat saya selalu merasa ketakutan. Saya tak mau terus-menerus seperti itu. Saya cari cara untuk mengatasinya. Lalu saya belajar meditasi di Anand Ashram. Setelah beberapa saat, saya sudah bisa mengatasi rasa takut itu. Hidup saya kembali tenang,'' ujarnya ketika dihubungi lewat telepon.&lt;br /&gt;Hampir 11 tahun dia aktif menjalani semua program di tempat yang dipimpin oleh Anand Krishna itu. Dahaga spiritualitas dan yang lebih penting kenyamanan psikologisnya terpenuhi. Saat ditanya apakah keterlibatannya di Anand Ashram mengganggu keyakinan dan peribadatan agama yang dia anut, tegas dia menyangkal, ''Oh tidak. Saya Islam, dan saya merasa jadi lebih baik dalam beribadat. Itu karena hati saya merasa tenteram dan damai setelah menerima ajaran spiritualitas di Anand. Bagaimana bisa tenang beribadat kalau hati kita selalu gundah?''&lt;br /&gt;Saya singgung pula soal kecenderungan ''percampuran beberapa ajaran agama'' dalam aktivitas panduan Anand Krishna. Saya bilang, suatu ketika saya datang ketika Anand memandu kegiatan Tari Sufi Mehfil di Semarang. Doa yang lelaki itu ucapkan berasal dari beberapa agama.&lt;br /&gt;''Tidak mungkin itu, Mas,'' sergah Norma, ''Kalau dibilang aktivitas kami mencampurkan ajaran beberapa agama, itu reaksi orang yang paranoid terhadap kami. Tidak mungkin misalnya saya berdoa 'Salam Maria'. Dan Pak Anand tak pernah mencampuri urusan ritual agama anggotanya.''&lt;br /&gt;Gede Merada, lelaki Bali beragama Hindu dan aktif di Anand Ashram sejak 1997, juga berpendapat serupa. ''Pencerahan spiritualitas di sana (Anand Ashram) jadi memperkuat keimanan kami masing-masing. Saya tak hanya bisa menghargai pemeluk lain, tapi bahkan bisa mengapresiasinya. Saya jadi tahu misalnya mengapa orang Islam melakukan ritual peribadatan tertentu sesuai keyakinannya. Jadi, keliru kalau disebut ada percampuran agama. Yang ada, kami diminta menjalankan agama yang kami anut dengan benar,'' katanya ketika dihubungi lewat telepon sedang terburu-buru mengikuti upacara keagamaan di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MEMANG&lt;/span&gt; bagus kalau pencarian spiritualitas yang berbeda jadi memperkuat keyakinan agama yang dianut seseorang. Apakah selalu seperti itu?&lt;br /&gt;Lewat wawancara lisan dan dilengkapi tulisan tangan yang dikirim lewat faksmili, seorang ibu di Jakarta yang tak mau disebut namanya, memaparkan ketertarikan awal, aktivitas yang dijalani, hingga memilih keluar dari Anand Ashram karena merasa lambat laun proses yang dia jalani di sana bertabrakan dengan akidah keislamannya.&lt;br /&gt;Dalam tulisan itu disebutkan bahwa menjelang bulan Ramadan si ibu mendapat selebaran dari Anand Ashram yang berisi ajakan untuk membersihkan diri sebelum beribadat puasa. Programnya antara lain &lt;span style="font-style: italic;"&gt;stress management&lt;/span&gt;, dan katarsis atau pembersihan diri dari rupa-rupa perasaan negatif dan trauma masa lalu dan kekhawatiran terhadap masa depan.&lt;br /&gt;''Saya segera mendaftar karena diselengarakan di institusi Islam terpandang, yaitu IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (kini UIN Jakarta),'' tulis si ibu, ''Sama sekali saya tak khawatir program itu mengganggu akidah saya.''&lt;br /&gt;Setelah itu, dia aktif di Anand Ashram. Dia sangat mengagumi pemikiran Anand Krisna. Tak hanya pemikirannya, sikap kesehariannya yang rendah hati, misalnya, selalu duduk bersama anggota ketika ada acara, membuat dirinya semakin kagum.&lt;br /&gt;Tapi semua itu tak bertahan lama. Semakin dekat dengan Anand Krishna, dia mulai merasakan banyak hal yang tak dia sukai. Sikap sang pemimpin mulai terlihat tidak lagi rendah hati dan cenderung otoriter. Misalnya, lelaki itu suka ''mengadu'' satu anggota dengan anggota lainnya, juga sering tidak menghargai orang yang telah berjasa terhadap Anand Ashram. Banyak orang seperti itu yang disepak keluar dari keanggotaan. Mengomentari itu, si ibu menulis, ''Hanya diangap sebagai pijakan anak tangga yang diinjak dan ditinggalkan setelah memijak anak tangga berikutnya. Dan kalau memimpin acara, dia lebih suka duduk di tempat yang tinggi seperti takhta.''&lt;br /&gt;Semua itu masih membuat si ibu bertahan. Tapi pada pertengahan 2003, dalam suatu kelas Jumat, Anand Krishna mengucapkan sesuatu yang sangat menohok keimanannya. Salah satunya adalah ''Ada orang yang sudah lima tahun di sini masih belum dapat meninggalkan agamanya. Padahal, di sini kalian lebih mudah mengakses energi Hare Krishna.''&lt;br /&gt;''Apa yang saya dengar ketika itu bagaikan peluit aba-aba untuk segera meninggalkan Anand Krishna,'' tulisnya yang diakhiri kalimat syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;YA&lt;/span&gt;, bisa saja suatu ketika kita mengalami kegersangan spiritual yang disebabkan pelbagai hal. Kita merasa jauh dari Tuhan dan menganggap agama yang kita anut tak lagi bisa menyirami kekeringan rohaniah itu. Dan ketika kita kekeringan dan kehausan spiritual, sementara banyak tawaran dari kelompok-kelompok yang ''berjanji'' memberi curahan air spiritualitas, kita mungkin akan ke sana.&lt;br /&gt;Tak hendak menyimpulkan, tapi sangat mungkin kemarakan aktivitas pencarian spiritualitas baru sekarang ini berbanding lurus dengan kenyataan bahwa sebagian besar dari kita sedang mengalami kekeringan itu.&lt;br /&gt;Dan hal seperti itu tentu bukan fenomena yang baru. Tahun 1960-an, orang-orang di Eropa, mengalami krisis multidimensional dalam rupa perasan teralienasi (terkucil), stres, depresi, dan macam-macam krisis kemanusiaan. Efeknya, sebagian besar dari mereka tak lagi memercayai institusi agama formal. Mereka menganggap ajaran Kristen dan humanisme sekuler dalam memberikan petunjuk spiritual dan etik untuk masa depan telah gagal. Itu artinya mereka harus mencari cara pemenuhan hasrat spiritulitas yang berbeda untuk mengatasi krisis multidimensional tersebut. Di Inggris misalnya muncul kelompok Light Groups, Findhorm Community, atau Wrekin Trust yang kecenderungan spiritualitasnya disebut sebagai New Age Movement (Gerakan Zaman Baru). Efeknya meluas, terutama di Barat pada dekade 1970-an, dan dua dekade berikutnya, wacana spiritualitas yang diusung gerakan itu menggaung di antero jagad.&lt;br /&gt;Kalau ditilik jauh lebih ke belakang, di Eropa sudah muncul gerakan yang bersandar pada konsepsi ''semua agama sama'' yang dipengaruhi oleh para teosof dan freemason. Baca saja semboyan yang mereka anut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;There is no religion higher than truth&lt;/span&gt; (Tak ada agama hakiki selain kebenaran). Ajarannya begitu ekstrem misalnya keinginan untuk menyatukan semua agama yang ada di muka bumi. Itu dibuktikan dalam ucapan Annie Bessant, tokoh teosofi paling menonjol ketika itu: ''Sesungguhnya agama-agama adalah ungkapan yang lahir dari hikmah ilahi yang berasal dari Zat yang Satu. Oleh karenanya, keberagaman dan perbedaan dalam agama, bukanlah inti dari ajaran agama. Agama-agama saling berbagi kebenaran, karenanya agama-agama saling melengkapi dan harus disatukan'' (tilik buku &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kaki Tangan Dajjal Mencengkeram Indonesia&lt;/span&gt; karya Abu Fatiah Al-Adnani, Granada Mediatama, 2008:31).&lt;br /&gt;Jadi, apakah ketika seseorang menemukan oase yang memuaskan dahaga spiritualitasnya, dia merasa jadi lebih dekat dengan Tuhan atau malah menjauhinya? Apakah dia jadi pemeluk teguh agama yang dia anut atau malah mengalpakannya? Atau apakah kita akan mengamini ramalan suami istri futurolog John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Global Paradox&lt;/span&gt; akan adanya kecenderungan ''spirituality yes, organized religion no'', atau membuangnya ke udara hampa?&lt;br /&gt;Anda bisa mengambil simpulan dari kesaksian tiga orang di atas. Akan lebih nyaman bila kita sama-sama baiknya dalam memahami spiritualitas dan agama yang kita anut. Jadi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;spirituality yes, religion&lt;/span&gt; (semakin) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yes&lt;/span&gt;. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pamor Agama Turun?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TENTU&lt;/span&gt; saja kaum agamawan tak bisa bergeming menyaksikan umat yang mereka ayomi mencari pencerahan baru di luar syariat yang mereka ajarkan. Apakah mereka tak cukup mengikuti ujaran-ujaran kaum agamawan? Ada anggapan, fenomena itu disebabkan karena para pencari spiritualitas baru itu berkesimpulan agama anutan mereka tak bisa memberikan solusi persoalan kehidupan secara konkret.&lt;br /&gt;''Benar, fenomena itu jadi tantangan kaum ulama untuk mencari solusinya. Tapi yang jelas ini masalah komunikasi. Banyak komunitas yang ingin memahami Islam secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kaffah&lt;/span&gt; malah jadi komunitas yang eksklusif. Kenapa tidak memberdayakan lembaga agama yang netral seperti MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai tempat bertanya ketika mereka sedang bimbang?'' ujar Prof Dr Ahmad Rofiq MA, Sekretaris Umum MUI Jateng dan Rektor Unwahas Semarang.&lt;br /&gt;Dia menambahkan, ''Apakah orang yang merasa tak bisa mencari solusi dari ajaran agamanya itu sudah menjalankan agama dengan benar atau belum? Dia sudah memahami ilmu agama dengan benar belum? Jangankan yang baru sedikit-sedikit tahu tentang agama, orang yang sudah matang dalam ilmu agama pun sering mengalami ketidaknyamanan beribadat. Saya kerap mengalami itu dan itu menyadarkan saya bahwa masih banyak ilmu agama yang harus saya pelajari.''&lt;br /&gt;Adi Ekopriyono, peminat persoalan spiritualitas yang sedang menyelesaian disertasi mengenai humanisme spiritualitas Jawa (kejawen) berpendapat, banyak penganut agama menyikapi agama semata pranata atau institusi sosial. Itu jelas mengurangi kesadaran religiositas.&lt;br /&gt;''Itu jelas jadi tantangan serius kaum agamawan. Mereka harus cari cara yang bagus untuk membangkitkan kesadaran religiositas,'' tandasnya.&lt;br /&gt;Hanya saja, tambah dia, kebangkitan religiositas sering disertai beberapa kerancuan, khususnya antara agama dan budaya. ''Manifestasinya ada dalam simbol-simbol. Kristen pakai salib, Islam pakai jilbab. Itu sebenarnya agama atau budaya? Banyak perilaku budaya yang ditafsirkan sebagai perilaku agama.''&lt;br /&gt;Dan kerancuan itu secara tak langsung membuat orang beranggapan agama tak bisa menjawab persoalan-persoalan nyata. ''Agama bisa disebut berfungsi kalau bisa memanusiakan manusia. Tentu itu berhubungan dengan kehidupan nyata. Kalau tidak, ya gagal menjalankan fungsinya.''&lt;br /&gt;Gde Prama, spiritualis, juga berpendapat bahwa pamor agama memang sedang turun. Dia mencontohkan, di Eropa yang datang ke gereja hanya 10 persen dari seluruh penganut Kristen. Maka, orang di sana jadi merasa tak lagi punya pegangan hidup. Spiritualitaslah yang jadi jawabannya. Mereka beranggapan, spiritualitas itulah yang bisa menyatukan kelompok-kelompok yang bertikai ratusan tahun lamanya. Penganut agama yang berbeda-beda bisa masuk ke sebuah ruangan yang sama dengan kesadaran spiritualitas yang sama.&lt;br /&gt;Bagaimana di Indonesia? ''Anak muda Indonesia juga kian tekun berburu spiritualitas dan religiositas. Kian banyak pula majelis taklim yang mengundang penganut keyakinan lain.''&lt;br /&gt;Di luar itu semua, ada anggapan bahwa pencarian spiritualitas baru selain disebabkan ketidakpuasan terhadap lembaga agama, juga karena beratnya beban sosial dan arus modernisasi. Kalau ternyata bukan karena itu semua, patut kita renungkan pertanyaan Ahmad Rofiq: ''Sudahkah kita menjalankan agama dengan sebaik-baiknya?''&lt;br /&gt;Atau dengar pula ucapan Gde Prama, ''Jika Anda Islam, ya lakukan syariat Islam sebaik-baiknya. Jika Anda Kristen, ya lakukan Sepuluh Perintah Tuhan dengan baik. Jika Buddha, ya lakukan Sila sebaik-baiknya. Itu saja.''Intinya, kata Gde, semua proses itu semata untuk mencari kebersihan dan kebeningan batin. ''Jika Anda Islam, ya lakukan syariat Islam sebaik-baiknya. Jika Anda Kristen, ya lakukan Sepuluh Perintah Tuhan dengan baik. Jika Buddha, ya lakukan Sila sebaik-baiknya. Itu saja.'' (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Kontributor bahan: Triyanto Triwikromo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Suara Merdeka, 18 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; &lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-1179673446592678919?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/1179673446592678919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=1179673446592678919' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/1179673446592678919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/1179673446592678919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/02/spiritualitas-ya-agama-ya_07.html' title='Spiritualitas Ya,  Agama Ya'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-503722435462154738</id><published>2009-01-24T09:08:00.000-08:00</published><updated>2009-02-07T15:35:19.487-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Chinese Tradition'/><title type='text'>Pasrah pada Garis Tuhan</title><content type='html'>Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Miskin atau kaya sama sekali tak ada hubungannya dengan kelompok etnis tertentu. Misalnya, kelompok etnis A selalu hidup berkecukupan, sementara yang B pastilah berkekurangan. Tidak, sama sekali tak bisa disimpulkan seperti itu. Pun ketika kita melihat kelompok etnis Tionghoa. Kita tak bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nggebyah uyah&lt;/span&gt;: mereka kaya-kaya. Sebab, tak sedikit dari mereka yang hidup miskin.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kam Tjoei Giok (76), misalnya, bertahun-tahun hidup hanya dari uang pensiun sebagai tukang jahit perlengkapan tentara milik Kodam VII/Diponegoro (sekarang Kodam IV). Itu pun katanya hanya cukup buat makan dia dan anak sulungnya. Tempat tinggalnya di Jalan Serayu I No 70 Semarang itu pun lebih mirip rumah liliput. Luasnya 3x5 meter dengan tinggi pintu 1 meter. Untuk masuk, orang dewasa bertubuh normal harus membungkuk dengan kepala ditekuk.&lt;br /&gt;Ruang tamunya hanya selebar meja pingpong. Saat ditemui, perempuan yang dipanggil Mak Giok itu tengah tercenung sembari menunggui Cintya (11 bulan), canggahnya, yang sedang tidur. Tak ada dipan. Tubuh si canggah hanya dibaringkan di lantai semen, beralas kardus, berlapis perlak, dan kasur busa tipis. Dan ruang sesempit itu masih disesaki oleh rupa-rupa barang: empat kursi usang tempat menaruh kardus dan onggokan cucian, sebuah mesin jahit tua, sebuah ember dan beberapa kardus yang isinya entah apa.&lt;br /&gt;Tadinya itu rumah sewa pemberian salah seorang besannya. Dan di tempat seperti itu, mulai tahun 1972, dia dan sembilan anaknya melewati hidup. Begitu susahnya kehidupan Mak Giok sehingga ketika status rumahnya dibalik nama menjadi HM, tak sekali pun direnovasi.&lt;br /&gt;''Selama tinggal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;da&lt;/span&gt; sini, saya baru dua kali &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ninggikke&lt;/span&gt; lantai. Itu karena dikejar banjir. Kalau tidak, banjir bisa setinggi lutut. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wong&lt;/span&gt; sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ditinggikke&lt;/span&gt; saja banjirnya masih &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sak polok&lt;/span&gt; (mata kaki).''&lt;br /&gt;Di tempat lain, di Dukuh Sidodadi Desa Karangturi Kecamatan Lasem, Rembang, beberapa keluarga Tionghoa juga hidup pas-pasan, bahkan sering pula berkekurangan. Siek Tian Nio (63), salah satunya, bertahun-tahun mengandalkan hidup dari membuat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;yo pia&lt;/span&gt;, sejenis kue manis. Dengan penghasilan yang tak besar itu dia harus menghidupi empat anak.&lt;br /&gt;''Sekarang sih anak-anak sudah pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mentas&lt;/span&gt; (mampu menghidupi dirinya). Dulu waktu masih kecil-kecil, repot sekali. Kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt; dibantu saudara-saudara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;papae&lt;/span&gt; (suaminya yang telah meninggal) yang ada di Semarang, anak-anak saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt; bakalan bisa kuliah.''&lt;br /&gt;Perlu diketahui, terbentuknya komunitas orang Tionghoa miskin di dukuh tersebut erat kaitannya dengan sejarah imigrasi orang-orang Fujian ke Lasem. Berdasarkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lasem Kota Kuno Pantai Utara Jawa yang Bernuansa Cina&lt;/span&gt; karangan Samuel Hartono dan Handinoto, para imigran itu awalnya menetap di Dasun sebelum membuat pemukiman baru yang sekarang disebut Desa Karangturi. Umumnya, mereka tak bisa meninggalkan kebiasaan berjudi dan bergundik dengan perempuan Tionghoa atau pun Jawa. Salah satu efeknya, orang-orang yang melarat karena berjudi kemudian tersingkir dan membuat pemukiman baru di sebelah selatan Desa Karangturi yang sekarang disebut Belik. Tempat tersebut pun tumbuh menjadi daerah kumuh dan hitam di Lasem.&lt;br /&gt;Menurut M Hoeda (63), mantan Kepala Bappeda Kabupaten Rembang yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;teiyek&lt;/span&gt; (warga asli) Lasem menuturkan, keberadaan Belik membuat Desa Karangturi sangatlah kontras. Di satu sisi, warga Karangturi yang bermukim di dekat jalur pantai utara (pantura) terkenal kaya raya. Namun, tak kurang dari 500 meter dari pemukiman yang kaya raya itu terdapat Belik yang penuh dengan orang Tionghoa miskin. ''Hingga akhir tahun 1960-an, Belik penuh dengan Tionghoa miskin. Belik juga menjadi tempat prostitusi dan perjudian, sampai-sampai orang Lasem tak mau ke sana. Setelah peristiwa G30S, sebagian besar dari mereka pergi, dan hanya beberapa saja yang tinggal hingga sekarang,'' paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KOMUNITAS&lt;/span&gt; Tionghoa miskin yang lebih besar bisa kita jumpai di Tangerang, Banten atau populer disebut China Benteng. Mereka hidup sebagai nelayan miskin, pegawai toko, kuli panggul, tukang becak, tukang ojek, tukang sapu jalanan, dan pekerjaan kasar lainnya.&lt;br /&gt;''Suami saya hanya pedagang bubur yang modalnya pinjam dari bank keliling dan harus bayar tiap hari. Kalau pulang,paling dia bawa Rp 20 ribu. Habis untuk beras, minyak tanah, dan lauk tahu tempe,'' cerita salah seorang warga bernama Nancy Kim Ong (39).&lt;br /&gt;Warga lainnya, Ong Gian (49), juga tak bisa mengandalkan hidupnya sebagai petani. ''Untuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;nyambung&lt;/span&gt; hidup, saya jadi awak Gambang Kromong. Itu pun tak selalu ditanggap. Tapi menjelang Sincia (Imlek) ini, bolehlah berharap dapat tambahan rezeki.''&lt;br /&gt;Go Jin (47) yang sehari-hari ngojek, juga sangat mengharapkan dapat tambahan rezeki dari Gambang Kromong. ''Bisa nambah uang dapur,'' ujarnya.&lt;br /&gt;Tak hanya kesulitan mencari penghidupan, umumnya orang China Benteng tak mendapat pendidikan layak. Ketiadaan biaya membuat banyak anak mereka putus sekolah, bahkan tak sekolah sama sekali. Itu masih ditambah oleh kesulitan mengurus kewarganegaraan atau akte kelahiran. Apalagi banyak di antara mereka menikah secara adat dan tidak didaftarkan ke catatan sipil.&lt;br /&gt;Berapakah jumlah mereka? Menurut Tan Lie, Sekretaris Perkumpulan Keagamaan dan Sosial Kelenteng Boen Tek Bio Tangerang, setidaknya di wilayah Kedaung Barat Kecamatan Sepatan Timur ada 600 keluarga miskin. Itu belum termasuk yang ada di Legok, Mauk, Sewan, atau Kebon Baru. Tak hanya di Jawa, orang-orang Tionghoa miskin juga kita jumpai di Singkawang, Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;Di luar itu, ada anggapan, orang-orang Tionghoa miskin itu sudah garis nasibnya memang begitu. Berdasarkan tradisi konfusianisme, seorang Tionghoa tak bakal bergeming melihat saudaranya hidup dalam kesusahan. Mereka yang lebih beruntung akan selalu mengulurkan bantuan, khususnya pada orang-orang yang terikat hubungan kekeluargaan atau marga. Konon, seorang Tionghoa yang miskin dibantu tiga hingga lima kali untuk melakukan suatu usaha tertentu. Katakanlah berdagang. Kalau tetap nasibnya tak berubah, maka orang sekeluarga atau semarga boleh merasa lepas dari kewajiban membantu dan menganggap kemiskinan saudaranya itu takdir Tuhan.&lt;br /&gt;Benarkah demikian? Pemerhati Ketionghoaan Harjanto Halim MSc membenarkan bahwa budaya saling bantu memang dilakukan orang Tionghoa. ''Biasanya itu terjadi kalau ada hubungan persaudaraan. Kalau ada yang kaya, dia akan membantu modal usaha saudaranya yang miskin. Bahkan, kalau ada yang usahanya bangkrut, saudara lainnya akan membantu habis-habisan. Ketika zaman Orde Baru begitu kenyataannya, tapi sayang kini muncul rasa individualistis. Kalau membantu, ya sekadarnya saja. Bahkan, generasi sekarang, sama-sama cucu atau cicit pun banyak yang tak saling mengenal.''&lt;br /&gt;Mungkin benar, ada kecenderungan individualisme seperti yang dipaparkan Halim. Tapi pudarnya budaya saling bantu juga bisa karena orang Tionghoa yang miskin merasa malu kalau harus ''bersilaturahim'' pada saudara mereka yang kaya. Ada banyak dari mereka yang tak ingin dicap mau meminta belas kasih dari saudaranya.&lt;br /&gt;''Kalau diberi ya diterima. Kalau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt;, ya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt; perlu minta-minta. Adik saya di Madura kaya. Tapi saya ndak pernah minta-minta sama &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diae&lt;/span&gt;,'' ujar Mak Giok.&lt;br /&gt;Tan Soe Ing (62) yang tinggal di Bugangan pun bersikap serupa. Dia yang selalu hidup berkekurangan, suatu ketika akhirnya menuruti saran mendiang suaminya untuk meminjam uang pada saudaranya yang berpunya. Bukannya dipinjami melainkan diberi, dan itu tak membuat janda tua itu enak hati. ''&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mangkane saya males dateng ndok rumahe&lt;/span&gt; saudara, terutama yang kaya. Takut dikira mau minta-minta,'' ujarnya.&lt;br /&gt;Siek Tian Nio yang mengaku masih sesekali dibantu saudara-saudara suaminya di Semarang juga mengalami keengganan serupa itu. ''Mereka pasti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngasih&lt;/span&gt; kalau saya datang ke sana. Mereka bilang, bantuan itu sebenarnya bisa ditransfer lewat bank, tapi kalau saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt; datang, mereka bilang nantinya malah putus persaudaraan.''&lt;br /&gt;Lalu, apakah mereka iri pada kaum seetnis yang kaya? ''Tidak, kaya apa miskin itu sudah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;digariske&lt;/span&gt; Tuhan,'' tandas Mak Giok.&lt;br /&gt;Sepakat dengan Mak Giok, beberapa orang China Benteng yakin, setiap manusia memiliki garis hidupnya sendiri-sendiri. ''Selain nasib, semua tergantung manusianya, apakah mereka mau berusaha atau tidak. Mereka yang kaya tentu lebih mampu membaca peluang dan memanfaatkannya,'' tandas Ong Gian. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:130%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tradisi Berderma &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;''MEMBANTU&lt;/span&gt; sesama merupakan nilai luhur ajaran Kwan Im yang telah bersumpah tidak akan mencapai nirwana sebelum penderitaan manusia di dunia berakhir,'' ujar Go Jin, orang Tionghoa dari China Benteng.&lt;br /&gt;Jadi, memang ada tradisi saling membantu yang kuat di kalangan etnis Tionghoa. Lihat misalnya menjelang Imlek, hampir semua kelenteng menggelar pembagian bingkisan untuk mereka yang kurang mampu. Beberapa waktu lalu misalnya di Kelenteng Besar Tay Kak Sie, Jalan Gang Lombok, Semarang pun melakukan hal tersebut.&lt;br /&gt;Sebenarnya, pendermaan itu tak hanya menjelang Sincia, tapi juga pada hari-hari tertentu. Itu dibenarkan Tan Sioe Ing yang ikut beroleh bingkisan Imlek dari Tay Kak Sie berupa sembako dan uang Rp 125 ribu.&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sebenere ndok klenteng gedhe&lt;/span&gt; (Tay Kak Sie) tiap bulan ada pembagian beras dan minyak goreng gratis buat orang tua. Tapi karena jauh dari rumah, saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak&lt;/span&gt; bisa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ngambil&lt;/span&gt;. Dibanding ongkos becak pulang-pergi ke kelenteng, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ndak cucuk&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;Konsep pendermaan itu pun sebenarnya luas. Maksudnya, pemberian bantuan tak hanya ditujukan ke kelompok orang seetnis.&lt;br /&gt;''Ya, tradisi memberi derma dalam masyarakat Tionghoa tak terbatas pada lingkup etnis sendiri. Mereka acap menyalurkan bantuan ketika ada bencana seperti tsunami, banjir, atau gempa bumi. Derma diberikan secara perorangan maupun institusi,'' ujar tokoh masyarakat Pecinan Semarang Aris Pramadi.&lt;br /&gt;Namun, lanjut Aris, khusus kepada warga seetnis yang kekurangan, orang-orang Tionghoa kaya punya perhatian tersendiri. Menjelang Sincia misalnya, mereka memberi derma, lebih khusus kepada para lansia.&lt;br /&gt;''Itu agar mereka yang kesusahan bisa merayakan tahun baru China dengan hati gembira.''&lt;br /&gt;Lebih jauh, Aris mengungkapkan filosofi kue kerajang yang menjadi penganan khas Sincia. Rasa kue yang manis itu melambangkan manisnya mulut, hati, dan pikiran. Bahan baku ketan merupakan metafora rekatnya persaudaraan. Bentuknya yang bundar perlambang kerukunan. Adapun bungkus daun pisang merupakan simbol panjang umur dan keselamatan.&lt;br /&gt;''Jadi, perayaan Sincia pada hakikatnya merayakan kebersamaan, persaudaraan, dan pengharapan.''&lt;br /&gt;Soal kerukunan itu, menurut Harjanto Halim MSc, memang wajar mengingat pada awalnya orang-orang Tionghoa adalah perantau. Jadi, mereka merasa senasib dan saling bergantung satu sama lain.&lt;br /&gt;''Tak cuma orang Tionghoa, orang Jawa misalnya yang bertransmigrasi. Di rantau, pasti mereka lebih rukun,'' tandasnya.&lt;br /&gt;Hanya saja, Halim melihat ada perubahan pola kerukunan orang Tionghoa antara zaman Orde Baru dan sekarang. Waktu tekanan pemerintah Orba terhadap orang Tionghaa cukup kuat pada masa Orba, kerukunan mereka sangat dahsyat. ''Mereka merasa perlu bersatu untuk mengatasi tekanan-tekanan dari pemerintah. Contohnya, dulu merayakan Imlek saja dilarang. Setelah memasuki era reformasi, dan tak ada lagi tekanan dari pemerintah, saya melihat kerukunan itu kian luntur, terkalahkan oleh sifat-sifat individualisme. Banyak yang tidak rukun karena berbagai kepentingan pribadi.'' (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Kontributor bahan: Rukardi, Sarby SB Wietha (Semarang),&lt;br /&gt;Saktia Andri Susilo, Wisnu Wijanarko (Jakarta), Mulyanto Ari Wibowo (Rembang)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Suara Merdeka, 25 Januari 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; &lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-503722435462154738?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/503722435462154738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=503722435462154738' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/503722435462154738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/503722435462154738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2009/01/pasrah-pada-garis-tuhan_24.html' title='Pasrah pada Garis Tuhan'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-563986682477491437</id><published>2008-10-13T01:12:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T01:14:31.431-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Classic Music'/><title type='text'>Irama Perih dari Piano Marcel</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;RUANG&lt;/span&gt; Auditorium RRI Semarang yang beku oleh udara sistem pendingin, Kamis (4/12/2003) malam itu mulai pukul 20.00 WIB seolah memuai oleh derasan irama Latin dari piano Marcel Worms. Jari-jari lelaki Belanda kelahiran 1951 itu lincah memainkan irama Latin dari segala zaman. Lihat saja, dari lagu pengiring dansa Kuba 1899, seperti ''Adios a Cuba'' (Selamat Tinggal, Kuba) atau ''Illusiones perdidas'' (Ilusi yang Hilang), dan ''Tango'' (1940) karya komponis kondang Igor Stravinsky, hingga lagu terbaru ''Quasitango'' (2002) karya Dolf de Kinkelder.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kerancakan itu hanya berlangsung sekitar 30 menit. Hanya 10 lagu Latin tercipta dari hentakan cepat pada tuts lelaki yang diundang manggung oleh Pusat Budaya Indonesia-Belanda ''Widya Mitra'' Semarang bekerja sama dengan Erasmus Huis Jakarta.&lt;br /&gt;Ya, usai jeda 15 menit, irama yang lahir dari Piano Marcel benar-benar berubah. Ruangan yang beku, dengan kursi penuh di dua tempat (tempat utama dan balkon), semakin membeku dan tintrim ketika nada yang bergulir berubah menjadi irama blues yang perih. Sembilan lagu bernuansa blues, dua di antaranya lahir dari dua komponis Indonesia (Sinta Wullur yang kini menetap di Belanda, dan Sapto Raharjo), dimainkan Marcel dengan intensitas yang tinggi.&lt;br /&gt;Satu hal yang menarik pada permainan lelaki itu, khususnya pada blues, adalah obsesinya memainkan jenis irama tersebut dari berbagai bangsa. Ucapannya yang ketika mengantar ke permainan blues, memberikan bukti itu. Dia sangat ingin memainkan 145 lagu dari 35 negara, yang sengaja khusus diciptakan para komponis untuk dimainkannya. Ambil contoh ''Marcebars'' karya Anat Fort dari Israel, ''Nganda Blues'' ciptaan Justino Chemane dari Mozambique, atau ''Van Gogh Blue Ear'' garapan Roberto Valera dari Kuba.&lt;br /&gt;''Tapi, tak mungkin saya memainkan semua lagu itu malam ini. Maka hanya sembilan lagu saja. Yang pasti, semua lagu yang saya mainkan adalah hasil persepsi semua komponis dalam memandang irama blues,'' kata Marcel Worms dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh seorang panitia.&lt;br /&gt;Kalau dilihat tahun penciptaannya, sembilan lagu blues yang ditampilkan Marcel malam itu merupakan lagu-lagu baru antara 1999 sampai 2003. ''Bali in Blue'' karya Sinta Wulur, merupakan lagu yang tercipta pada 1999. Sementara beberapa lagu -termasuk ''Malioboro Blues'' (2003) ciptaan Sapto Raharjo-, adalah lagu yang kali pertama (premiere) dimainkan di Auditorium RRI Semarang.&lt;br /&gt;Paling menarik adalah ketika Marcel memainkan ''Bali in Blue'' dan ''Malioboro Blues''. Dia menyertai permainan pianonya dengan menghadirkan pukulan perkusi dari kendang dan tifa kecil. Bahkan untuk lagu yang berisikan mengenai nama jalan paling terkenal di Yogyakarta (''Malioboro Blues''), Marcel menyetem pianonya hingga melahirkan bebunyian agak aneh yang menyerupai bunyi perkusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralih ke Blues&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, usai menyelesaikan studi musikalnya pada Sweelinck Conservatorium di Amsterdam, Marcel Worms memilih musik kamar sebagai ajang kreasinya. Beberapa kreasi dia ciptakan bersama Hans Broekman dan maestro piano awal abad ke-20 bernama Alexander Hrisanide. Berbagai resital piano yang menjadi ajang kreasi musik kamarnya, telah ia gelar -misalnya di Schonberg (1990).&lt;br /&gt;Lalu mulai 1996, pianis itu terpikat oleh irama blues. Beberapa konser -baik solo maupun bersama komponis lain- digelarnya untuk mengusung blues. Beberapa bisa disebutkan, misalnya konser blues pada ''Mompou and the Blues'' di Barcelona pada 2003; dan tur kelilingnya di Kuba, September pada tahun yang sama.&lt;br /&gt;Memang tak mudah menikmati jazz, lebih khusus lagi blues yang lahir dari tangan Marcel Worms. Ya, memang butuh konsentrasi yang tinggi untuk menikmatinya. Apalagi, sebagian besar lagu yang tersaji begitu asing. Sebagian besar penonton malam itu adalah anak-anak muda, yang diakui atau tidak, telah lebih dulu akrab dengan musik populer yang memiliki karakter sangat jauh berbeda dengan karakter musikal sajian Marcel. Bisakah mereka menikmatinya?&lt;br /&gt;''Saya datang untuk mendengarkan musik, bukan untuk memahaminya. Boleh saja saya tidak paham, tapi saya bisa menikmatinya. Juga ketika dia (Marcel-Red) memainkan blues, saya bisa merasakan kesedihan dari irama yang tercipta,'' ujar seorang gadis yang menonton dari balkon.&lt;br /&gt;Ya, meskipun begitu, barangkali karena keasingan iramanya, tepuk-tangan yang menyertai usainya sebuah lagu baru tercipta ketika Marcel berdiri dan membungkuk ke arah penonton. Tapi, kebertahanan mereka menyaksikan konser piano solo dari Marcel Worms hingga purna pada pukul 21.45 itu, tetap memberi bukti bahwa anak-anak muda tetap butuh jenis-jenis musik yang berbeda dari yang diakrabinya selama ini. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks: Saroni Asikin&lt;br /&gt;Suara Merdeka, 6 Desember 2003&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-563986682477491437?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/563986682477491437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=563986682477491437' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/563986682477491437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/563986682477491437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/irama-perih-dari-piano-marcel.html' title='Irama Perih dari Piano Marcel'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-5414665354376063505</id><published>2008-10-13T01:10:00.001-07:00</published><updated>2008-10-13T01:11:50.298-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>''Billy The Kid''</title><content type='html'>&lt;div class="post-body"&gt;&lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 180%;"&gt;Persahabatan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: 180%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAGAIMANA&lt;/strong&gt; memperlakukan seorang sahabat, belajarlah pada Billy The Kid (Emilio Estevez) atau pada Pat Garrett (William Petersen)! Pada awalnya mereka bersahabat sebagai "orang-orang brengsek", sebutan penduduk untuk keduanya yang hidup dari merampas ternak orang usai Perang Lincoln, sebuah perang dagang antara Irlandia dan Inggris. Mereka masih juga bersahabat saat sama-sama menjadi buronan Gubernur New Mexico dan harus berkembara di padang-padang rumput dan bebukitan terjal.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi lalu pilihan hidup harus berubah. Keduanya berpisah. Billy The Kid yang bernama asli William H Bonney itu tetap melanjutkan garis hidupnya sebagai "momok" paling mengerikan bagi pemilik ternak di daerah itu dengan seabrek sebutan seperti Henry McCarty atau William Antrim.&lt;br /&gt;Penonton pun bisa jadi tertipu pada adegan menjelang akhir film Young Gun II garapan Geoff Murphy itu. Untungnya, film dibuka dan ditutup dengan sosok tua yang mengaku bernama Brushly Bill Roberts -tapi mengaku sebagai Billy The Kid pada seorang pengacara bernama Charles Phalen. Sosok tua itu meminta sang pengacara agar menolongnya memintakan pengampunan pada Gubernur, setelah menanti selama&lt;br /&gt;70 tahun 3 bulan.&lt;br /&gt;Film dengan alur flashback itu berakhir tanpa menjawab pertanyaan, apakah sosok tua itu benar-benar "Sang Pangeran Pistol" yang ditakuti sekaligus dikagumi di Lincoln County.&lt;br /&gt;Persoalan persahabatan memang menjadi pusat tematik cerita lewat dua tokohnya. Sosok Billy si "brengsek" itu teruji sebagai seorang yang menjadikan sahabat sebagai sesuatu yang mulia. Itu sebabnya dia tak mungkin menyerahkan Chavez pada penduduk yang menginginkan tubuh peranakan Mexico-Indian itu. Dia juga begitu sedih ketika menyaksikan satu per satu sahabatnya mati (terkecuali Henry French) oleh peluru Pat Garret.&lt;br /&gt;Betapa pentingnya makna persahabatan bagi dia! Bahkan, terhadap Pat Garret yang telah membunuh semua sahabat dan menghargai dirinya sebesar 1.000 dollar itu pun Billy tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat.&lt;br /&gt;Dengarlah kalimat Billy ketika moncong pistol Pat terarah tepat ke dahinya: "Aku selalu bilang, jika aku peduli pada seseorang, maka tak akan ada yang gagal. Aku bahkan akan mempermudahnya."&lt;br /&gt;Atau, dengarlah bisikan lirih sosok tua yang mengaku sebagai Billy kepada sang pengacara usai adegan di atas: "Aku sayang dia (Pat maksudnya)."&lt;br /&gt;Begitu juga Pat Garret. Di balik nafsu pribadinya, persahabatan ternyata mengajarinya untuk tidak mampu meledakkan kepala Billy. Dan belajar dari Young Gun II, makna persahabatan memang butuh diuji dalam situasi penuh tekanan. Sebab, pada saat seperti itu, adakalanya kepentingan diri sendiri lebih banyak dimenangkan meskipun harus memakai cara menyerahkan "kepala" sang sahabat.(*)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Teks&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 15 Februari 2003&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-5414665354376063505?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/5414665354376063505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=5414665354376063505' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5414665354376063505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5414665354376063505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/billy-kid.html' title='&apos;&apos;Billy The Kid&apos;&apos;'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-2389306615796398769</id><published>2008-10-13T01:08:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T01:09:24.033-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Photography'/><title type='text'>Pertemuan Fotografi Seni dan Jurnalistik</title><content type='html'>&lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7809/2361/1600/sm5foto2bud27.0.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7809/2361/320/sm5foto2bud27.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TIGA&lt;/strong&gt; wajah mengenaskan milik tiga anak kecil yang berekspresi muram dipajang bersama. Satu wajah, bahkan mengesankan wajah yang retak-retak, mirip sebuah patung lempung yang mengelupas. Satu sosok lainnya, berwajah belang- belonteng dan seperti tercabik-cabik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran serupa terdapat pada karya fotografi Anas yang berjudul Three on Three. Dari karya tersebut muncul kesan, sang fotografer sengaja merusak figur anak kecil dengan teknik film negatif dobel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya itu dapat dipakai sebagai representasi 53 karya lainnya yang dipamerkan di Galeri Seni Rupa UNS, mulai 25 Maret hingga 3 April 2002. Tiga puluh kelompok fotografer dari dua perguruan tinggi, Focus UNS dan Pra-Klimaks dari Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, berkolaborasi menggelar pameran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah fotografi seni atau art photograph barangkali cukup tepat diberikan kepada sebagian karya yang dipamerkan, khususnya yang berasal dari ISI Yogyakarta. Selain Three on Three karya Anas, beberapa contoh lain menarik dibicarakan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Ilusi I karya Harsoputro, yang mengetengahkan sosok perempuan muda berbaju you can see sedang menekur dengan muram, Stop for Violence karya Nino Sindhu yang menampilkan kolase permainan warna dengan menonjolkan warna api yang membakar, atau karya Kurnia Dhien yang berjudul Enigma dengan sosok seorang lelaki tanpa kepala bertelanjang dada dan hanya membebatkan kain di pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sebagian besar fotografer Focus UNS lebih banyak memunculkan karya berkategori jurnalistik. Beberapa karya dapat diambil sebagai contoh, yaitu Di Tepi Pantai karya Kadaryatmo, sebuah foto hitam-putih yang mengetengahkan sosok seseorang sedang mengambil sesuatu di pinggir pantai, atau dua fotografi yang mengetengahkan lomba panjat pinang tujuh belasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa karya lainnya, yang memotret lanskap atau bangunan tua, juga mengesankan jurnalisme pada karya fotografi anak-anak Focus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pertemuan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragamnya karya fotografi yang sebagian besar tampil sebagai fotografi seni, sangat sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pameran bersama. Kolaborasi antara UNS dan ISI Yogyakarta juga memberikan warna tersendiri dalam karya-karya yang ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bebasnya tema yang kami munculkan memang memungkinkan tampilnya karya dengan beragam bentuk. Hanya ada kecenderungan yang berbeda dari dua kelompok yang terlibat. Focus UNS lebih mengarah pada karya fotografi jurnalistik, sementara ISI lebih sebagai fotografi seni,"tutur Albertus RPA dari Galeri Seni Rupa UNS sebagai penyelenggara, bekerja sama dengan Srawung Art dan Cemity Desain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pameran yang digelar selama 10 hari tersebut bisa jadi adalah upaya mempertemukan fotografi yang murni bersifat seni dan fotografi yang menjurus ke arah jurnalisme. Atau, bisa jadi, hanya sebagai upaya menyandingkan dua model fotografi yang memiliki sasaran dan arah berbeda. Atau, bisa pula itu merupakan langkah pengayaan apresiasi masyarakat.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Teks &amp;amp; Foto: &lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 27 Maret 2002&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-2389306615796398769?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/2389306615796398769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=2389306615796398769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/2389306615796398769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/2389306615796398769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/pertemuan-fotografi-seni-dan.html' title='Pertemuan Fotografi Seni dan Jurnalistik'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-992337881761686811</id><published>2008-10-13T01:04:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T01:07:29.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dance'/><title type='text'>Mengejar Gelar ''Koreografer''</title><content type='html'>&lt;p&gt;       &lt;/p&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7809/2361/1600/sm5tari325.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7809/2361/320/sm5tari325.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SEBUAH&lt;/strong&gt; teks, didialogkan di tengah-tengah koreografi Kecicir garapan Anggono Kusumo Wibowo, salah seorang penampil dalam acara ''Dua Malam Bersama Enam Koreografer Muda'' di Teater Arena TBS, 18-19 Februari 2002. Teks tersebut, mencoba meneguhkan eksistensi para koreografer.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, acara yang digelar Studio Taksu Solo bekerja sama dengan Komunitas Taman Budaya Surakarta (TBS) tersebut diminati penonton. Itu bisa dilihat pada penuhnya tempat penonton selama dua malam, walaupun rintik hujan terus turun di luar tempat pertunjukan.&lt;br /&gt;Menyaksikan keenam koreografer yang tampil pada dua malam itu, teks tersebut bisa dijadikan acuan bahwa keenam anak muda itu terkesan ingin meneguhkan eksistensi mereka sebagai koreografer, walau dengan embel-embel ''koreografer muda''.&lt;br /&gt;Kalau ditarik lebih panjang lagi, sepertinya mereka ''ingin berontak'' terhadap mereka yang selama ini disebut ''koreografer tua''. Artinya, mereka berhak juga untuk menunjukkan diri, menunjukkan karya koreografinya.&lt;br /&gt;Itu sejalan dengan pendapat Jarot Budi Darsono, pemilik Studio Taksu yang menggelar kegiatan tersebut sebagai ajang tampilnya para koreografer muda. ''Mereka berhak tampil dan menyatakan diri sebagai koreografer, serta berhak menunjukkan karya-karyanya,'' kata Jarot.&lt;br /&gt;Memang, dalam dunia kesenian, sering ada dikotomi seniman muda dan seniman tua. Perbincangan soal itu sering dibahas dan didiskusikan. Sayangnya, tidak pernah ada hasil yang dengan tebal menggarisbawahi perbedaan keduanya.&lt;br /&gt;Mari kita lihat keenam penampil, para koreografer muda itu. Dari segi usia, mereka rata-rata masih muda, sekitar 23-25 tahun. Hanya seorang yang berusia mendekati angka tiga. Tapi, hampir semuanya telah ''bergulat'' lama dalam dunia tari, baik sebagai penari maupun penata tari (koreografer-Red).&lt;br /&gt;Produktivitas mereka juga mencengangkan. Sebut misalnya Putu Deasy Ariastuti, yang menggarap Nyak. Dalam dua tahun saja (2000-2001) dia telah menggarap delapan karya koreografi. Beberapa di antara mereka, bahkan pernah terlibat dalam suatu karya tari yang digelar di luar negeri.&lt;br /&gt;Dari catatan itu saja, masih belum layakkah mereka disebut koreografer, sehingga perlu ada ajang untuk meneguhkannya?&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Beragam Tema&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi tematik, keenam koreografer muda itu mencoba tampil dengan tema yang beragam. Kali karya Fitri Setyaningsih berbicara mengenai kontradiksi alam kejiwaan manusia yang dipenuhi nafsu baik dan nafsu buruk.&lt;br /&gt;Koreografi yang berasal dari teks cerita mengenai Betari Durga, yang disebut juga Betari Kali, itu diketengahkan oleh dua penari. Satu orang memperagakan Dewi Uma (Durga saat masih jelita-Red), dan lainnya sebagai Betari Durga.&lt;br /&gt;Kecicir yang tampil setelah Kali berbicara mengenai sebuah pemberontakan. Anggono KW, sang koreografer, menyuguhkannya dengan memetik teks dari peradegan Perang Kembang dari pewayangan, dengan sosok Cakil yang selalu kalah. Dia seolah-olah ingin mempertanyakan, mengapa Cakil selalu kalah dalam perang.&lt;br /&gt;Ruang, garapan Kandhi Wirastuti, menyuguhkan kesesakan dan kesempitan ruang tempat manusia hidup. Ruang itu pada koreografi tersebut adalah presentasi kehidupan orang-orang yang terpinggirkan di jalanan.&lt;br /&gt;Ada juga koreografi yang bertema ancaman dari sesuatu yang buruk pada Sanghara karya Ni Kadek YP. Dengan karyanya itu, Kadek ingin berbicara bahwa seyogianya kita selalu waspada terhadap hal-hal buruk yang selalu mengancam diri kita.&lt;br /&gt;Hampir sama dengan tema pada Sanghara, muncul pada garapan Bejo Tri Kumara yang menyuguhkan Senandung. Koreografi yang menampilkan permainan tongkat kayu itu pun berbicara mengenai arti penting kehati-hatian.&lt;br /&gt;Sajian yang paling berbeda dari semua yang tampil adalah Nyak. Di samping sebagai satu-satunya penampil dari luar Solo, Putu Deasy Ariastuti dari Semarang menyuguhkan kesederhanaan kehidupan ibu-ibu (Nyak dalam bahasa Betawi-Red). Banyolan yang ada pada presentasi itu juga menjadi tanda pembeda dari penampil lainnya yang terkesan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Koreografer&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bincang-bincang yang digelar pada malam kedua, seusai semua koreografi disajikan, secara umum mempertanyakan intensitas dan konsistensi para penggarap. Komponis I Wayan Sadra yang diundang panitia untuk memberikan komentar, bahkan menilai para penampil terkesan memburu gelar ''koreografer''.&lt;br /&gt;''Kalau saya melihat biodata Anda semua, saya sungguh kagum. Bayangkan, dalam setahun Anda bisa menghasilkan sekian karya,'' katanya kepada enam penampil.&lt;br /&gt;Kalau dihubungkan dengan tujuan acara selama dua malam itu bahwa mereka berhak tampil, berhak disebut juga sebagai koreografer (walaupun masih ''muda''), maka pertanyaan Sadra adalah kritik agar mereka tidak hanya berhenti sebagai koreografer dan berhenti sebagai penari. Sebab, kalau sudah seperti itu, dunia tari akan terancam ketidakseimbangan. (*)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Teks &amp;amp; Foto&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 25 Februari 2002&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-992337881761686811?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/992337881761686811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=992337881761686811' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/992337881761686811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/992337881761686811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/mengejar-gelar-koreografer.html' title='Mengejar Gelar &apos;&apos;Koreografer&apos;&apos;'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-939241889267820743</id><published>2008-10-13T00:54:00.001-07:00</published><updated>2008-10-13T00:57:10.220-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Painting'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Art'/><title type='text'>Sebermula adalah Wacana Gado-gado</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SAYA&lt;/span&gt; tercenung di depan lukisan penuh warna jingga itu. Pada bidang sebelah kanan, goresan cat kuning disapu dengan kasar membentuk kontur wajah dan badan. Lukisan dadaismekah itu, atau hanya mirip coretan kasar krayon di buku gambar anak saya Elok Bunga yang baru kelas 1 SD?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sengaja saya tak melihat judul di bawah lukisan itu. Saya sering merasa terbingkai dalam mengapresiasi sebuah lukisan bila sudah membaca judulnya. Sering kali pula judul-judul yang acap penuh simbol itu membingungkan. Sebagai penikmat, saya butuh kebebasan membaca sebuah lukisan. Saya butuh mengumpulkan semua represi yang terendam di bawah sadar, tradisi-tradisi yang sempat tercerap untuk menikmati sebuah lukisan.Ah sori, sebuah awalan tulisan yang bertele-tele, bukan?&lt;br /&gt;Kembali ke lukisan itu, saya menemukan beberapa penanda berupa kata atau ungkapan dalam bahasa Italia: Non gardare dan sei mio, juga nama Nanettino dan Pompinara. Lalu judul mencolok itu sungguh mengejutkan: ‘’Ipocrita Cinderella’’. Kemunafikan Cinderella? Saya mencari sosok khayali yang punya sepatu kaca itu. Apakah sapuan kasar warna kuning itu Cinderella ataukah sebuah kaus kaki dan goresan yang mencitrakan sebuah sepatu itu menjadi semiotika ‘’seorang’’ Cinderella?&lt;br /&gt;Ah, lupakan itu. Sebab, mendadak saya teringat ‘’Ruang:Tanda/Space:Sign’’ yang jadi tajuk Pameran Pra Bali Biennale 2005 Semarang (19 Agustus-10 September 2005) di Rumah Seni Yaitu dengan mengusung ‘’discourse’’ atau diskursus atau wacana dan masih ditambahi sub-tematik tradisi para perupanya. Ya, apakah ke-Italia-an itu tradisi Deny Pribadi, pelukis Ipocrita Cinderella? Saya tahu, kisah Cinderella telah menjadi bagian tradisi dunia, tradisi kanak-kanak di lima benua. Tapi judul, dan beberapa penanda di lukisan itu mau tak mau membuat saya menyimpulkan, Deny punya tradizione italiana. Maka sebelum beralih ke lukisan lain, saya mereka-reka (mungkin) seperti itulah tradisi sang pelukis yang dibuncahkan di kanvasnya, juga pada lukisan lainnya yang bertajuk ‘’Brutto Presidente’’ (Presiden Jelek).&lt;br /&gt;Lalu saya melihat tradisi ke-Bali-an pada ‘’Hegemoney’’ karya Auly Kastari atau ‘’The Spirit of Barong’’ Agus Sudarto. Saya melihat ke-Jawa-an pada ‘’Sirkus Semar Kuning’’ Bibit Jrabang, atau ‘’Dasamukamu’’ G Haryanto.&lt;br /&gt;Sampai di situ, seolah-olah begitu mudahnya mengenali tradisi-tradisi para pelukis yang telah disebutkan itu. Triyanto Triwikromo dan Tubagus P Svarajati yang menjadi kurator menulis, ‘’Ruang:Tanda adalah sekumpulan simbolicum litere’’. Ruang:Tanda itu simbol-simbol yang diterakan. Dan pada lukisan-lukisan yang telah disebut itu, saya melihat tera simbolnya begitu ‘’plakat’’, begitu kasatmata. Ke-Italia-an Deny tertera lebih oleh tulisan pada lukisan dan judul. Ke-Bali-an Auly sangat jelas terlihat pada sosok kanak-kanak berdestar, dan Agus Sudarto lewat barong. Ke-Jawa-an Jrabang dan G Haryanto pada semiotika pewayangan. Meskipun khusus untuk Jrabang perlu diberi tambahan simbol-simbol lain yang lebih multikultural: ada Superman, badut pelawak, malaikat versi Alkitab. Meskipun begitu, lukisan itu tetap memperjelas apa yang ditulis Triyanto dan Tubagus, ‘’Ruang:Tanda adalah ruang dialog kebudayaan, dialog di antara berbagai-bagai budaya (dengan ‘b’ kecil) dan tradisi perupa Semarang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;TAPI bagaimana membaca tradisi pada lukisan-lukisan pelukis lainya? Beberapa lukisan di atas ‘’seolah-olah’’ mudah dibaca tanda-tandanya karena memang simbol-simbolnya terterakan jelas-terang. Bagaimana misalnya membaca lukisan ‘’Persaksian (in waiting…)'' karya Ibnu Thalhah. Sebermula mengamati lukisan bermedium campuran di atas kertas itu saya membayangkan Bukit Golgota tempat Yesus, Barnabas, dan banyak penjahat lainnya disalibkan. Tapi salib itu berdiri di tengah sebuah kapal besar dan lebih mirip tiang pancang layar, sementara sang tersalib memiliki sayap kuning, sosok yang umumnya dikenal sebagai malaikat. Ada semacam tradisi biblikal di situ seperti diterakan misalnya oleh busana orang-orang yang terlibat dalam ‘’persaksian’’ penyaliban itu.&lt;br /&gt;Kesulitan serupa dijumpai saat pembacaan lukisan di kaca karya Imam Bucah yang tertajuk ‘’Mencari Tuhan dengan Doa’’. Simbol-simbol keagamaan yang diterakan begitu tumpang tindih: ada makhluk bersayap, gereja, swastika, bulan bintang, mummi, dajjal, lucifer, sebutir apel (yang dimakan Adam dan Hawa?).&lt;br /&gt;Bagaimana pula membaca ‘’Epitaph’’ Putut Wahyu Widodo? Tak ada ‘’tulisan di batu nisan’’ selain sosok bertubuh hitam ‘’tepekur’’ bersandar pada semacam kursi. Atau, ‘’Trap Counter’’ Bayu Tambeng yang lebih mirip sebuah sketsa belum jadi. Atau, uang kartal 50 ribu rupiah bergambar Soeharto yang persis dengan aslinya dan diberi judul ‘’Reformasi/Refor-mati?’’ karya Ham Ngien Beng. Pada lukisan itu, tanda apakah yang menerakan sebuah kondisi kegagalan reformasi selain ingatan kita terhadap uang kartal tersebut ketika masih diberlakukan? Atau semangat seekor kupu-kupu yang bagaimanakah yang bisa dibaca dari ‘’The Spirit of the Butterfly’’.&lt;br /&gt;Pada lukisan-lukisan itu saya melihat betapa luasnya sebuah ruang untuk mewahanai gagasan-gagasan dari kepala seorang pelukis. Gagasan-gagasan tersebut acap kali bertumpukan, berkelindan, sanding-menyanding, bersirengkuh, dalam sebuah ruang, yang dalam hal ini disebut kanvas atau selembar kertas atau kaca. Dan tentu saja, tidak mudah membaca tanda-tanda yang diterakannya. Sebab, ketika pelukis membingkai semua gagasan dari batok kepalanya, tradisi-tradisi di dalam dirinya yang sudah pasti bersifat personal bersliweran sebelum tumpah di bidang lukisan. Sebagai penikmat, kita lalu hanya bisa meraba-raba dengan kata ‘’mungkin’’ yang tebal.&lt;br /&gt;Untuk hal seperti itu, saya sepakat dengan Triyanto dan Tubagus, bahwa ‘’dialog atau permainan wacana itu didasarkan pada realitas, bahwa latar budaya para perupa itu berlainan dan mereka, bisa jadi, bermukim di wilayah yang multikultur pula. Pluralisme dan multikultualisme adalah pegangan sekaligus lahan kreasi mereka. Dari sana diharapkan muncul visualitas yang sejalan dengan gagasan atau konsep karya-karya mereka.’’ Atau bahwa ‘’Wacana tradisi bisa disikapi pula sebagai fenomen-fenomen ingatan dalam historisitas seseorang’’.&lt;br /&gt;Dengan gagasan pameran serupa itu, gagasan yang menurut saya begitu luas, gagasan yang mewadahi ‘’kisah seseorang’’ tanpa batasan, menikmati karya 16 perupa di Rumah Seni Yaitu ibarat menikmati sepincuk gado-gado. Tiap sayuran, juga kerupuk, sambal, dan lontong memiliki sejarah yang panjang. Ada cerita mengenai perasaan pikiran, curahan keringat, juga semangat menggebu untuk menghasilkan menu yang mirasa.&lt;br /&gt;Sebagai mukadimah sebuah galeri, pameran dengan gagasan serupa itu patut didukung. Bukankah kadangkala kita telah cukup puas hanya bersarapan pagi dengan gado-gado? Apalagi semangat rumah seni adalah memetakan kesenirupaan Semarang yang konon sekian lama tak pernah transparan dan selalu luput dari dukungan institusional akademis. Sebuah semangat menggebu untuk memasukkan praktik kesenirupaan periferal yang tak terjamah dan selalu berkelindan bingung di luar episentrum yang berbasis kekuatan material. Selamat berpameran.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saroni Asikin&lt;br /&gt;Suara Merdeka, Bianglala-21 Agustus 2005&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-939241889267820743?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/939241889267820743/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=939241889267820743' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/939241889267820743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/939241889267820743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/sebermula-adalah-wacana-gado-gado.html' title='Sebermula adalah Wacana Gado-gado'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-6693157984578510447</id><published>2008-10-13T00:51:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:53:08.386-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Theater'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gender'/><title type='text'>Pergumulan Gender dari Kursi Goyang</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSQOOZgwgI/AAAAAAAAAEE/P0ud-CojL5s/s1600-h/sm6seni26.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247978039851139586" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSQOOZgwgI/AAAAAAAAAEE/P0ud-CojL5s/s320/sm6seni26.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;BISA&lt;/strong&gt; jadi, penonton laki-laki yang datang ke Sanggar Gidag Gidig Solo, Senin (24/6/2002) malam itu telah bersiap diri menjadi ajang kutukan kaum perempuan. Sebab, judul repertoar yang hendak disajikan kelompok Rumah Imaji cukup memberi alasan itu: &lt;em&gt;Mari Mengutuk Laki-laki&lt;/em&gt;. Repertoar dalam empat sekuel itu dinukil dari kumpulan cerpen bertajuk sama karya Ludriatin.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Namun, begitu repertoar dimainkan setelah dua pembacaan cerpen oleh Sosiawan Leak dan Ruwi, penonton laki-laki bolehlah menarik napas lega. Tak ada kutukan yang dengan bengis ditujukan pada laki-laki, juga tak ada hujatan keji untuk para lelaki. Yang ada hanyalah kalimat pergolakan deras dari seorang perempuan yang sedang meneguhkan eksistensinya di hadapan lelaki. Jadi, kalau diringkas, yang mengemuka adalah wacana pergumulan gender antara kaum perempuan dan laki-laki.&lt;br /&gt;Paling tidak, kenyataan itulah yang dengan lancar dan lugas keluar dari tokoh Kesi (dimainkan dengan cukup baik oleh Monique) dari atas kursi goyang di dalam satu dari empat sekuel repertoar yang berjudul Perempuan dalam Lukisan tersebut. Sekuel itu pulalah yang merepresentasikan pergumulan gender.&lt;br /&gt;Sebab, tiga sekuel yang lain, yaitu &lt;em&gt;Dongeng Ibu Tokek kepada Anak-anaknya, Jesus Christ in Blues&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Musim Bunga&lt;/em&gt; memberikan cerita yang tidak spesifik berbicara gender. Bahkan, ketiga sekuel itu lebih banyak mempersoalkan soal chaos sosial seputar penjarahan dan kerusuhan massal.&lt;br /&gt;Nah, mari dengar kisah yang deras diluncurkan Monique dari atas kursi goyang! Tokoh aku (Kesi) bersuamikan seorang pelukis sukses. Dia adalah istri sekaligus manajer sang suami. Demi kesuksesan yang tak henti bagi sang suami, dia membangun sebuah restoran yang selanjutnya menjadi tempat yang banyak dikunjungi orang.&lt;br /&gt;Konflik antara tokoh aku dan suami-sebuah konflik incognito-terjadi saat dia mendapati figur penari perempuan dalam lukisan suaminya. Dia mulai dihantui kecemasan begitu mengetahui suaminya "asyik sendiri" dengan lukisan itu. Lalu dia pun bertanya-tanya, "Bagaimana mungkin, suamiku mencintai perempuan dalam imajinasinya?"&lt;br /&gt;Ternyata, perempuan imajiner sang suami itu pada suatu hari muncul di restoran. Kecemasan sekaligus kemarahan Kesi memuncak. Namun, dia tak berdaya. "Aku bisa saja mendekatinya sembari membawa pisau dan menyayat-nyayat wajah wanita itu. Atau, aku bisa membayar orang untuk membunuhnya. Namun, untuk apa? Ini hanya permainan, hanya sebuah permainan. Nyatanya, aku terperangkap dalam sebuah permainan yang aku sendiri tak mampu terus atau berhenti," kilahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Interpretasi Ganda &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tajuk pertunjukan, kita memang dihadapkan pada sebuah interpretasi ganda. Mari Mengutuk Laki-laki bisa dimaknai sebagai ajakan untuk menghujat laki-laki. Namun, ungkapan itu juga bermakna tokoh Mari yang geram terhadap perilaku laki-laki, lalu mengutuki kaum Adam.&lt;br /&gt;Ternyata, interpretasi kedualah yang menemukan verifikasi dalam pementasan. Itu tergambar pada cerpen Mari Mengutuk Laki-laki karya Ludriatin yang dibacakan Ruwi. Ada tokoh Mari yang memang mengutuki kaum lelaki.&lt;br /&gt;Sengaja atau tidak, masalah keserbagandaan seolah-olah mengemuka dalam seluruh pementasan. Bukankah tokoh Kesi yang dalam kesimpangsiuran antara kemarahan pada sang suami dan ketidakberdayaan sebagai istri adalah juga sikap ganda?&lt;br /&gt;Keserbagandaan pun bisa ditafsirkan pada kursi goyang yang menjadi pusat permainan. Dia adalah simbol kenyamanan tokoh Kesi yang terus bergoyang-goyang di atasnya dalam sebuah realitas. Namun, dia juga simbol baginya untuk keluar dari realitas dalam lamunannya. Di kursi goyang itulah, bayang-bayang dan kenyataan "dunia Kesi" dibangun. Peristiwa tersebut diceritakan pada penonton secara repertoral.&lt;br /&gt;Alhasil, sebuah pergumulan gender deras meluncur dari mulut perempuan cantik bernama Kesi di atas kursi goyang yang terus bergoyang sepanjang sekitar satu jam repertoar dimainkan. Sebuah pertunjukan penuh keserbagandaan. Ganda jugakah cara pandang kita terhadap masalah gender? (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks &amp;amp; Foto : Saroni Asikin&lt;br /&gt;Suara Merdeka, 26 Juni 2002&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-6693157984578510447?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/6693157984578510447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=6693157984578510447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/6693157984578510447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/6693157984578510447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/pergumulan-gender-dari-kursi-goyang.html' title='Pergumulan Gender dari Kursi Goyang'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSQOOZgwgI/AAAAAAAAAEE/P0ud-CojL5s/s72-c/sm6seni26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-836859684721464961</id><published>2008-10-13T00:50:00.001-07:00</published><updated>2008-10-13T00:50:52.671-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Theater'/><title type='text'>Kisah Absurditas Tanpa Kerenyit Kening</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSiYX0H2JI/AAAAAAAAAEc/qPWSocDA5T0/s1600-h/garasi1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247998005386664082" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSiYX0H2JI/AAAAAAAAAEc/qPWSocDA5T0/s320/garasi1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;SEORANG&lt;/strong&gt; gadis berkaus dan rok pendek dan topi piknik muncul dan langsung bernyanyi. Seorang lelaki hanya bercawat di dalam etalase dorong dihela ke tengah panggung dan ia langsung menyanyi. Seorang gadis lainnya berbalut gaun malam ungu masuk dan segera bernyanyi. Jauh di belakang mereka, seorang gadis lainnya, bak putri keraton bersimpuh dan menyanyi. Lirih sekali nyanyian mereka. Seperti sebuah serenada pedih pada malam-malam tak berbulan.&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Robot kura-kura dengan kepala patung manusia mulai bergerak memutari miniatur rel kereta api: gerak yang memulakan pecahnya suasana yang beku. Sebab, setelah itu, dari arah kanan melintas orang-orang yang merentang sebelah tangan mirip burung yang patah sebelah sayapnya. Mirip migrasi para burung menuju ke semesta entah. Seseorang naik ke atas robot kura-kura, memintas dan lenyap. Di antara orang-orang yang melintas itu, beberapa berhenti dan mulai meluncurkan kalimat-kalimat puitis yang rawan. Lebih tepatnya, cebisan kutukan yang menggigilkan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNShw-QnneI/AAAAAAAAAEM/6FAgGbGeNqY/s1600-h/garasi3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247997328511966690" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNShw-QnneI/AAAAAAAAAEM/6FAgGbGeNqY/s320/garasi3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;''Sebut aku haram jadah Siwa. Aku adalah celaka dan mengenai seluruh celaka, celakalah Uma, celakalah Siwa, celakalah Wisnu, celakalah Durga dan celakalah dirimu karena mengenalku.''&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Teriakan lain menimpanya seperti sebuah simbal yang dipukul semerta-merta: ''Kalanjana! Kalantaka!'' Tapi teriakan-teriakan itu serupa angin lalu bagi sepasang lelaki-perempuan di situ. Mereka menari-nari lembut seperti dua merpati yang saling memikat sebelum bercintaan. Sementara, seorang manusia bersayap dengan gerak feminim mirip malaikat dalam cerita Alkitab sibuk memutar dan seorang melintas di atas sebuah egrang mirip robot tak berhati.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSh8VhwgFI/AAAAAAAAAEU/rQns_Ejj4DA/s1600-h/garasi5.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5247997523736428626" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSh8VhwgFI/AAAAAAAAAEU/rQns_Ejj4DA/s320/garasi5.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aih, sepanjang fragmen awal ''Waktu Batu A#3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu'' garapan Teater Garasi itu dimainkan, masih belum ada ikatan cerita. Hanya potongan-potongan peristiwa. Meski begitu, sedari fragmen awal itu, ratusan penonton di Gedung Wanita Jepara, Kamis (23/12/2004) malam itu, segera larut dalam pesona yang ditebar Teater Garasi sudah mulai dibangun.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;DUDUK&lt;/strong&gt; di sebuah kursi, di antara ratusan penonton, sebagian besar anak-anak SMA yang selalu gaduh sebelum pertunjukan, saya menonton pertunjukan itu dengan kepala penuh wacana. Wacana penuh puja-puji yang sekian lama dijejalkan media massa mengenai kelompok dari Yogyakarta itu. Mitos-mitos, makhluk-makhluk mitologis, cerita sejarah Majapahit, Jawa, kedatangan orang Portugis, seperti yang beberapa waktu menyesak ke kepala saya mengenai kelompok teater yang gandrung pada absurdisme, bersimpongan ketika mata saya memelototi panggung.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menonton pertunjukan dengan kepala penuh cerita tentu saja menjengkelkan. Mestinya saya kosongkan kepala dan menikmati apa saja yang berlangsung di panggung. Apalagi, garapan sutradara Yudi Ahmad Tajudin memang mengasyikkan mata yang melihat, penuh impresi, atau bahkan hanya tumpukan impresi yang dipepatkan dalam ''kanvas panggung'' besar.Peristiwa-peristiwa teater yang dibangun dalam ''Waktu Batu #3'', juga pada ''Waktu Batu #1:Kisah-kisah yang Bertemu di Ruang Tunggu'', dan ''Waktu Batu #2: Ritus Seratus Kecemasan dan Wajah Siapa yang Terbelah'' hampir selalu berupa potongan peristiwa yang bertumpang-tindih. Mitologi Watugunung sebagai titik berangkat eksplorasi menyeret sekian cerita lain tentang Murwakala, Sudamala, kejatuhan Majapahit, hingga pada persoalan kekinian seperti konflik nusantara, kegamangan generasi sekarang menghadapi zaman, dan banyak lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Coba bayangkan, bagaimana tidak bertumpang tindihnya cerita ketika kita disuguhi kisah incest Watugunung-Shinta, pemerkosaan Siwa pada Uma yang berbuah Kala si pemakan manusia, tetapi berserantaan dengan itu kita disuguhi pula dunia gemerlap pub, fashion, generasi gaul metropolis hingga sosok-sosok dalam impian futuristis? Konsepsi megenai waktu atau kala, atau apapun kalian menyebutnya diperas Teater Garasi di satu panggung dan kita terduduk menontonnya untuk disadarkan bahwa tak ada batasan pada waktu. Dulu, kini, dan esok hanyalah peristiwa yang bertumpang-tindih. Ikatan-ikatannya bisa sangat blur di dalam diri kita.Dan di situlah kita terjebak dalam absurditas. Dan filsafat Absurdisme selalu berkenaan dengan keganjilan (&lt;em&gt;incongruity&lt;/em&gt;) manusia dalam lingkungan eksistensial mereka. Dan itu bisa bermakna sebagai sebuah petaka. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maka dengarlah ucapan Kala yang dikutuk Siwa menjadi pemangsa manusia seperti dalam lakon ''waktu Batu'' itu: ''Aku diciptakan tidak sengaja. Aku adalah kecelakaan dan celakah dirimu karena mengenalku. Aku adalah dentuman besar dilubang kosmos dan setelahnya.''Ahoi! Memang berat teater absurd seperti yang disajikan Teater Garasi seberat menyimak teks-teks yang dimainkan di panggung. Ia memang kelompok yang disebut sebagai grup teater absurd sejak mereka terpikat pada tokoh dramawan absurd Samuel Beckett lewat &lt;em&gt;En Attendant Godot&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Endgame (La fin)&lt;/em&gt;. Dalam filsafat absurdisme, manusia hanyalah sosok mengenaskan, lucu tapi getir, dan hubungan di antara mereka hanyalah miskomunikasi. Pada tataran itu, peristiwa bertumpang-tindih, monolog, impresi-impresi yang dibangun Teater Garasi seola-olah menemu pembenaran konsepsi filosifisnya.Bagi saya, itu sisi paling menarik dalam menikmati sajian ''Waktu Batu''. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagaimana lakon yang terberati beban filosofis, dengan pendekatan teater absurd dikemas dengan hilir-mudik impresi yang memuaskan mata. Sebagai penonton, saya seperti disuguhi potongan pita seluloid dari banyak film yang direkat lagi dan diputar pada layar lebar. Saya sepakat pada komentar cerpenis dan pemerhati seni pertunjukan Triyanto Triwikromo, bahwa ia menonton ''Waktu Batu'' seperti menyimak pameran seni rupa yang diberi teks, seperti mozaika yang indah, nukilan klip musik, atau bahkan seperti menyaksikan para model bergaya di catwalk memamerkan karya perancang busana.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau tidak semacam itu, bagaimana anak-anak SMA di Jepara yang menonton, yang kata Panitia adalah anak-anak yang baru kesengsem teater bisa menonton sepenuh lakon 1,5 jam, terpaku di tempat duduk mereka di balkon? Dan begitu lakon selesai, mereka riuh bertempik-sorak. Ketika itu, saya membayangkan sebuah pertunjukan teater yang menggembirakan seperti kegembiraan mereka menyoraki adegan pria-wanita berakrobat mendedah percintaan di panggung, atau menyoraki manekin yang dipasang di para-para panggung.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Maka, wajar sajian Teater Garasi itu pernah disebut ''gue banget'' atau ''kita banget''. Penonton dan pemain seperti memiliki dirinya sendiri di situ. Paling tidak impresi-impresi peristiwa yang dipanggungkan adalah impresi-impresi personal: suasana stasiun, salon kecantikan, ruang tamu yang soliter, seperti ditunjukkan pada beberapa adegan ''Waktu Batu #3''.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;DAN&lt;/strong&gt; saya duduk bersama mereka.Tapi tak seperti mereka, saya hanya punya sedikit kegembiraan oleh impresi-impresi yang tersaji dipanggung. Sial sekali memang. Kepala saya tak bisa nihil. Seperti kecamuk yang menuntut sebuah permainan teaterikal yang sempurna. Saya menginginkan aktor-aktor yang ekspresif, yang mengucap dialog dengan intensitas artikulasi. Saya butuh suasana dramatik, bukan potongan peristiwa seimpresif apapun. Sebab, Yudi sang sutradara, juga Teater garasi dibentuk tahun 1993 dengan visi bahwa peristiwa teater mesti dramatik yang membetot emosi, meneror, memberi pencerahan, menerbitkan sensasi, membangkitkan kesadaran sosial-politik, dan banyak lagi.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi seusai menontonnya, saya tahu bahwa kebutuhan akan suasana dramatik itu ternyata sudah saya peroleh. Kecamuk di benak, ketika dan setelah menonton ''Waktu Batu A#3: Deus ex Machina dan Perasaan-perasaanku Padamu'' yang lahir dari potongan peristiwa teater itu adalah bukti bahwa emosi saya terbetot, terteror, tercerahkan, &lt;em&gt;etcetera&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Apalagi berhadapan dengan tema ''waktu'', lalu saya jadi teringat Eisntein dan Alan Lightman. Nama terakhir itu pernah begitu jenius menafsir teori kaku Relativitas Einstein menjadi sebuah novel yang melodius, penuh tonalitas diksi, dan kaya deskripsi puitis. Judulnya &lt;em&gt;Einstein's Dreams&lt;/em&gt; atau Mimpi-mimpi Einstein.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lihat satu bab bertajuk ''15 Mei 1905''. Lightman menulis dengan provokatif: ''Bayangkan dunia tanpa waktu. Hanya bayang-bayang...''Ya, hanya bayang-bayang. Hanya fragmen-fragmen lepas. Hanya impresi-impresi tanpa makna: ada seorang lelaki yang duduk termenung memegangi potret seorang gadis; ada seekor kucing mengincar kumbang di jendela; ada butir air di jendela; ada tali tergulung.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ah, impresi tanpa makna. Butuh seorang penyair untuk memaknakannya. Tapi bisa apa dia tanpa adanya waktu. Dan dalam telikungan waktu itu, impresi-impresi haruslah dimaknakan. Dan itulah yang dilakukan Teater Garasi: berusaha memaknakan impresi yang dibangunnya sendiri di panggung teater. Ia membuatnya jadi puisi indah lewat tim penulis lakonnya Andri Nur Latif, Gunawan Maryanto, dan Ugoran Prasad. Puisi tentang waktu yang mereka garap dari proses sekian tahun.Dan kita yang menonton eksplorasi lakonnya hanya termehek-mehek di kursi ruang pertunjukan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Ya, untuk sebuah konsepsi yang sefilosofis ''waktu'' dan sekaku Teori Relativitas, kita bisa menikmatinya dengan penuh gembira dan menggapai-gapai keindahannya. Alan Lightman dan Teater Garasi telah memberikannya. Khusus Teater Garasi, ia menawarkan kisah absurditas yang rumit tapi dan kita tak perlu mengernyitkan kening.(*)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Teks dan Foto : &lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 26 Desember 2004&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-836859684721464961?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/836859684721464961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=836859684721464961' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/836859684721464961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/836859684721464961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/kisah-absurditas-tanpa-kerenyit-kening.html' title='Kisah Absurditas Tanpa Kerenyit Kening'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNSiYX0H2JI/AAAAAAAAAEc/qPWSocDA5T0/s72-c/garasi1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-135524429188337531</id><published>2008-10-13T00:48:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:49:42.919-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religion'/><title type='text'>Hidup Wadat dan Bersunyi-sunyi di Rawaseneng</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNTw43ayxEI/AAAAAAAAAEk/rqNx27C2ikU/s1600-h/rowoseneng1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248084325533140034" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNTw43ayxEI/AAAAAAAAAEk/rqNx27C2ikU/s320/rowoseneng1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;KEDATANGAN&lt;/strong&gt; ke Pertapaan Rawaseneng buat saya adalah wisata spiritual paling mengharu-biru. Tempat yang saya tuju bukanlah makam untuk berziarah dan berkhalwat. Pun tak ada cerukan gua, atau ruang khusus bersamadi dan bertapa meskipun tempat itu disebut sebagai pertapaan.&lt;br /&gt;Keterharu-biruan itu barangkali karena saya menjumpai orang-orang, tepatnya para lelaki yang begitu teguh menggenggam keyakinan mereka hingga begitu rela hidup bersunyi-sunyi, hidup wadat atau selibat (tak menikah-red) dan bersahabat kesepian. Para lelaki yang hidup untuk Tuhan dalam untaian doa, dalam lantunan madah dan mazmur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mereka itu para lelaki yang asyik-masyuk mengagungkan nama Tuhan dalam sebuah kapel yang hening dan tak henti-henti mendengungkan gregorian ke langit Rawaseneng, Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung yang sejuk, sesekali berkabut. Ya, puja-puji itu seolah-olah mampu menembus dinding beku kapel, bersipongan dengan kertap dedaunan kopi, lenguh sapi peternakan, menjauh dan menyelubungi pepohonan pinus di sekitar situ.&lt;br /&gt;Sebelum datang, saya pun membayangkan sebuah pertapaan dalam sebuah gua yang dipenuhi ornamen gerejawi seperti Yesus Kristus dalam salib, patung Bunda Maria, dan palung semen tempat air suci. Ketika mencoba mencari tahu pada sopir yang saya carter dari Sumowono, Ambarawa, dia tak apa-apa.&lt;br /&gt;''Rawaseneng yang untuk mancing itu?'' tanya dia. Ketika saya katakan tempat itu sebuah biara, dia menangkapnya sebagai vihara (tempat ibadah Buddha) yang memang terdapat di pinggir lintasan laju mobil kami. Syukurlah, setidaknya dia tahu jalur menuju desa Rawaseneng. Jalan yang penuh kelokan dengan kanan-kiri penuh tanaman jagung dan jahe. Kata dia, di sepanjang lintasan itu, kedua tanaman itu memang mata pencaharian penduduk.&lt;br /&gt;Setelah melewati jalanan yang kanan-kirinya penuh pohon pinus, pada sebuah pertigaan tempat pemberangkatan Angkutan Pedesaan (angkudes) jurusan Temanggung-Rawaseneng, kami berhenti. Oh ya, angkudes itu juga alat transportasi dari terminal Temanggung ke lokasi wisata spiritual tersebut. Jarak tempuhnya sekitar 14 kilometer.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;SAYA&lt;/strong&gt; tiba di pertapaan berordo Trappist itu tepat pukul 12.00 lewat beberapa menit. Itu bukan saat yang tepat bagi sebuah visitasi atau rekoleksi (kunjungan sesaat). Itu saat para rahib melakukan Ibadat Siang II di kapel. Tak ada seorang pun saya jumpai. Dari luar saya mendengar dengungan madah dan mazmur dari dalam kapel. Seorang lelaki muncul dan menuju ruang penerimaan tamu. Saya katakan pada Suyatno, nama lelaki itu, ingin menemui Kepala Biara. ''Oh, Abas Kepala, Pater Frans sedang berdoa. Ini jam Ibadat Siang. Tunggulah!''&lt;br /&gt;Abas yang disebutkan maksudn&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNTxW-VfnII/AAAAAAAAAEs/tuS4oumsVGc/s1600-h/rowoseneng2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5248084842786036866" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNTxW-VfnII/AAAAAAAAAEs/tuS4oumsVGc/s320/rowoseneng2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ya Kepala Biara. Namanya Frans Harjawiyata OCSO. gelaran itu merujuk pada ordo Katholik yang dipegang di biara itu, yaitu Ordo Cisterciensis Strictoris Observantiae (Ordo Cistersiensi Observansi Ketat) yang selanjutnya lebih dikenal dengan nama Ordo Trappist.&lt;br /&gt;Sembari menunggu para rahib usai berdoa di kapel, saya bertanya padanya catatan atau buku mengenai sejarah Pertapaan Santa Maria Rawaseneng. Dia mengunjukkan sebuah buku dari deretan buku rohani di etalase. Karena itu dijual, saya membelinya. Judulnya ''Berziarah Setengah Abad'' tulisan Pater Frans. Itu buku peringatan 50 tahun (1953-2003) biara tersebut.&lt;br /&gt;Isinya lengkap mengenai perjalanan panjang pertapaan itu. Suyatno juga memberikan sebuah buku tipis berjudul ''Rawaseneng: The Call to the Trappist Life''. Dari buku tipis itu, saya tahu secara singkat perihal pendirian Pertapaan Rawaseneng, sejarah Ordo Trappist beserta catatan mengenai Santo Benediktus yang memelopori ordo tersebut, serta perikehidupan para rahib di situ.&lt;br /&gt;Sebelum menjadi biara, tulis buku itu, di situ berdiri sekolah pertanian asuhan Bruder Budi Mulia. Clash fisik tentara Republik dengan Belanda pada tahun 1948, menghancurleburkan bangunan itu. Tahun 1950, Pater Bavo van der Ham, rahib Trappist dari Tilburg, Belanda datang ke situ dan memelopori pendirian biara berordo Trappist di situ. Tanggal 1 April 1953, resmi berdiri biara dengan nama Cisterciensis Santa Maria Rawaseneng yang lalu lebih terkenal dengan sebutan pertapaan Rawaseneng.&lt;br /&gt;Seiring waktu, biara itu mulai diminati dan banyak yang bergabung sebagai rahib. Alhasil, 26 Desember 1958, biara itu menjadi otonom dengan status keprioran. 23 April 1978 statusnya meningkat lagi menjadi keabasan. Sejak itu pulalah Pater Frans diangkat menjadi Abas.&lt;br /&gt;Perkembangan berikutnya, biara Rawaseneng mendirikan biara serupa di Flores tahun 1996 setelah sebelumnya mendirikan biara Trappistin (untuk biarawati) di Gedono, Salatiga tahun 1987.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;USAI&lt;/strong&gt; Ibadat Siang, Pater Frans menemui saya di Kamar Bicara. Kalau lihat jadwal semestinya saat itu waktu istirahat dia dan para rahib. ''Tak apa-apa. Ini kan juga bagian kerja pastoral (kegiatan pelayanan-Red),'' katanya.&lt;br /&gt;Dia ramah. Usianya 72 tahun dan sudah 43 tahun mendiami Pertapaan Rawaseneng. Tak begitu lama perbincangan kami. Secara singkat dia menjelaskan rutinitas kehidupan para rahib di situ seperti yang saya tanyakan.&lt;br /&gt;''Berdoa dan bekerja. Anda bisa lihat pada jadwal sehari-hari para rahib. Semua serbaterjadwal. Makanya, dengan keketatan hidup serupa itu, banyak yang tak kuat. Perbandingan yang kuat dan tak kuat hidup di biara biasa 20-80.''&lt;br /&gt;Itu mencengangkan. ''Tapi kami bukan komunitas ekslusif, lho. Kami juga berbaur dengan masyarakat. Tapi dalam arti untuk urusan-urusan sosial belaka. Kami ini membuka peternakan dan pemerahan susu sapi dan perkebunan kopi. Penduduk membeli dari kami dan rata-rata yang bekerja juga mereka. Itu wujud sosialisasi.''&lt;br /&gt;Saya tanyakan pula perihal citra ordo Trappist yang terkenal keras, seperti misalnya berdoa sambil menyakiti diri-sendiri. ''Ah, itu mitos. Keras dalam arti hidup dalam biara, terjadwal, tak bebas ke mana-mana, ya. Tapi itu pilihan menjadi rahib, bukan? Wajar pula memang banyak yang tak kuat.''&lt;br /&gt;Usai perbincangan singkat, saya meminta izin untuk berkeliling biara: melihat sapi-sapi yang diternakkan, perkebunan kopi, atau pembuatan kue yang jadi aktivitas sehari-hari para rahib selain berdoa.&lt;br /&gt;''Sayangnya ini jam istirahat. Nantilah seusai Ibadat Sore. Mungkin Frater Theo bisa memandu Anda.''&lt;br /&gt;Saya memang harus patuh pula pada jadwal ketat di biara itu. Ibadat Sore baru dimulai pukul 14.30. Syukurlah, pada ibadat itu saya diizinkan masuk ke ruang kapel dan memotret aktivitas para rahib.&lt;br /&gt;Pukul 14.15, lonceng di dalam kapel dibunyikan oleh seorang &lt;em&gt;frater&lt;/em&gt; (sebutan untuk rahib). Saya masuk ke kapel. saat itu petugas pembunyi lonceng Frater Amadeus. Dia masih berstatus &lt;em&gt;novis&lt;/em&gt; (tahapan hidup membiara usai menjalani masa postulat atau percobaan).&lt;br /&gt;Tak beberapa lama para ''frater'' berdatangan dan segera menempati kabin doa masing-masing yang berada dalam dua sayap kapel. Agak terpisah dari pada sisi kanan altar, seorang frater yang bertugas memainkan piano sudah berada di tempatnya. Beberapa tamu yang datang untuk retret (menginap dan beraktivitas di situ minimal tiga hari-Red) atau yang hanya melakukan rekoleksi, masuk kapel dan menempati bangku terpisah di belakang kapel. Mereka akan ikut berdoa. Soal tamu, Pertapaan Rawaseneng memang telah cukup mengharu-biru mereka untuk sekadar mampir atau bahkan tinggal berhari-hari di situ. Tak jarang, yang datang berupa rombongan keluarga, lengkap dengan anak-anak mereka.&lt;br /&gt;Maka, di kapel itu segera mendengunglah koor madah puji-pujian. Syahdu, kadangkala senyap. Adakalanya seseorang melantunkan doa sendiri dan dibalas oleh gaung doa bersama. Setengah jam doa dalam Madah Zakaria, Madah Simeon, disusul Te Deum dan berakhir usai Antheum Maria. Semuanya dilantunkan dalam nada gregorian yang syahdu dan seolah-olah selalu penuh kesedihan.&lt;br /&gt;Begitu selesai, para rahib itu segera memasuki kamar mereka masing-masing. Saat itu, saya berpikir betapa hidup mereka seolah-olah terbingkai pada satu kamar sempit yang menjadi tempat pertapaan, ruang kapel dan ruang tempat mereka berkarya. Dari hari ke hari, bertahun-tahun, bahkan ada yang menjalaninya selama lebih dari 30 tahun. Hidup yang mau tak mau membuat saya seolah-olah tak mengerti tapi di sisi sebaliknya saya mengagumi keteguhan mereka.&lt;br /&gt;Usai aktivitas di kapel, Frater Theodorus menjumpai saya dan berkehendak memandu saya berkeliling biara. Saya terkejut dan agak pangling. Di kapel tadi dia bersama para rahib memakai jubah putih dengan skapulir hitam, khas para rahib Katholik. Saat itu dia mengenakan baju yang mirip jaket dengan kap (topi kain yang bersambungan dengan baju). Apalagi dia mengenakan kacamata hitam. Kalau tak melihat ciri kap pada pakaian yang dikenakannya, dia tak lebih seperti lelaki muda di luar biara.&lt;br /&gt;''Lho boleh berbaju bebas toh, Frater?'' tanya saya. Dia tersenyum dan sembari menyetarter sepeda motor dan memboncengkan saya, dia menjawab, ''Oh boleh, tapi tetap dengan ciri kap ini.''&lt;br /&gt;Kami menuju tempat penimbangan kopi yang baru dipanen dariperkebunan milik biara. Kata Pater Frans, kopi biasanya hanya sekali panen setahun. Di tempat itu, banyak aktivitas: menimbang kopi, mengeruk kopi dan membawa ke tempat pencucian, membersihkan kopi yang bergetah sebelum memasukkannya ke mesin penggiling.&lt;br /&gt;Dari situ kami menuju tempat pembuatan kue. ''Itu oven kami. Besar. Pembuatan kue ini salah satu aktivitas para frater dipagi dan sore hari,'' ujar Frater Theo.&lt;br /&gt;Seseorang sedang mengepak kue. Kue-kue itu ditaruh di etalase dan tamu atau penduduk biasanya membeli dari situ. ''Anda coba bikinan kami. Enak, lo.''&lt;br /&gt;Saya mencoba kue yang disodorkannya. Biskuit coklat yang enak. lalu kami menuju peternakan. Ada lebih dari 100 sapi dimiliki biara. Setiap hari, sekitar 60-70 ekor diperas susunya.&lt;br /&gt;''Penduduk membeli dari kami. Tapi banyak yang kami distribusikan hingga ke Semarang.''&lt;br /&gt;Susu di situ katanya memang lain. Paling tidak itu menurut Pak Adrianto dari Klaten yang secara berkala menyengaja ulang-alik hanya untuk beli susu di situ.&lt;br /&gt;Senja sudah mulai bergerak turun ketika saya ikut mobil Pak Adrianto menuju Secang lewat Temanggung. Di dalam mobil, lelaki tua itu berkata, ''Hebat ya para frater yang rela memilih hidup di situ. Padahal banyak yang muda, lo.''&lt;br /&gt;Ketika itu benak saya terbayang Frater Theo yang sudah 14 tahun di situ dan baru berusia 34 tahun. Satu orang lagi yang sempat saya tahu namanya, Frater Amadeus, juga masih muda.&lt;br /&gt;Saya menyambung, ''Hebatnya lagi mereka mau hidup wadat (tak menikah).''&lt;br /&gt;Pak Adrianto tertawa dan berkata, ''Kalau saya semuda mereka, wah sulit kalau meninggalkan yang satu itu. Tapi sudah pilihan mereka, kok.''&lt;br /&gt;Ya! Sudah pilihan mereka. Itu juga perkataan Frater Theo ketika memandu saya, ''Manusia itu makhluk dengan rasio. Binatang tak punya. Kalau binatang terdesak kebutuhan biologis, mereka langsung saja tanpa berpikir. Tapi manusia mampu mengendalikan kebutuhan biologisnya dengan pikirannya.''&lt;br /&gt;Saya tahu itu pilihannya, juga para frater lainnya. Hidup wadat, bersunyi-sunyi, amboi....(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Sehari dalam Kehidupan Para Rahib &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MENJADI&lt;/strong&gt; rahib adalah pilihan seseorang. Menjadi rahib juga dimaknakan sebagai panggilan Tuhan untuk melulu hidup demi Dia dalam kesunyian. Panggilan hidup dalam rupa doa. Ya! Kesunyian dan doa, juga kehidupan wadat atau selibat.&lt;br /&gt;Serupa itu pula kehidupan para rahib Ordo Trappist di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng. Menurut Pater Frans, ada sekitar 30 orang. Tambahan dari Frater Theodorus, dari jumlah itu masih ada yang berstatus postulat dan novis.&lt;br /&gt;''Cirinya pada jubah yang dikenakan. Frater juga Pater memakai jubah putih berskapulir hitam. Novis jubah putih dengan kap. Postulat serupa novis hanya saja ada sejenis pakaian diagonal di atas dadanya berwarna putih.''&lt;br /&gt;Dia lalu menunjukkan gambar Santo Benediktus yang berjubah hitam-tebal. ''Walau yang kami acu orang suci itu, baik ajaran maupun cara berpakaiannya, tetapi bahan dan warnanya boleh berbeda.''&lt;br /&gt;Di kalangan para rahib pada Pertapaan Rawaseneng, hidup bukanlah sesuatu yang sederhana dan waktu tak bisa untuk bermain-main. Kehidupan mereka terjadwal secara ketat. Porsi untuk berdoa pun sangat besar. Lihat misalnya, bagaimana dalam satu putaran hari, ada tujuh kali ibadah dilangsungkan. Bayangkan, sehari dengan tujuh kali berdoa dalam cara yang sama! Dan itu berlangsung setiap hari.&lt;br /&gt;Hidup para rahib bermula pada pukul 03.15. Mereka bangun dari tidur secara serentak dipandu oleh lonceng yang berbunyi dari dalam kapel. Seperempat jam berikutnya, para rahib itu sudah suntuk dalam doa pada Ibadat Bacaan (vigil) disambung dengan meditasi di dalam kapel.&lt;br /&gt;Mulai pukul 04.45, para rahib membaca buku-buku rohani. Program rutinnya disebut Lectio Divina.&lt;br /&gt;''Kalau dulu para rahib hanya baca kitab suci, kini bacaan itu lebih banyak lagi. Sekarang kan banyak buku rohani yang bagus,'' ujar Frater Theodorus.&lt;br /&gt;Usai aktivitas itu, ada Ibadat Pagi pada pukul 06.00 yang dilanjutkan dengan sarapan pagi, dan waktu senggang sejenak. Waktu senggang tersebut dapat dimanfaatkan oleh rahib untuk melakukan keperluan pribadi, sebatas masih dalam kompleks biara.&lt;br /&gt;Pukul 08.00, para rahib masih harus kembali ke kapel untuk Ibadat Siang I. Hanya 15 menit doa itu dan dilanjutkan waktu bagi mereka untuk bekerja yang berakhir pukul 11.30. Usai kerja itu, para rahib bersiap-siap untuk melakukan Ibadat Siang II pada pukul 12.00. Hanya seperempat jam ditambah lima menit pemeriksaan batin (semacam meditasi singkat) sebelum mereka bersama-sama menuju Ruang Makan dan makan siang bersama dan istirahat siang.&lt;br /&gt;Pada saat istirahat itu, para rahib melakukan siesta atau tidur siang yang berakhir ketika lonceng dibunyikan seorang frater pada pukul 14.15 sebagai persiapan Ibadat Sore (vesper) selama setengah jam (14.30-15.00). Setelah itu, para rahib kembali bekerja hingga pukul 16.30 disambung Lectio Divina pukul 16.45.&lt;br /&gt;Perayaan Ekaristi (Holy Mass) atau Misa Agung harian dilangsungkan pukul 17.30 hingga 19.50 dengan pembacaan Peraturan Santo Benediktus di Ruang Kapitel. Peraturan tersebut bersifat wajib bagi semua ordo yang mengikuti jejak orang suci itu.&lt;br /&gt;Seluruh aktivitas para rahib dalam sehari itu ditutup dengan Ibadat Penutup (compline) yang berakhir pukul 20.15. Setelah itu, para rahib masuk ke kamar masing-masing untuk tidur dan menyongsong aktivitas serupa di hari berikutnya.&lt;br /&gt;Selalu berulang begitu setiap hari. Itu untuk hari-hari kerja biasa. Untuk hari Minggu atau Hari Raya, secara spesifik tak ada yang berubah, selain Pertemuan Komunitas atau bertemunya seluruh anggota biara seusai Ibadat Pagi.&lt;br /&gt;Dan Anda bisa membayangkan suatu kehidupan yang bergulir dengan hal yang sama setiap harinya.&lt;br /&gt;''Ini sudah jadi pilihan saya. Dan saya menjalaninya dengan bahagia,'' kata Frater Theodorus. Mungkin saja memang dia menyuarakan suara kawan-kawan sebiaranya. (*)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Minggu 6 Agustus 2003)&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-135524429188337531?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/135524429188337531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=135524429188337531' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/135524429188337531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/135524429188337531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/hidup-wadat-dan-bersunyi-sunyi-di.html' title='Hidup Wadat dan Bersunyi-sunyi di Rawaseneng'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SNTw43ayxEI/AAAAAAAAAEk/rqNx27C2ikU/s72-c/rowoseneng1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-2975825623670090539</id><published>2008-10-13T00:46:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:47:35.767-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='China'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourisme'/><title type='text'>Cerita dari Hutan Batu</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;BAYANGKANLAH&lt;/strong&gt; sebuah hutan. Pepohonan lebat, hijau, dan liar. Selalu ada misteri terserak di dalamnya. Bayangkanlah andai di hutan tersebut kelebatan, keliaran, dan kemisteriusan itu bukannya tercipta dari deretan pepohonan, melainkan batu-batu. Ya, batu-batu karsit hasil endapan ratusan juta tahun di dasar laut. Maka yang terpacak di benak adalah sebuah hutan batu. Dan itu bisa Anda temukan di distrik Lunan Yu, 120 kilometer di tenggara dari pusat kota Kunming, provinsi Yunnan, China. Orang China menyebutnya Shi Lin. Kita boleh memadankannya dengan istilah Hutan Batu, dan bagi turis internasional, ia biasa disebut Stone Forest.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Stone Forest berisi tonggak-tonggak batu karsit besar yang menurut penelitian telah berusia 270 juta tahun. Batuan tersebut terbentuk oleh proses sedimentasi dasar laut. Dengan begitu, kita bisa membayangkan bahwa tanah Shilin atau Lunan Yu di Provinsi Yunnan China tersebut dulunya adalah lautan.Berdasarkan prasasti yang ada di lokasi dengan tulisan dalam huruf China dan terjemahannya dalam bahasa Inggris, disebutkan bahwa pada tahun 1931, Gubernur Yunnan yang bernama Long Yun berkunjung ke tempat tersebut dan terperangah oleh kedahsyatan bebatuan yang ada. Lalu dia menuliskan dua karakter China yang berbunyi Shi Lin atau Hutan Batu. Selanjutnya, inskripsi hasil tulisan tangan sang gubernur dipahatkan di salah satu batu di Da Shi Lin, sekaligus memberi nama loka tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama bertahun-tahun, Stone Forest telah menjadi objek wisata tang tak pernah sepi pengunjung. Apalagi memang begitu banyak kemudahan untuk pergi ke lokawisata yang sangat terkenal tersebut. Di Kunming misalnya, begitu banyak biro travel yang menawarkan wisata ke tempat eksotis itu. Apalagi, begitu banyak orang asing melewatkan liburan musim panas di kota tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Jumat (24 Juni 2005), bersama saya dalam satu mobil yang disediakan biro travel Kunming Camellia Hotel, ada pasangan Clay dan Anna dari Australia, Alban Molle dari Prancis, James Wangzhu dari Singapura, dan Chang Faiyuk orang Kanada keturunan China. Iini mirip perwisataan pelbagai bangsa. Jadinya perjalanan terasa mengasyikkan karena kami bisa saling berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Paling tidak, saya tak perlu merasa tengah mendengarkan sinetron Mandarin tanpa pernah tahu maknanya seperti telah beberapa hari saya alami ketika berada di dalam alat transportasi umum. Perlu dicatat, orang China terkenal suka mengobrol di bus atau kereta dengan langgam bahasa mereka yang cepat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam perjalanan, ketika saling mengobrol, tema kedahsyatan Stone Forest sudah bergaung. Meskipun kami baru mereka-reka berdasarkan informasi yang kami dengar atau baca, seolah-olah kami akan menuju ke suatu tempat yang menakjubkan di dunia. Ya, mobil berjalan melalui banyak Express Way atau jalan bebas hambatan sebelum memasuki areal pedesaan dan pebukitan Yunnan yang terkenal alamiah tersebut. Di kanan kiri kami, terbentang ladang-ladang sayuran dan bebuahan. Untuk orang dari Indonesia yang tak pernah melihat tanaman persik dan plum, pedesaan Yunnan memberi tambahan pengetahuan. Apalagi, di musim panas itu, kedua tanaman itu sedang berbuah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sekitar 4 kilometer sebelum lokasi Stone Forest, kami telah melihat bukit-bukit yang penuh dengan tonggak-tonggak batu. Dari kejauhan, lanskap tersebut lebih mirip pepuingan candi di areal yang sangat luas. Awal kekaguman kami sudah bermula dari situ. Sopir kami, orang China, yang bereaksi terhadap keheranan kami, mengucapkan kata-kata dalam Mandarin. James yang bisa berbahasa Mandarin menerjemahkannya untuk kami. Katanya, itu belum seberapa, karena luas areal Shi Lin atau Stone Forest sekitar 300 kilometer persegi. Alamak! Dan untuk wisata satu hari, paling-paling kami hanya bisa mengunjungi &lt;em&gt;Daxiao Shi Lin&lt;/em&gt; (Hutan Batu yang besar dan kecil) saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari literatur yang saya baca, Stone Forest memiliki 7 titik lanskap. Enam lainnya adalah &lt;em&gt;Naigu Shi Lin&lt;/em&gt; (Batu Hutan Hitam), &lt;em&gt;Daxiao Zhiyun Dong&lt;/em&gt; (Gua Batu Zhiyun Besar dan Kecil), &lt;em&gt;Chang Hu &lt;/em&gt;(Danau Persegi), &lt;em&gt;Yue Hu&lt;/em&gt; (Danau Bulan), &lt;em&gt;Qifeng Dong&lt;/em&gt; (Gua Batu Angin Keras), dan &lt;em&gt;Da Dieshin&lt;/em&gt; (Air Terjun Besar).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan meskipun Anda hanya punya kesempatan mengunjungi &lt;em&gt;Daxiao Shi Lin&lt;/em&gt;, tak perlu terlalu kecewa. Sebab, titik lanskapnya sendiri terbagi dalam banyak bagian yang menarik. Yakni, &lt;em&gt;Shi Lin Hu&lt;/em&gt; (Danau Hutan Batu Besar) &lt;em&gt;Da Shi Lin&lt;/em&gt; yang juga dinamakan &lt;em&gt;Lizi Qing&lt;/em&gt; (Lembah Tanaman Plum), &lt;em&gt;Xiao Shi Lin&lt;/em&gt; (Hutan Batu Kecil), &lt;em&gt;Lizi Yuan&lt;/em&gt; (Perkebunan Plum), &lt;em&gt;Shizi Ting&lt;/em&gt; (Paviliun Singa), &lt;em&gt;Jiangfeng Chi&lt;/em&gt; (Kolam Ujung Pedang), &lt;em&gt;Wangfeng Ting&lt;/em&gt; (Paviliun Menara Pandang), dan &lt;em&gt;Lianhua Feng&lt;/em&gt; (Puncak Bunga Padma).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;SAMPAILAH&lt;/strong&gt; kami di lokasi. Di loket masuk, kami harus membayar tiket seharga 80 RMB Yuan (sekitar Rp 96 ribu). Pelajar atau mahasiswa boleh membayar 50 RMB Yuan dengan menunjukkan kartu pelajar. Memang, banyak tempat khususnya museum di China menggratiskan tiket untuk mereka. Si Prancis Alban rupanya ingin mendapat keistimewaan itu. Saya melihat dia menyodorkan &lt;em&gt;Carte d'Identité&lt;/em&gt; (KTP Prancis) miliknya sembari menyerahkan 50 RMB Yuan. Petugas di loket tak terlalu memeriksa dan menyerahkan tiket dengan harga tersebut. Saya bilang padanya, &lt;em&gt;''Tu es intelligent d'économiser ton argent, hein?''&lt;/em&gt; (Cerdik betul kau mengirit uangmu, ya?) Alban hanya tertawa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa pemandu yang kebanyakan gadis-gadis suku Sani dalam pakaian khas kaum Yi merubungi kami untuk menawarkan jasa. Kebanyakan dari mereka hanya tahu bahasa Mandarin dalam dialek setempat. Selain untuk James, tentu saja itu tak akan berarti buat kami. Akhirnya seorang pemandu yang mengaku bernama Inggris Lina (nama aslinya Ge Zhu Qing) mendatangi kami sembari meyakinkan bahwa hanya dia seorang di antara banyak pemandu di situ yang bisa berbahasa Inggris. Cukup murah harga yang ditawarkan. Hanya 80 RMB Yuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka, kami mulai berjalan. Dan agaknya, Stone Forest memang mirip butir-butir gula yang selalu dikerubut semut. Begitu banyak orang di situ: pewisata dari berbagai bangsa, juga orang China, para pedagang, pemandu, atau sopir angkutan khusus wisata di situ yang harganya 200 RMB Yuan untuk sekitar dua jam.Situs pertama yang kami kunjungi adalah areal Da Shi Lin (Hutan Batu Besar). Lina dengan kefasihan Inggrisnya tak henti-hentinya memberi penjelasan. Di situs tersebut, berjubel orang mengagumi pilar-pilar batu besar yang seolah-olah menantang langit yang ketika itu bermatahari sangat menyengat. Para pengujung sibuk memotret, memegangi kekerasan batu-batu karsit tersebut. Banyak pula yang menyewa kostum Yi untuk sekadar berpose dengan latar belakang tonggak-tongak batu. Apalagi biayanya hanya 10 RMB Yuan sekali pakai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ya, berhenti di situs tersebut, saya membayangkan sebuah lanskap yang tak ubahnya sebuah hutan majal penuh pokok pepohonan besar yang terpotong-potong tanpa dedaunan. Hanya saja, pokok-pokok itu bukan kayu melainkan batu-batu karsit yang berusia ratusan juta tahun. Alangkah dahsyatnya! Dan itu baru awal perwisataan. Sebab, selanjutnya kami tak henti-henti dianugerahi gelimang keagungan alam yang memuaskan pandang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari &lt;em&gt;Da Shi Lin&lt;/em&gt; kami meniti trap-trap yang melingkar-lingkar, menanjak dan menurun, berjalan satu demi satu memasuki celah-celah sempit di antara tongak-tongak batu. Sampai di ujung menara pandang, kami harus berjalan begitu berjejalan saking banyaknya pengunjung. Dari atas menara tersebut, keluasan lanskap (paling tidak di areal &lt;em&gt;Daxiao Shi Lin&lt;/em&gt;) terpampang dari berbagai sudut. Geremengan dalam pelbagai bahasa terdengar seperti bunyi ribuan lebah di situ. Dan hampir semuanya menguarkan kekaguman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Masih banyak bagian yang harus kami kunjungi. Kami memang telah mulai merasa lelah. Tapi panduan Lina yang hampir selalu berbicara dalam nada riang sepanjang perjalanan, kesejukan udara di situ, serta keingintahuan kami untuk mengetahui lebih banyak lagi cukup membuat semangat kami tetap menyala.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;DI&lt;/strong&gt; Stone Forest, sepanjang menyusuri setiap celah batu, berhenti sesaat kreasi alam, pengunjung juga bakal disuguhi cerita di balik kemisteriusan bentuk bebatuannya. Menarik benar menyusuri setiap cerita yang seolah-olah terdedah dari bentuk sebuah batu. Apalagi pihak pengelola lokawisata membagi Stone Forest ke dalam bagian-bagian yang dibingkai dalam sebuah sekuel cerita.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Maka jangan heran, pada sebuah persimpangan trap, Anda akan menjumpai sebuah tengara batu yang menunjukkan arah ke suatu bagian dengan nama unik. Keunikan nama-nama tersebut merujuk pada bentuk batu yang diandalkan. Memang secara umum, penamaannya lebih banyak berasal dari penglihatan pada bentuk batu yang ‘’seolah-olah’’ mirip suatu bentuk. Beberapa nama yang telah saya sebutkan di bagian sebelumnya, sudah memberi bukti betapa uniknya penamaan bagian-bagian situs di &lt;em&gt;Daxiao Shi Lin&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Beberapa diberi nama tanaman atau binatang. Sekali lagi, nama diberikan atas alasan kemiripan dengan rujukan benda nyatanya. Ambil contoh, batu yang diberi nama Dua Babi Bertarung, kalau dicermati puncak batunya memang sangat mirip dua kepala babi yang tengah mengadu moncong. Atau batu yang disebut Anggrek di Lembah Curam memang berada di bagian Stone Forest yang curam. Bentuk yang mirip bunga tersebut hanya bisa diamati dari sebuah puncak tangga bertrap. Begitu pula batu yang mirip burung merak, pohon cedar, kura-kura.Saat Lina menjelaskan bentuk-bentuk batu tersebut, saya teringat Gua Akbar di Tuban. Di tempat yang disebut terakhir, memang banyak stalaktit dan stalagmit yang mirip bentuk binatang tertentu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Di luar itu semua, cerita di balik batu semakin memesona ketika kita berhadapan misalnya dengan batu yang diberi nama Ibu dan Anak Tengah Berjalan-jalan. Bentuknya berupa dua tonggak batu besar yang kalau dipandang dari kejauhan memang mirip ibu yang tengah menggamit anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Apalagi Lina yang memandu kami cukup humoris orangnya. Ketika menjelaskan bentuk batu tersebut, dengan tertawa dia menunjuk beberapa batu lagi dan mengatakan, ‘’Itu suami si ibu. Kalau yang itu paman si anak, dan yang satunya sang kakek.’’Boleh jadi Lina tak hanya tengah membanyol atau menyenangkan kami yang tengah dipandunya. Ketika sampai di batu yang disebut Perempuan yang Menunggu Suaminya, dia terlihat serius ketika memberi penjelasan. ‘’Anda lihat, dia seperti sangat bersedih dan penuh kepasrahan. Anda lihat bagian kepalanya? Itu sangat mirip dengan penutup kepala yang orang Sani pakai seperti saya. Dan bagi kami orang Sani di sini, batu-batu itu selalu menyimpan legenda dan membuat kaya budaya kami. Kami punya banyak cerita dari batu-batu itu.’’Dia menyebut sebuah legenda orang Sani mengenai terjunnya seorang lelaki ke dalam api akibat cintanya tak bertaut dengan seorang gadis. ‘’Anda tadi melihat batu Puncak Api. Kami memercayai dari batu itulah legenda dilahirkan.’’&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aha, ketika itu saya teringat kisah kasih incest Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang lalu memunculkan legenda Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Sebuah legenda yang lahir dengan merujuk pada bentuk puncak gunung yang mirip perahu terbalik. Tapi memang, setiap tempat selalu menyimpan legendanya sendiri dan itu memperkaya khasanah budaya yang berada di lingkungannya. Dan diakui atau tidak, legenda-legenda tersebut sering kali membuat tempat yang sedahsyat Stone Forest menjadi sangat bermakna.(*)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, Juli 2005)&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;';&lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-2975825623670090539?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/2975825623670090539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=2975825623670090539' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/2975825623670090539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/2975825623670090539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/cerita-dari-hutan-batu.html' title='Cerita dari Hutan Batu'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-5916020592184375988</id><published>2008-10-13T00:45:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:46:25.470-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Poligami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Film'/><title type='text'>Film ''Berbagi Suami'': Halus tapi Menyengat</title><content type='html'>&lt;span class="post-author"&gt; &lt;/span&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HAI&lt;/span&gt; para istri, kalian ingin membagi suami? Kalau ya, jangan tonton film &lt;em&gt;Berbagi Suami&lt;/em&gt; karya dan sutradara Nia diNata yang diproduksi Kalyana Shira Film (rilis pertama 23 Maret lalu). Anda bakal mengurungkan keinginan itu. Sebab, lewat film itu Nia begitu ''kejam'' menghujat perempuan dan laki-laki yang terlibat poligami.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia memang tak mengeluarkan umpatan penghujatan yang kasar. Bahkan, bahasa sinematografisnya cenderung mirip prosa liris. Sebagai penulis skenario, dia cukup jenius mengembangkan alur cerita yang sangat sederhana, banal, lurus tanpa liukan yang menjebak kerumitan penceritaan, sangat sehari-hari, dan asyik disimak. Apalagi dia merekatkan tiga cerita yang sebenarnya berbeda setting dan tokoh menjadi satu jalinan cukup rapi. Tokoh-tokoh itu bisa saling bertemu pada suatu situasi tanpa kesan sengaja dipertemukan.&lt;br /&gt;Jadi, penonton tak perlu mengerutkan dahi mereka-reka hubungan antartokoh dan tetap merasa berada di dalam satu cerita. Untuk tema sekontroversial poligami, pengembangan cerita serupa itu menunjukkan kecerdasan tertentu seorang penulis skrip film. Nia tak memberi ribuan dalil dan konsep perpoligamian. Dia hanya bercerita tentang tiga perempuan dari kelas sosial dan suku berbeda, tetapi mengalami nasib serupa: terlibat poligami dan (selalu) hanya jadi sang korban ''kuasa'' lelaki.&lt;br /&gt;Ketiga perempuan itu, Salma (Jajang C Noer), Siti (Shanty), dan Ming (Dominique A Diyose) memang menjadi fokus pengisahan. Salma, dokter kandungan yang telah hidup mapan pada suatu ketika harus menghadapi kenyataan bahwa Pak Haji (El Manik), suaminya telah punya istri lain bernama Indri (Nungky Kusumastuti). 10 tahun berlalu dan Salma belum sepenuhnya bisa berkompromi dengan poligami itu, muncul tokoh Ima (Atiqah Hasiolan), madunya yang kedua. Ketika dirinya merasa telah bisa menerima ''takdir'' itu, datang perempuan berikutnya (Laudya Cynthia Bella) di pusara pada saat pemakaman Pak Haji.&lt;br /&gt;Siti, gadis Jawa polos, terpaksa melupakan cita-citanya karena Pak Lik (Lukman Sardi) mengawininya sebagai istri ketiga. Berbeda dengan Pak Haji, dua istri Pak Lik, Sri (Ria Irawan) dan Dwi (Rieke Diah Pitaloka) tak hanya merestui, keduanya malah memaksa Siti untuk menganggukkan kepala. Kedatangan Santi (Janna Karina S), istri keempat Pak Lik dari Aceh pun tanpa penolakan. Kisah lesbian Dwi dan Siti pada akhirnya membuat keduanya lari dari Pak Lik. Ming, gadis keturunan Tionghoa, selama beberapa waktu harus merahasiakan bahwa dirinya adalah istri muda Koh Abun (Tio Pakusadewo) dari Cik Linda (Ira Maya Sopha), sang istri tua. Padahal, hampir setiap hari mereka bersama, baik ke pasar atau di restoran bebek milik sang engkoh. Ketika terketahui, penolakan hebat pada status Ming muncul dari Cik Linda dan dua anak perempuannya. Ming akhirnya sendiri lagi ketika keluarga Koh Abun ke Amerika.&lt;br /&gt;Seperti telah disebutkan, tuturan ceritanya begitu sederhana dan lurus. Memang ada suspens-suspens. Tapi agaknya dalam film itu, untuk sebuah kejutan, Nia lebih menyukai teknik pengambilan bersahaja tanpa &lt;em&gt;snapshot&lt;/em&gt; berlebihan atau teknik &lt;em&gt;zoom in&lt;/em&gt;. Contohnya, kemunculan sosok Ima sebagai istri ketiga Pak Haji hanya ditampilkan dengan gambar seorang perempuan muda berkacamata yang tercenung sedih di lobi ruang ICU tempat Pak Haji dirawat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;TAPI&lt;/strong&gt; tuturan sederhana akan menjadi kisah yang kurang darah tanpa pengekplorasian gejolak psikologis, khususnya pada tokoh perempuan yang sedang bercerita. Nah, untuk itu, Nia memakai sudut pandang pengisahan ''keakuan'' (dengan teknik &lt;em&gt;voice off&lt;/em&gt; atau VO) dari Salma, Siti, dan Ming. Sayangnya, menurut saya, teknik tersebut menjadi poin terlemah film Berbagi Suami, khususnya karena artikulasi yang agak cacat. Jajang yang bersuara serak dan cenderung cedal, Shanty yang aksen Jawanya di&lt;em&gt;medhok-medhok&lt;/em&gt;-kan, atau Ming yang suara kekanakannya sering kehilangan tonalitas artikulatifnya sedikit mengganggu penonton dalam menyimak kisah. Pada banyak adegan, VO itu seperti ''lenyap'' ditelan gambar yang tersaji. Untungnya, cacat kecil itu tertutupi banalitas dialog dan ekspresivitas akting para tokoh. Untuk soal itu, paling kuat fragmen Siti di mana dialog-dialog yang renyah terjadi di antara ketiga istri Pak Lik. Meskipun pada beberapa bagian, vokal Rieke sering terasa cempreng seperti suara ''Oneng'' pada sinetron Bajaj Bajuri. Namun, kepiawaian akting dan artikulasi mantap Ria Irawan patut diacungi jempol.&lt;br /&gt;Irama adegan yang bagus dengan tempo cepat ikut menunjang hidupnya fragmen tersebut. Kalau harus diperbandingkan, beberapa bagian adegan pada fragmen Salma jadi terasa sangat lambat dan agak membosankan. Karena itu, mungkin akan lebih menarik bila fragmen Siti ditempatkan pada kisah pertama sebelum fragmen Salma sehingga awalan filmnya bakal mematri ketertarikan penonton. Pada fragmen Ming, kepiawaian berakting Tio Pakusadewo yang berperan sebagai orang Tionghoa jadi titik kuat. Ira Maya Sopha juga cukup ciamik berperan sebagai perempuan nyinyir. Sedikit kelemahan Dominique, khususnya pada tonalitas artikulasinya jadi tertutupi.&lt;br /&gt;Editing yang digarap Yoga K Koesprapto juga patut diberi kredit bagus. Sentuhannya membuat film garapan Nia tidak monoton dan berirama liris. Patut diapresiasi pula kostum pemain yang didesain Tania Soeprapto. Ambil contoh, pakaian para istri Pak Lik yang beraksen sangat kuat dari sisi eksotika kaum urban di kota semetropolis Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="center"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost" align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;strong&gt;DI&lt;/strong&gt; luar itu semua, kalau diringkas Berbagi Suami adalah kisah pergolakan batin tiga perempuan yang terlibat dalam poligami. Sebagai penulis skenario, Nia terlihat begitu antusias ''memakai'' ketiganya sebagai penyambung konsepsinya mengenai kecenderungan suami berbanyak istri. Jadi, kalau ditilik secara ekstrem, para suami seperti itulah sasaran bidiknya. Ada kecenderungan besar bahwa apapun alasannya, Nia tetap tidak setuju dengan cara Pak Haji, Pak Lik, dan Koh Abun.&lt;br /&gt;Tapi sekali lagi, dia tak asal menghakimi. Dia masih memberi muatan bagus pada Pak Haji yang menyarankan Nadim (Winky Wiryawan), satu-satunya anak dari Salma agar dia hanya beristri seorang saja. Koh Abun pun digambarkan sebagai sosok yang sangat mencintai Ming dengan tulus dan tak ingin menjadikannya semata gundik. Hanya saja, pada Pak Lik, Nia seperti sangat kejam. Itu pun masih dengan ungkapan halus. Satu contoh, dialog batin yang diucapkan Siti: ''Pak Lik bagaikan sultan keraton dengan selir-selirnya. Dia tidak sadar virus penyakit kotor sudah menggerogoti kami semua.''&lt;br /&gt;Jadi, tak ada sesuatu yang baguskah pada poligami? Film Nia menjawab, ''&lt;em&gt;nothing but chaos&lt;/em&gt;''. Padahal, sebagai seorang suami, kalau boleh berangan-angan, saya ingin menjadi Pak Lik dengan istri-istri yang rukun serumah, tapi dengan kualitas lain. Dia tak otoriter, setulus Koh Abun, dan sekaya Pak Haji.&lt;br /&gt;Karena itu, wahai para istri, kalau tak ada keinginan membagi suami dengan perempuan lain, tonton film itu, simak betul-betul, pastilah Nia diNata ada di pihak Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Saroni Asikin&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka,&lt;/em&gt; 26 Maret 2006&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;';&lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-5916020592184375988?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/5916020592184375988/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=5916020592184375988' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5916020592184375988'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5916020592184375988'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/film-berbagi-suami-halus-tapi-menyengat.html' title='Film &apos;&apos;Berbagi Suami&apos;&apos;: Halus tapi Menyengat'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-703115161468550823</id><published>2008-10-13T00:41:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:43:56.981-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nationalism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Culture'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Country'/><title type='text'>Tinta Abu-abu Perdamaian</title><content type='html'>&lt;strong&gt;SIAPA&lt;/strong&gt; tak ingin perdamaian? Siapa pula ingin terus hidup dalam pertikaian tanpa ujung? Maka ketika tahu Kresna pergi ke Hastinapura sebagai duta Pandawa, orang-orang berkerumun di tepi jalan mendengungkan madah dan menaburkan bebungaan. Mereka sangat mengharapkan Raja Dwarawati itu mampu menjadi juru damai dalam konflik panjang anak turun Bharata.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua orang menunggu keberhasilan sang Kresna sebagai juru damai. Bahkan sebuah tembang kinanti menggambarkan antusiasme itu, meskipun dengan agak konyol.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Para dyah akeh kesusu&lt;br /&gt;gelung wudar tan tinolih&lt;br /&gt;miwah kekembene lukar&lt;br /&gt;nora sedya den rawati&lt;br /&gt;pembayun sinangga ngasta&lt;br /&gt;kayungyun kesa ngatitih&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Lihat, betapa para gadis tak sempat menggelung rambut atau membetulkan busana yang acakadut hanya demi mangayubagya sang juru damai.&lt;br /&gt;Namun, bahkan dalam histeria konyol itu, Kresna tak bisa melepas seguris senyuman. Sebab, dia sadar benar, kedatangannya menghadap Duryudana bukan sekadar untuk menuntut hak Amarta atas Pandawa. Dia membawa keinginan banyak orang agar pertikaian panjang Pandawa-Kurawa segera berakhir.&lt;br /&gt;Dia tahu pasti, &lt;em&gt;mission sacre&lt;/em&gt; (tugas suci) itu bisa saja hanya sebuah &lt;em&gt;mission impossible&lt;/em&gt; (misi muskil). Dan kita tahu, lakon Kresna Duta tak berakhir dengan sebuah kesepakatan. Karena, telinga Duryudana seolah-olah dipenuhi suara kerakusan Sangkuni, Jayajatra, atau Burisrawa. Telinganya tuli oleh suara perdamaian dari Bhisma, Durna, Widura, Kripa, dan bahkan dari sang ayah, Destarastra.&lt;br /&gt;"Sudahlah, anak-anakku, tolong kalian jangan kelewat rakus. Punya separuh negeri cukuplah sudah dan kita bisa hidup penuh perdamaian," teriak Destarastra yang buta.&lt;br /&gt;Namun telinga Duryudana telah begitu pekak untuk bisa mendengar teriakan orang tua itu. Alih-alih sebuah kesepakatan damai, akhir cerita ''Udyogaparwa'' dalam Mahabharata itu seolah-olah malah menjadi picu bagi konflik baru yang lebih besar. Gaung perang Bharatayuda ditabuh ketika itu. Kutukan menakutkan terlontar dari Kresna yang marah ketika tiwikrama menjadi sesosok raksasa, "Kebenaran akan terungkap, hai Kurawa. Kalian bakal &lt;em&gt;palastra&lt;/em&gt; dalam Bharatayuda."&lt;br /&gt;Mungkin kita bertanya, mengapa Kresna yang notabene seorang duta bisa semarah itu? Bukankah tindakan itu melewati batas-batas tugas seorang caraka, paling tidak dalam konsepsi perundingan modern? Mungkin kita bisa memaklumi kemarahan Kresna. Mungkin pula kita bisa memaklumi kegagalannya sebagai duta. Sebab, dalam terminologi wayang, dia hanyalah seorang titah dan di atasnya ada organisasi perdewaan yang lebih berkuasa. Dan, para dewa memang telah menyiapkan &lt;em&gt;Serat Jitapsara&lt;/em&gt;, kitab perang Bharatayuda.&lt;br /&gt;Ya, dalam lakon itu kita mendengar sang dalang berteriak, "&lt;em&gt;Bharatayuda kudu dadi&lt;/em&gt;." Maka, kita tahu upaya perundingan damai itu harus gagal demi sebuah skenario besar yang diciptakan kekuasaan yang lebih besar lagi. Kita tahu pula mengapa beberapa dewa mengiringi Kresna ke Hastinapura adalah juga bagian dari permainan besar itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SAYA&lt;/strong&gt; yakin, kita tak mau ada skenario besar para dewa di balik penandatanganan nota kesepahaman perdamaian antara RI dan GAM. Kita tak ingin para fasilitator itu bukan Kresna yang bijak, melainkan raksasa marah yang terjelma dari &lt;em&gt;tiwikrama&lt;/em&gt;-nya. Kita tak mau Helsinki hanyalah Hastinapura yang selalu penuh dengan keculasan. Kita tak mau ratusan pemantau asing itu hanya serupa Bhisma, Durna, Kripa, atau Widura yang berusaha meneriaki kepongahan dan keculasan Duryudana, tetapi lalu bergeming. Lebih-lebih lagi kita tak ingin mereka malah bermuka Sangkuni.&lt;br /&gt;Saya yakin, kita sangat ingin sigar semangka yang ditawarkan Pandawa via Kresna benar-benar sebuah solusi tepat. Kita sangat ingin Aceh itu sebuah &lt;em&gt;nanggroe&lt;/em&gt; (negeri) yang benar-benar &lt;em&gt;darussalam&lt;/em&gt; (wilayah damai).&lt;br /&gt;Memang kita tahu, tak semua orang Aceh paham soal nota kesepahaman itu, seperti beberapa kelompok di belahan lain Nusantara tak selalu bulat menerima itu. Lihat sekitar kita, skeptisisme muncul dalam bentangan spanduk di tepi-tepi jalan yang berbunyi "Kita cinta damai, tapi lebih cinta NKRI".&lt;br /&gt;Ya, pada sebuah perundingan yang telah tertandatangani, kita memang acap harus bersikap skeptis. Tak hanya Kresna yang gagal sebagai duta perdamaian, Sunan Giri pun dalam &lt;em&gt;Babad Tanah Jawi&lt;/em&gt; (mungkin) merasa perlu menyesali pilihan perdamaian yang ditawarkan dalam konflik antara Panembahan Senopati dari Mataram dan Pangeran Surabaya yang mewakili para bupati dari brang wetan. Seperti Kresna yang punya formula sigar semangka, Sang Sunan menawarkan pilihan yang lebih bersifat filosofis: isi atau wadhah.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Layang ingsun Kangjeng Sunan Giri dhawuha marang putra ningsun Senapati ing Mataram lan dhawuha marang putra ningsun Pangeran Surabaya. Liring layang, nggonira bakal perangan iku ingsun ora nglilani, krana bakal akeh pepati, ngrusakake wong cilik. Ing mengko sira loro miliha: isi lan wadhah. Yen sira wis padha milih isi lan wadhah mau ing sasenengira dhewe-dhewe&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;tumuli padha atuta, lan padha sukura ing Allah. Lan ing mbesuk, menawa ana kersaning Allah, sira padha tinitah luhur utawa andhap, narimaa ing pepesthen. Titi&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;Pangeran Surabaya memilih isi, sedangkan Senapati mendapat bagian wadah. Namun dari situ pulalah muncul konflik berlarut antara Mataram dan wilayah brang wetan seperti Tuban, Sedayu, Lamongan, Gresik, Malang, dan Kediri. Senapati seolah-olah mendapat sebuah "piagam" aneksasi wilayah karena pilihannya. Bahkan, pilihan itu seolah-olah memperoleh kebenaran asketis, beroleh restu dari langit. &lt;em&gt;"Wruhanira, wis pinesthi karsa Allah, Senapati nggonge nampani wadhah iku wis kebeneran. Wadhah iku negara, isi iku uwonge. Ing semangsane uwong ora nurut marang kang duwe bumi, mesthi bakal ditundung&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;Ya, mengapa Giri menawarkan pilihan yang memang adil, tetapi lalu berujung pada keuntungan di satu pihak dan kebuntungan di pihak lain? Dia menawarkan perdamaian dengan rasa keadilan, tetapi (mungkin) tak dinyana itu berbuah pertikaian terus-menerus? Apakah Giri tak tahu ekses buruk tawaran pilihannya? Untuk pertanyaan ini, saya patut mempertanyakan ilmu laduni Sang Kanjeng Sunan, ilmu yang bisa &lt;em&gt;weruh sadurunge winarah&lt;/em&gt;. Namun itu mungkin tak perlu kita berpanjang peneraan. Yang pasti, sebuah perundingan, betapa pun semua klausulnya menguntungkan kedua pihak yang berseteru, hanyalah sebuah upaya, sebuah ikhtiar yang patut pula disikapi secara skeptis.&lt;br /&gt;Boleh jadi, apa yang dilakukan Kresna, juga Giri, disemangati oleh kerinduan nuraniah akan perdamaian. Paling tidak, itu sebuah semangat mulia, sebuah &lt;em&gt;mission sacre&lt;/em&gt;. Lebih ngeri lagi andai kita membayangkan sebuah perundingan yang dilakukan hanya sebagai muslihat atau jalan yang melempangkan plot skenario yang lebih besar seperti para dewa yang telah mengguratkan &lt;em&gt;Jitapsara&lt;/em&gt;. Kita ingat bagaimana Pangeran Diponegoro masuk perangkap licik Belanda yang berselubung sebuah perundingan di Makassar. Perundingan itu hanya melempar sang Pangeran ke jeruji besi hingga maut menjemput. Dalam versi ketoprak &lt;em&gt;brang wetanan&lt;/em&gt;, kita juga menyaksikan aksi tipu-tipu Sunan Kudus yang mempertemukan Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya. Dalam cerita ketoprak itu, sang sunan adalah pendukung dan pemberi restu Adipati Jipang Panolan dan sebagai juru damai, dia jelas berpihak. Namun tentu tak semua perundingan bermula dan berakhir dengan cara-cara seperti itu. Sebab, "Bila ada luka, kita harus coba sembuhkan. Bila sakit seseorang bisa kita sembuhkan, kita harus mengupayakannya," ujar dokter Iannis dalam film &lt;em&gt;Captain Corelli's Mandolin&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Ya, bila luka Aceh masih bisa disembuhkan, kenapa kita tidak mengupayakannya? Meskipun mungkin kepala kita telah penuh cerita keculasan yang membuat kita sering tak lagi percaya pada niat baik.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;';&lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-703115161468550823?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/703115161468550823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=703115161468550823' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/703115161468550823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/703115161468550823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/tinta-abu-abu-perdamaian.html' title='Tinta Abu-abu Perdamaian'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-5497157017559354678</id><published>2008-10-13T00:37:00.001-07:00</published><updated>2008-10-13T00:38:53.703-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Etnomusic'/><title type='text'>''Jazzy'' Perih dari Madura</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SPL66kwoJnI/AAAAAAAAAGE/yRlOabKsD-4/s1600-h/sm5mus13.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SPL66kwoJnI/AAAAAAAAAGE/yRlOabKsD-4/s320/sm5mus13.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256539599301781106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;BAGAIMANA&lt;/strong&gt; cara orang Madura menghempaskan kesah mereka? Mereka ber-&lt;em&gt;elae&lt;/em&gt;. Tidak ada arti khusus dalam leksikon Madura untuk kata itu. Hanya sebuah interjeksi. Tapi sebagaimana lazimnya interjeksi, &lt;em&gt;elae&lt;/em&gt; secara maknawi adalah seruan kepedihan dan kegelisahan. Ya, &lt;em&gt;elae&lt;/em&gt; pada ranah Karapan Sapi itu menjadi semacam suluk. Ia selalu muncul dalam kejhungan, istilah kidungan gaya Bangkalan-Madura. Lalu, bagaimana suluk itu dikemas dengan pendekatan combo band dan &lt;em&gt;fussion jazz&lt;/em&gt;?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu ada pada komposisi ''E-lae'' garapan Zulkarnaen Mistortoify alias Zoel yang tengah aktif mengasah warna musikalnya bersama kelompok Sono Seni Solo. Terakhir garapan lelaki muda asal Madura itu disajikan di Pendapa Ageng STSI Solo dalam ''Pergelaran Seni'' untuk memeriahkan Dies Natalis Ke-38 STSI Solo, 3 Juli 2002 malam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan tersajilah sebuah suluk yang didekati dengan artikulasi instrumental combo band. &lt;em&gt;Fussion jazz&lt;/em&gt; yang menjadi aspek penggarapan ''E-lae'' menghasilkan sebuah irama musikal yang kental dengan nuansa &lt;em&gt;jazzy&lt;/em&gt;. Untuk memburu warna &lt;em&gt;jazzy&lt;/em&gt; itu, Zoel menempatkan petikan bas elektrik yang ditingkah keyboard sebagai semacam ''instrumen komando''. Paduan instrumen lain berupa gesekan biola, hentakan drum, dentaman jimbe, dan cabikan cakcuk. Suluk ''E-lae'' yang disuarakan lewat vokal Zoel makin mempertegas keseluruhan komposisi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam wilayah kultural, masyarakat di pantura Jatim (mulai Pasuruan hingga Banyuwangi) disebut sebagai kaum Pendalungan. Sebutan untuk mereka yang memakai bahasa Madura yang telah mengalami banyak persentuhan dengan bahasa Jawa dialek Jawa Timur. Yang pasti, ada perbedaan bahasa Madura di Pendalungan dengan yang dipakai di Pulau Garam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selain ''E-lae'', Zoel menggarap sebuah komposisi yang hampir serupa: ''Tapal Kuda''. Suara musikal yang perih dari wilayah geografis yang dalam terminologi politis adalah ''daerah rawan konflik''. Tapal kuda adalah istilah yang dikenalkan Clifford Geertz. Kenyataan itulah yang dikedepankan Zoel. Dua wilayah musikal yang memiliki karakteristik berbeda dipadukan dalam sebuah komposisi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Corak musik Madura yang kental dengan warna hadrah dan jidor dipadu kidungan banyuwangen. Dengan piawai, Zoel mengambil warna Madura untuk irama dan banyuwangen untuk melodi. Pada komposisi itu, tarikan vokalis perempuan bernama Peni mempertegas rasa perih dan sakit yang hendak dikedepankan Zoel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pendukung dua komposisi Zoel adalah para musikus yang tergabung dalam Sono Seni Solo yang terus aktif mencari warna-warna musikal baru. Mereka adalah I Wayan Sadra, Danis S, Gombloh, Gondrong, Rudi S, Aristofani, dan Peni.(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saroni Asikin&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-5497157017559354678?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/5497157017559354678/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=5497157017559354678' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5497157017559354678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5497157017559354678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/jazzy-perih-dari-madura.html' title='&apos;&apos;Jazzy&apos;&apos; Perih dari Madura'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SPL66kwoJnI/AAAAAAAAAGE/yRlOabKsD-4/s72-c/sm5mus13.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-7033085171668897506</id><published>2008-10-13T00:28:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:30:22.503-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jazz'/><title type='text'>Menikmati Improvisasi pada Malam yang Basah</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;BUAT&lt;/strong&gt; apa memainkan musik yang ada, kalau hanya sekadar menyusun nada berirama; betapapun indahnya? Bukankah musik itu geletar jiwa, dan bisa dimainkan dengan geletar jiwa itu? Pertanyaan tersebut, sepertinya telah menjadi jargon di kalangan pemusik jazz Indonesia.Maka, improvisasi ketika bermain musik menjadi ruh yang paling kuat bagi jazz. Boleh jadi -karena unsur itu pula- pemusik jazz sangat mungkin bisa berkolaborasi dengan siapa saja, termasuk dengan dalang wayang kulit berciri klasik sekalipun.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Nah, menyaksikan konser ''Djarum Super On Art Mahabharata Jazz &amp;amp; Wayang On The Bus'' yang dipersembahkan PT Djarum -juga pada tur ke-19 di halaman auditorium Undip Semarang, Minggu (21/12/2003) malam - adalah menyaksikan improvisasi yang saling bertemu di panggung. Dan itulah, yang dilakukan empat pemusik jazz (Luluk Purwanto dan The Helsdingen Trio) dan dalang Nanang Hape bersama tiga pemusik pentatonis lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tak mudah mempertemukan atau menciptakan harmoni dari beragam kreasi dalam satu panggung plus improvisasi dari semua yang tampil. Delapan orang yang tampil di bus stage malam itu, adalah delapan penyaji dengan ciri spesifik berbeda. Dan dalam ranah jazz, tak ada dominasi: semua pemain merepresentasikan dirinya. Tapi itulah jazz, paduan dari yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lalu bagaimana ''mengawinkan'' jazz dengan wayang? Ada kegamangan untuk yakin, bahwa keduanya bisa bertemu dan lebur. Tapi itu juga menciptakan kepenasaran. Serupa apakah ''pertemuan'' keduanya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dengar saja perkataan Luluk: ''Saya tak memaksa Nanang main wayang kayak &lt;em&gt;ngejazz&lt;/em&gt;. Wayang itu sarat improvisasi, juga &lt;em&gt;on the spot&lt;/em&gt;. Jadi sejiwa dengan jazz.'' Kesejiwaan? Itu pula yang mengikat perjumbuhan jazz dan wayang, yang oleh Luluk dan kawan-kawan diikat oleh cerita &lt;em&gt;Mahabharata&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dan Luluk Purwanto (biola), Rene van Helsdingen (piano), Essiet Okon Essiet (bas), Marcello Pelletteri (drum), Nanang Hape (dalang), I Ketut Budiyasa (perkusi Bali), Kiki Dunung (perkusi Jawa-Sunda), dan Soled Saryanto (rebab, slenthem, gong), telah membuktikannya di 19 dari 20 tempat tur di Jawa dan Bali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sajian jazz dan wayang mereka begitu unik serta kaya warna. Penonton tak semata disuguhi bunyi-bunyi instrumen, tapi ''drama'' yang tercipta ketika mereka beraksi. Keterlibatan psikologis pemain dan pemusik terekat. Dan itu -inti jazz- juga sempurna mengusung epik besar &lt;em&gt;Mahabharata&lt;/em&gt; karya Wiyasa.Kepenasaran terhadap ''percumbuan'' jazz dan wayang, sudah terbukti selama tur konser, juga yang terjadi di Undip Minggu malam lalu. Dalam jumpa pers sebelum konser, Luluk menceritakan keterharuannya oleh kesetiaan penonton di Kudus yang rela kebasahan hujan. Situasi hampir serupa tertemukan juga pada penonton di Semarang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mari kita lihat. Hujan yang turun sejak sore hari, tinggal rintik-rintik kecil memasuki pukul 19.30 WIB, yang dijadwalkan sebagai permulaan pertunjukan. Halaman paving di depan panggung bus basah dan menyisakan beberapa genangan kecil. Penonton yang kebanyakan anak muda berdatangan, dengan atau tanpa payung. Gazebo dan tenda yang ada di tempat itu telah penuh orang, berteduh dari rintik hujan. Sebagian membentuk kelompok-kelompok yang berdiri tanpa perteduhan. Di depan mereka, di panggung hanya ada piano, cello bass, drum, dan tiang partitur. Dua layar putih di kanan-kirinya masih gelap.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Rintik hujan masih turun pada pukul 20.00 WIB, ketika semua areal depan panggung penuh penonton yang duduk, di paving basah atau beralaskan sendal atau jas hujan. Lalu Nanang Hape membuka sajian dengan suluk yang mengisahkan perjanjian Bhisma dengan Dewi Amba, satu dari 12 episode Mahabharata pilihan si dalang yang menjadi pembuka pertunjukan.Luluk dan The Helsdingen Trio telah ada di panggung. Beberapa saat setelah Nanang memainkan kayon, derasan musik bersahutan dari para pemusik jazz terdengar menyerupai deru angin yang keras. Dan penonton bertepuk tangan. Maka, pemaknaan kisah perseteruan Pandawa-Kurawa itu tersaji di panggung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perlu dicatat, ketika merespons permainan Nanang dan kru gamelannya, Luluk dan The Helsdingen Trio yang jadi rhytm cection dari biola perempuan kelahiran Yogyakarta itu bukanlah ilustrasi dari lakon wayang. ''Nanang memainkan Mahabharata. I Ketut, Soled, dan Kiki mengisinya dengan musik mereka, juga memainkan kisah itu. Kami berempat juga memainkannya dengan musik kami,'' kata Luluk. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fakta itu menjelaskan, delapan penyaji tersebut memiliki dirinya sendiri ketika bermain.Maka, hampir tiga setengah jam pada malam yang basah itu kisah &lt;em&gt;Mahabharata&lt;/em&gt; didedah lewat instrumen musik dan lewat mulut Nanang Hape. Bukan cerita wayang utuh, memang. Nanang hanya memainkan fragmen-fragmen yang -menurutnya- penting dalam epik Wiyasa itu. Serupa penggalan banyak lakon, seperti &lt;em&gt;Kresna Duta, Kurawa Dadu, Bale Sigala-gala, Karna Gugur, Durna Gugur&lt;/em&gt;, dan diakhiri dengan &lt;em&gt;Aswatama Landak&lt;/em&gt;.Dari pengapresian seperti itu, lahirlah harmoni dari delapan individu yang seolah-olah ''bermain'' sendiri-sendiri tersebut. Wajar saja, tak semua penonton bisa mengerti soal harmoni atau improvisasi dalam jazz dan wayang. (*)Saroni Asikin &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 23 Desember 2003&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;';&lt;br /&gt;addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-7033085171668897506?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/7033085171668897506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=7033085171668897506' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7033085171668897506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7033085171668897506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/menikmati-improvisasi-pada-malam-yang.html' title='Menikmati Improvisasi pada Malam yang Basah'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-7398245083523828419</id><published>2008-10-13T00:25:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:32:43.394-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Theater'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nationalism'/><title type='text'>Monolog ''Satu Cinta" Meimura</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SPL4RQHKXMI/AAAAAAAAAF8/gcScbW8tWL8/s1600-h/sm5nolog26.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SPL4RQHKXMI/AAAAAAAAAF8/gcScbW8tWL8/s320/sm5nolog26.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5256536690361261250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;DI&lt;/strong&gt; panggung Meimura membawa payung bergerak pelan-pelan sembari terus-menerus memutar payung dan meluncurkan kalimat-kalimat keluhan. Dia bergerak ke sebidang tanah. Ada cangkul, sebongkah batu, dan kendi air. Dia bergerak-gerak seraya bermonolog, memberikan impresi, bahwa dia petani.Layar di belakang panggung, memutar film kompilasi mengenai peristiwa kekerasan massal. Aceh, Sambas, Ambon sekadar menyebut beberapa tempat, dengan sengaja diikutkan dalam pelakonan.Sepanjang pertunjukan, dengan getir Meimura berbicara sebagai anak, bapak, atau ibu. Walau begitu, sebenarnya dia berbicara hal tunggal, ''Selamatkanlah anak-anak dari beban traumatisme kekerasan massal.''&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Paling tidak demikianlah yang hendak diungkapkan Meimura dari Teater Ragil Surabaya melalui karya monolognya &lt;em&gt;Satu Cinta&lt;/em&gt;. Pentas berdurasi setengah jam di Teater Arena TBS Solo, Jumat (22/3/2002) malam lalu itu hanya berbicara soal luka, kepahitan, kepedihan, dan traumatisme kanak-kanak yang terjebak dalam suasana kekerasan massal. Dalam monolog Meimura itu tergambar seolah-olah dunia sudah tidak berpengharapan sama sekali terutama anak-anak.''Konflik di belahan bumi mana saja, juga di Indonesia, selalu meninggalkan luka yang terus membekas. Dalam situasi seperti itu, jangan dilupakan anak-anaklah korban pertama dan terakhir yang menanggung akibat. Karena itu, mereka seharusnya diselamatkan dari traumatisme berkepanjangan.''&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Meimura itu sosok aktor produktif. Lelaki kelahiran Surabaya, 1963 itu telah memiliki banyak pengalaman berkesenian. Dia memulai ketika masih kanak-kanak, khususnya ketika bergabung di perkumpulan wayang orang dan ludruk di kampungnya, Jalan Patemon II Surabaya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kedekatan karya-karyanya dengan dunia anak-anak, diakuinya karena dia menyaksikan langsung beberapa peristiwa kekerasan massal yang beberapa waktu lalu di Indonesia.''Satu Cinta adalah wujud kemarahan, teriakan saya tentang anak-anak yang tak lagi bisa ceria, anak-anak yang kehilangan harapan. Saya ngeri melihat anak-anak kehilangan dunianya.''&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mengapa Meimura memilih tragedi seperti itu sebagai tema monolognya? Mengapa pula dia memasukkan visualisasi berupa film soal kekerasan massa di Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;''Saya ingin teater jadi jendela untuk menengok ke peristiwa-peristiwa masa lalu yang hampir selalu dilupakan lantaran muncul peristiwa baru,'' ujar Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur itu. Dia ingin mengingatkan, kalau bukan membuka luka lama, peristiwa-peristiwa tragis yang terjadi di Indonesia.''Siapa yang ingin peristiwa seperti itu terulang? Tapi siapa pula yang mau mengingatnya sebagai bahan pelajaran?'' tanyanya getir saat ditemui seusai pementasan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Satu Cinta-nya sejak dua tahun lalu telah dipentaskan secara keliling di berbagai kota di Indonesia. Kali pertama disodorkan ke publik pada kegiatan Indonesia Dance Forum di Palu. Pada naskah itu, Meimura hanya ingin mengajak penonton sekadar mengingat kembali peristiwa-peristiwa pahit, bukan untuk membangkitkan traumatisme.''Saya hanya ingin mengingatkan belaka. Lalu saya ingin mengajak kita sama-sama berdoa agar hal seperti itu tak terulang. Karena itu, estetika yang saya bangun dengan monolog tersebut adalah estetika mantra.''&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mantra yang jadi estetika pertunjukan monolognya diartikan sebagai perangkat doa, ''Semoga, semua peristiwa pahit yang membuat anak-anak kehilangan keceriaan, penuh traumatisme, tak lagi terjadi....''(*)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saroni Asikin,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 26 Maret 2002&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-7398245083523828419?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/7398245083523828419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=7398245083523828419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7398245083523828419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7398245083523828419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/monolog-satu-cinta-meimura.html' title='Monolog &apos;&apos;Satu Cinta&quot; Meimura'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SPL4RQHKXMI/AAAAAAAAAF8/gcScbW8tWL8/s72-c/sm5nolog26.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-7159575323443660935</id><published>2008-10-13T00:19:00.001-07:00</published><updated>2008-10-13T00:33:41.009-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dakwah'/><title type='text'>Musik untuk Syiar dari Sebuah Pasar</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;PANGGUNG&lt;/strong&gt; berdetak oleh timpukan rebana yang ditingkah bunyi kendang sunda dan pukulan tambur yang mendebarkan jantung. Gesekan biola, cabikan gitar bas, dan alunan &lt;em&gt;keyboard&lt;/em&gt; menciptakan irama naik-turun dinamis. Pada bagian depan, dua vokalis perempuan melantunkan lagu-lagu islami, nyanyian khas dalam permainan hadrah.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu pertunjukan hadrah? Bagi yang tahu, permainan kelompok Hadrah Asya'adah dari Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) Solo terbilang cukup asing, kendati tetap rancak dan memikat.&lt;br /&gt;Dalam khazanah kesenian Islam, ada berbagai jenis musik yang dilahirkan untuk mengagungkan kebesaran Nabi Muhammad SAW. Hadrah salah satunya. Jenis musik ini ditampilkan dalam permainan instrumentasi perkusi sebagai pengiring nyanyian yang pada umumn&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7809/2361/1600/sm1hadrah8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7809/2361/320/sm1hadrah8.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;ya diambil dari Kitab Barzanji. Dalam perkembangannya, hadrah pun tampil dengan tarian hingga melahirkan genre tari hadrah.&lt;br /&gt;Sejak dari tanah Arab, lalu dikembangkan di Malaysia lewat India, khususnya di negara bagian Perlis dan Kedah, hingga menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia, karakteristik instrumentasi hadrah adalah perkusi. Hampir pasti, pertunjukan hadrah dengan nyanyian atau tarian, bebunyian pengiringnya dari drum, terbang, atau rebana juga sesekali disertai tambur.&lt;br /&gt;Tapi hadrah dengan menyertakan keyboard, biola, dan gitar bas seperti yang mereka pertontonkan? "Ada nuansa lain dari jenis musik yang kita kenal. Tapi kami merasakannya lebih indah," ujar Yanuar, salah seorang koordinator kelompok itu.&lt;br /&gt;Keberanian mereka memasukkan instrumen elektrik nonperkusi merupakan hal yang tidak lazim dalam permainan asli hadrah, seolah-olah menyimpan kehendak untuk memberi tafsir baru pada jenis kesenian itu.&lt;br /&gt;Lebih dari itu, bagaimana para pedagang dari berbagai etnik itu mampu berpadu dalam sebuah kelompok musik islami yang sangat jauh dari urusan jual-beli juga patut disimak.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bermula dari Iseng&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asya'adah lahir Agustus 2001 dengan nama Kloter 2001. Kloter itu kepanjangan dari Kelompok Terbangan. Sebab pada mulanya instrumen perkusi rebana itu yang dipakai. Dalam perkembangannya saat melibatkan instrumen nonperkusi seperti keyboard, biola, dan gitar bas, kelompok itu merasa harus mengubah nama.&lt;br /&gt;"Lalu kami pakai Asya'adah. Maaf, saya tak tahu persis maknanya dalam bahasa Arab. Tapi pasti artinya bagus. Sebab saat pemakaian nama itu, kelompok kami lebih memaknainya dalam bahasa Jawa. Ya semacam plesetan Asya'adah untuk merujuk sak wadah. Kelompok itu memang lahir dari keinginan untuk bersatu dalam sebuah keluarga besar pedagang di Klewer," tutur Yanuar panjang lebar.&lt;br /&gt;Dia bercerita, Kloter 2001 sebagai embrio Asya'adah lahir dari sebuah keisengan. Sebelum Agustus 2001, beberapa pengurus HPPK bersilaturahmi rutin di rumah sang Ketua Umum H Hafidz Safari. Saat itu secara berseloroh, Hafidz melempar gagasan, "&lt;em&gt;Bena gayeng, tabuhan pa piye&lt;/em&gt;? (Supaya gayeng, kita tabuhan bagaimana)?"&lt;br /&gt;"Ya dari seloroh iseng itu kemudian kami seriusi. Kami bikin jadwal latihan tetap. Eh pada prosesnya hanya Pak Hafidz yang nggak bisa ikut. Beliau terlalu sibuk mengurus HPPK soalnya," papar Yanuar.&lt;br /&gt;Maka terbentuklah kelompok yang terdiri atas beberapa pedagang yang setidaknya dari tiga etnik berbeda. Dari Padang, ada Yanuar dan Agung Kurniawan. Lalu beberapa dari Madura seperti vokalis Ifah dan penabuh perkusi Huda. Selebihnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Bambang Sugiarto, Arifuddin, Faizul Kirom, Ari, Toni, Khusnul, dan Bisri.&lt;br /&gt;Bagaimana kelompok itu bisa dibangun dari perbedaan etnik meskipun hampir semuanya telah menghirup aura Kota Solo sekian lama? "Tidak ada kendala apa pun. Kami telah sering bergaul di lingkungan pasar."&lt;br /&gt;Itu juga terjadi dalam proses latihan mereka. Perbedaan latar belakang kultural tak menghalangi proses permainan. "Kami punya Mas Bambang yang menggubah syair. Saya dan Arifuddin yang biasa mengaransemen musiknya," jelas Yanuar.&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang patut dicatat pada kelompok Asya'adah adalah keinginannya berdakwah lewat sajian hadrah mereka.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Teks dan Foto&lt;/em&gt;: &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 8 November 2002&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-7159575323443660935?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/7159575323443660935/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=7159575323443660935' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7159575323443660935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7159575323443660935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/musik-untuk-syiar-dari-sebuah-pasar.html' title='Musik untuk Syiar dari Sebuah Pasar'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-2619251340542315967</id><published>2008-10-13T00:10:00.000-07:00</published><updated>2008-10-13T00:34:40.740-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Music'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mass Culture'/><title type='text'>Virus Goyang Bernama Inulfluenza</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEPERTI&lt;/span&gt; kilasan meteor, tiba-tiba perempuan bernama Inul Daratista itu menjadi bintang. Sebagai bintang, dia ditempatkan pada pusat dua tarikan garis yang saling berlawanan. Dia dipuja sekaligus dihujat. Dia dijadikan ikon yang melahirkan seabrek epigonis yang kesengsem-kepincut, tapi dia diperlakukan pula sebagai momok yang harus dicekal. Tapi ketika muncul pencekalan buat dirinya, khususnya dari kalangan Kiai Pasuruan, suara yang membela pun tak kalah banyak.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terlalu banyak media massa, cetak dan tulis, mengulas panjang-lebar kontroversi sosok wanita Pasuruan Jatim itu. Tak terpungkiri, media massa pula yang membesarkan dia sekaligus menjadi pemicu kelahiran perlakuan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam realitas kehidupan masyarakat, sosok Inul menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;point of view&lt;/span&gt; paling signifikan belakangan ini. Sekadar contoh, berjubelnya orang mengerumuni para penjual VCD kaki lima atau counter di mal untuk memperoleh cakram berisi rekaman ''goyang bor'' Inul bukanlah isapan jempol belaka. VCD Inul laris bak kacang goreng. Tak cuma itu, obrolan dari yang hanya di warung-warung kopi hingga pertemuan RT/RW, Inul menjadi bahan cerita paling renyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada profesi penghibur serupa Inul, tak terpungkiri gaya tarian mengebor panggung mulai banyak dipakai sebagai cara tampil yang menyedot ketertarikan penonton. Sosok penyanyi dangdut seperti Liza Nathalia yang jauh sebelum Inul muncul dianggap sebagai penyanyi dengan goyangan yang cukup panas, mendadak seperti tertelan. Juga beberapa tahun lalu artis Alda Risma memunculkan gerakan bergoyang bak ''menampi beras'' yang cukup sensasional ketika itu, ternyata reaksi yang muncul tak sedahsyat saat Inul tampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tak Hitam-Putih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan media massa terhadap Inul ikut pula melahirkan berbagai macam pandangan atau komentar. Sebagian besar kalangan mengungkapkan pernyataan yang tidak mampu meneguhkan penilaian secara hitam-putih. Seolah-olah memperlakukan fenomena Inul haruslah dengan dua muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Seandainya gaya bergoyang Inul lebih sopan sedikit, mungkin lebih baik. Tapi saya juga menolak pencekalan buat dia,'' kata Elly (20), mahasiswi IKIP PGRI yang mengaku melihat goyang Inul lewat VCD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irawati Kusumarasri, seorang penari di Solo, mengungkapkan komentar senada. ''Tak ada yang perlu dipermasalahkan pada Inul. Seorang artis itu butuh berbeda. Inul punya cara tampil berbeda. Memang goyangannya ada yang seronok. Tapi jangan salah, yang jauh lebih seronok dari dia banyak sekali. Maka nggak perlu ada pencekalan buat dia.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal yang lebih seronok memang sudah menjadi rahasia umum. Satu contoh saja, sebuah VCD dangdut yang menampilkan tiga penyanyi perempuan cilik sekitar 10 tahunan. Mereka bernyanyi sembari sesekali melakukan gerakan erotis seperti kayang (setengah mengangkang-Red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar kedua pendapat tersebut, muncul pula sikap skeptis yang menilai pencekalan hanya akan semakin memoncerkan nama penyanyi dangdut itu. Begitu pula, kalau Inul dianggap momok atau virus, kalangan yang optimistik melihat hal itu hanya semacam lintasan peristiwa belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu ada juga yang berkomentar, ''Tak ubahnya sebuah berita biasa yang diblow-up sedemikian rupa lalu seperti gelembung sabun. Hilang dengan sendirinya.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gampang Dipengaruhi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi memang bukan semata masalah kontroversi mengenai Inul. Perempuan itu hanyalah satu sosok yang muncul lalu menjadi pusat ketertarikan massal, menimbulkan silang-pendapat, lalu hilang dengan sendiri. Dengan kata lain, bila waktu kemoncerannya telah aus, pasti akan muncul pusat ketertarikan lain. Inul akan hilang bersama waktu dan juga sejarah media yang telah mencatatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka muncul pula pertanyaan: begitu gampangnyakah kita dipengaruhi, oleh media massa, misalnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau melihat secara sekilas pusat ketertarikan massal dalam satu tahun berselang, khususnya dalam dunia hiburan, memang seolah-olah ada kecenderungan bahwa masyarakat begitu cepat berubah dan terkesan gampang dipengaruhi oleh suatu produk hiburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal bisa diambil sebagai contoh. Dalam beberapa waktu, ada pusat ketertarikan kepada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kuch Kuch Hota Hai&lt;/span&gt; dan pola perfilman Bollywood. Dunia hiburan seperti televisi lalu menangkapnya sebagai komoditas entertainment yang sangat menjanjikan. Bukankah ketika itu hampir-hampir tak ada stasiun televisi swasta kita yang tak memutar tayangan Bollywood? Dan tak tanggung-tanggung pula, bintang Bollywood seperti Shah Rukh Khan sengaja didatangkan ke Jakarta untuk konser dengan tiket yang sangat mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu muncul pula Meteor Garden dengan F4. Pusat ketertarikan seolah-olah berubah ke situ. Kelompok pemuda ganteng Mandarin itu pun diperlakukan sama, juga dengan konser. Tayangan Mandarin serupa pun menjadi menu spesial televisi swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak begitu lama muncul demam ''Asereje'' yang selain bisa dinikmati pada hampir semua kafe atau pub, juga pada pasaran VCD kaki lima. Tapi itu tak berlangsung terlalu lama. Begitu muncul informasi bahwa itu lagu pemuja setan, gaungnya mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Inullah yang menjadi subjek cerita dalam dua peran. Satu sisi, dia menjadi antagonista serupa virus influenza hingga muncul sebutan ''Inulfluenza''. Sisi lainnya bisa jadi dia seorang protagonista yang menghibur, pelaku revolusi goyang, pemilik bahasa tubuh yang langka dipunya orang, bahkan penari sekali pun. Pada peran itu dia juga motivator banyak penghibur untuk bisa ''bergaya Inul''. Dia menjadi semacam suplemen seperti produk hemaviton atau hormoviton. Pada tataran itu, boleh jadi Inul melahirkan ''Inulviton''.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau masyarakat kita memang gampang dipengaruhi media massa serta cenderung sangat cepat berubah haluan pusat pandang, tentu itu bukan perkara yang begitu sepele. Terlalu banyak efek samping yang buruk bila akar persoalannya selalu ditenggelamkan oleh berbagai lintasan peristiwa yang muncul selalu bagai ledakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski menurut pendapat psikolog Dra Frieda Msi tak perlu ada yang harus dicemaskan dari kecenderungan itu. ''Masyarakat kita itu masih mencari-cari. Belum ada identitas jelas, belum punya pegangan kuat. Memang ada kesan kita gampang dipengaruhi, juga oleh media massa. Tapi itu wajar.'' (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks: Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka&lt;/span&gt;, 2 Maret 2003&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-2619251340542315967?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/2619251340542315967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=2619251340542315967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/2619251340542315967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/2619251340542315967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/10/virus-goyang-bernama-inulfluenza.html' title='Virus Goyang Bernama Inulfluenza'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-686483620656324662</id><published>2008-09-08T23:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-11T12:03:13.534-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Transgender'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lifestyle'/><title type='text'>Ulang-alik Jenis Kelamin</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Gelaran fesyen malam itu bakal segera dimulai. Seorang lelaki tinggi besar, bercelana jins dan kemeja putih, dengan langkah mantap menuju deretan kursi di sayap kanan &lt;em&gt;catwalk&lt;/em&gt;. Dia duduk pada barisan depan, bersandar tegak ke punggung kursi dengan sebelah kaki ditumpangkan ke paha, dan satu kancing atas kemejanya terbuka. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dia bergeming. Mukanya yang berewokan tampak tenang. Seluruh tampilannya berkesan macho sekali.&lt;br /&gt;Pada waktu yang lain, layar televisi menayangkan seorang perempuan yang sangat ceriwis ketika mengomentari penampilan para peserta di panggung. Bibirnya sesekali berkerinyut. Nada bicaranya kenes, agak manja, dan seperti sengaja dinyinyir-nyinyirkan. Gaun warna &lt;em&gt;burgundy&lt;/em&gt; membalut tubuhnya yang terbilang resam. Segar dipandang. Juga anggun dan cantik penampilan dia. Hanya saja, kalau disimak dengan saksama, ada yang agak aneh pada warna suaranya. Bukan sopran, mezzo-sopran, bukan pula alto melainkan agak-agak bariton yang khas lelaki. Untungnya dia bukan penyanyi sehingga dia tak perlu diukur &lt;em&gt;timbre&lt;/em&gt; alias warna suaranya.&lt;br /&gt;Siapa kedua orang itu? Lelaki macho dan perempuan anggun-cantik itu orang yang sama. Namanya Ivan Gunawan, kadang-kadang disebut juga Madame Ivan atau Nona Igun. Kalau begitu, apa jenis kelamin dia sebenarnya: pria atau wanita? Atau, dia wanita tapi pria yang sering disebut waria? Mungkin yang terakhir juga bukan.&lt;br /&gt;Seorang waria pernah &lt;em&gt;ngedumel&lt;/em&gt; melihat gaya Ivan di televisi. Dia merasa risih sekali. ''Harga diri &lt;em&gt;ike&lt;/em&gt; bukannya &lt;em&gt;keangkat&lt;/em&gt;, eh malah kayak dilecehin,'' ujar dia.&lt;br /&gt;Atau Ivan itu seorang transgender? Tunggu dulu. Kata psikolog Hastaning Sakti, tak gampang membuat penilaian mengenai transgender yang dalam istilah psikologi dimaknakan sebagai persepsi tentang identitas gender diri seseorang tak sama dengan gender biologisnya.&lt;br /&gt;Niken Pratiwi (40), wanita karier berputra seorang anak lelaki 10 tahun, tentu tak peduli apakah Ivan Gunawan mengalami transgender atau tidak. Dia juga tak suka melihat tayangan &lt;em&gt;Super Soulmate, Super Seleb Show&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;Super Twin&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;Indosiar&lt;/em&gt; di mana sang desainer tampil sebagai komentator dengan ''peran'' seorang perempuan yang kenes, anggun, dan sesekali centil. Tapi dia memikirkan atau lebih tepatnya mengkhawatirkan anak lelakinya.&lt;br /&gt;''Anak saya laki-laki dan tahu kalau Ivan Gunawan itu laki-laki juga. Bagaimana kalau dia ikut-ikutan gaya Ivan?'' ujar Niken cemas, ''Yang jelas, tayangan itu tak pantas ditonton anak-anak. Hanya mengeksploitasi peran banci yang tidak mendidik, entah pemerannya banci &lt;em&gt;beneran&lt;/em&gt; atau hanya akting.''&lt;br /&gt;Kini Niken tak lagi khawatir karena anaknya juga tak suka menonton tayangan yang mengekploitasi Ivan dalam penampilan perempuan. Dia pernah menanyakan apakah anaknya suka melihat peran Ivan Gunawan di acara &lt;em&gt;Super Soulmate&lt;/em&gt; atau Olga di acara &lt;em&gt;Ceriwis&lt;/em&gt;. Jawaban sang anak sangat keras, ''&lt;em&gt;Nggak&lt;/em&gt; suka. Itu tontonan orang-orang stres!''&lt;br /&gt;Tapi bagaimana dengan orang tua lainnya? Tak sedikit yang mengkhawatirkan pengaruh buruknya, khususnya mereka yang punya anak laki-laki. Gatot (38), misalnya, yang punya anak berusia 8 tahun bernama Didit, khawatir sang anak akan punya persepsi mengenai seorang idola atau terkenal dengan jalan berperan jadi banci dalam tayangan televisi. ''Didit selalu terpingkal-pingkal kalau lihat aksi konyol Tora Sudiro yang jadi sinden gosip di &lt;em&gt;Extravaganza&lt;/em&gt;. Dia tahu Tora itu laki-laki yang lagi berperan jadi perempuan. Apalagi walau berdandan wanita, tato Tora sering juga &lt;em&gt;kelihatan&lt;/em&gt;. Yang saya cemaskan kalau Didit lihat Aming atau Edric saat berperan jadi perempuan. Atau juga Ivan di &lt;em&gt;Indosiar&lt;/em&gt;. Saya lihat reaksi anak lelaki saya itu biasa, bahkan jarang bisa tertawa lihat aksi konyol mereka. Bagaimana kalau Didit beranggapan mereka itu banci &lt;em&gt;beneran&lt;/em&gt; dan bisa terkenal kalau seseorang mau berperan jadi banci?'' ujar Gatot cemas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TENTU&lt;/strong&gt; saja ada orang yang mengganggap tak perlu mengkhawatirkan kecenderungan lelaki feminin di televisi. Sebagian malah memuji akting Ivan.''Saya tonton &lt;em&gt;Super Soulmate&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Super Twin&lt;/em&gt; untuk hiburan belaka. Kebetulan anak saya perempuan, jadi tak cemas terhadap tontonan semacam itu,'' ujar Ujiningsih (36).&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Niko Fabian (35), ayah dua anak, malah sangat menyukainya. Dia tidak menganggap Ivan Gunawan, Olga, Aming, dan yang berperan serupa adalah orang-orang yang mengalami krisis identitas gender. ''Jika potensi mereka, yang kebetulan gaya feminin itu dieksploitasi sedemikian untuk mencari popularitas, kesuksesan, dan uang, apakah mereka harus disalahkan?'' bela Niko.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Ya, seorang aktor atau aktris atau katakanlah seorang penghibur memang harus mau berperan apa saja sesuai peranannya. Ekstremnya, seorang pembunuh dalam sebuah film tak mungkin berurusan dengan polisi di dunia nyata, kecuali kalau dia juga membunuh orang tidak di film. Begitu juga seorang aktor lelaki yang berperan sebagai perempuan, tidak lantas dia jadi perempuan dalam kehidupan sebenarnya. Ivan pun mengatakan seperti itu ketika dihubungi.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;''Di luar pekerjaan &lt;em&gt;gue&lt;/em&gt; sebagai komentator di sini (acara di &lt;em&gt;Indosiar&lt;/em&gt;-Red), &lt;em&gt;gue&lt;/em&gt; tetap berpakaian sebagai laki-laki. Apalagi kemarin baru pulang umroh, jadi &lt;em&gt;gue&lt;/em&gt; laki-laki, kok,'' katanya&lt;br /&gt;Benar, kalau Anda pernah melihat dia berbaju koko plus peci putih, tak mungkin Anda menyebut dia seorang perempuan. Tapi hampir setiap hari dari petang hingga tengah malam, sosok yang terlihat padanya adalah ''orang bergaun, beriasan, dan cantik''. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Tentu saja, Ivan punya pembelaan mengenai hal itu. ''Sebenarnya gaya busana dan riasan yang &lt;em&gt;gue&lt;/em&gt; lakukan di sini sekadar sebagai tuntutan peran &lt;em&gt;aja&lt;/em&gt;. Sekadar sebuah hiburan. Namanya dunia hiburan, kita harus bisa menciptakan sesuatu yang menarik supaya penonton tetap duduk di depan televisi menonton acara kita. Sebenarnya intinya kan cuma itu. Jadi &lt;em&gt;gak&lt;/em&gt; ada sama sekali keinginan kita untuk membuat anak-anak menjadi bingung,'' ujarnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Apalagi, tambah Ivan, anak-anak sekarang pintar-pintar dalam menilai seseorang. ''Mereka tahu kalau yang dilakukan Ivan di &lt;em&gt;Indosiar&lt;/em&gt; ini hanya sekadar peran.''Olga Syahputra yang tampil jadi perempuan dalam Dangdut Mania Dadakan TPI pun menolak disebut dirinya bukan laki-laki. Apalagi riasan mukanya supermenor dan lebih mirip badut cantik.''Mana ada sih wanita yang mukanya hancur begitu? Penonton pasti sudah tahu bahwa itu memang untuk kepentingan hiburan semata. Mereka tahu kok kalau &lt;em&gt;gue&lt;/em&gt; laki-laki. Hanya selama di panggung &lt;em&gt;aja&lt;/em&gt;, atas tuntutan cerita &lt;em&gt;gue&lt;/em&gt; dandan jadi perempuan. Di banyak acara &lt;em&gt;gue&lt;/em&gt; tetap berdandan sebagaimana seorang laki-laki. Celana jins, kemeja, kadang pakai rantai di celana. Itu kan lelaki, bukan perempuan. Jadi sekali lagi itu cuma kebutuhan peran dan hiburan semata,'' ujar Olga.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Ya, itu hanya kebutuhan peran yang oleh pengelola televisi diyakini sebagai pendongkrak rating.''Semua akting Ivan, Ruben Onsu, juga Eko Patrio pada acara-acara di Indosiar semata-mata dirancang sebagai hiburan semata yang semarak, meriah, dan enak ditonton,'' tandas Gufron, humas Indosiar ketika dihubungi.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Meski hanya hiburan, secara psikologis, kata psikolog Hastaning, tontonan seperti itu bersifat abnormal dan sangat tidak mendidik. Keabnormalan itu terlihat pada peran Ivan yang tidak jelas. Di situ, dia tak semata lelaki feminin tapi seorang wanita meskipun secara gender, dia lelaki. Apalagi, bukan untuk menghakimi Ivan sebagai pribadi, apa yang dia tampilkan memperlihatkan kecenderungan ulang-alik jenis kelamin. Suatu kali dia tampil sebagai lelaki macho plus rambut cepak dan berewok. Kali lain dia sangat anggun dalam balutan gaun. Yang tak termungkiri, dia seorang idola. Orang seperti dia tentu banyak yang ingin mengimitasinya. Itulah mengapa banyak orang tua mencemaskan kecenderungan tersebut. Bagaimana jika anak lelaki Anda mendadak ingin memakai rok sepanjang hari hanya karena sering melihat di televisi banyak laki-laki jadi sukses setelah jadi ''perempuan''?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peliput: Tresnawati, Kartika Runiasari (Jakarta), Sarby (Semarang)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-686483620656324662?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/686483620656324662/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=686483620656324662' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/686483620656324662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/686483620656324662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/09/ulang-alik-jenis-kelamin.html' title='Ulang-alik Jenis Kelamin'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-1887929455530078306</id><published>2008-09-01T00:07:00.001-07:00</published><updated>2008-09-11T12:02:04.945-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Theater'/><title type='text'>Kesetiaan yang Tak Mati-mati</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SLuXsO4fX5I/AAAAAAAAADU/owCOUMffghE/s1600-h/sm5penabud23.0.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240949377540775826" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SLuXsO4fX5I/AAAAAAAAADU/owCOUMffghE/s320/sm5penabud23.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;BAGAIMANA&lt;/strong&gt; mungkin sebuah topeng bisa terlihat begitu bernyawa hingga mampu mengilhami cerita mengenai sesosok figur yang mengembara melintasi abad dan benua? Bagaimanakah mungkin kesetiaan seseorang kepada seseorang yang lain tak termatikan oleh apa pun, juga oleh waktu?&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dalam keyakinan dramawan Francois Cervantes, tidak ada yang tidak mungkin. Setidaknya, itulah yang dia tulis dalam monolog &lt;em&gt;Le Voyage de Penazar&lt;/em&gt; (Perjalanan Kartala) yang Rabu (21/8/2002) malam dipentaskan dalam kolaborasi dengan Slamet Gundono di Teater Arena TBS. Keyakinan itu pulalah yang memungkinkan kolaborasi terjadi. Begitu banyak perbedaan terpapar di panggung, terutama kultur dan bahasa.&lt;br /&gt;Catherine Germain (pemeran Kartala) berbusana khas kaum borjuis Prancis muncul dari belakang panggung. Wajahnya tertutup topeng Penazar.&lt;br /&gt;Slamet Gundono bersama 4 kru musik telah terlebih dulu di panggung menjadi semacam pengantar lakon.&lt;br /&gt;Begitu masuk panggung, dia menari-nari dalam gerakan ritmis sambil mengucapkan potongan teks Prancis. Permainan gerak dan artikulasi vokal yang banal dan hidup begitu memikat. Gerakan tarinya mirip tarian topeng banyuwangen. Tapi itu disangkalnya.&lt;br /&gt;"Saya tidak tahu jenis tari itu. Saya bergerak tanpa beban seperti yang biasa saya lakukan saat memerankan clown (badut) pada beberapa pertunjukan teater saya di Prancis. Topeng yang saya kenakan itulah yang membawa saya bergerak-gerak," kata Catherine.&lt;br /&gt;Sebagian besar penonton memang boleh tidak mengerti makna ucapannya. Tapi ekspresi yang lahir dari bebunyian kata-kata asing, sembari sesekali diterjemahkan secara sangat bebas oleh Gundono dalam bahasa Jawa dialek Tegal, cukup membantu penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Abdi Abadi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Le Voyage de Penazar&lt;/em&gt; bermula dari sebuah topeng yang ditemukan Francois Cervantes pada sebuah toko antik di negerinya. Topeng eksotis berupa figur Penasar Cenikan (mirip punakawan) atau di Jawa disebut Kartala. Topeng itu begitu memesona dan dia merasa topeng itu bernyawa. Lalu dia melacak ke tempat asal topeng di Bali.&lt;br /&gt;Kartala adalah abdi setia Raja Jenggala pada abad ke-15. Ketika sang Raja meninggal, dia lari ke Bali sebelum ke India. Dari India, dia mengembara ke negara-negara Islam seperti Pakistan dan Irak hingga ke sebuah negeri bersalju di Kaukasia.&lt;br /&gt;Dia terus mengembara melintasi abad dan benua. Tapi kesetiaannya pada sang Raja tetap abadi. Maka jadilah dia abdi abadi.&lt;br /&gt;Hingga pada abad ke-21, pengembaraannya sampai di Paris, Prancis, dan dia berubah menjadi barang antik. "&lt;em&gt;J'etais fidele pour toujours&lt;/em&gt; (Selamanya aku adalah orang yang setia)," kata Kartala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tidak Istimewa&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi pertunjukan, tidak ada yang dapat dibilang istimewa. Peradeganan beralur lurus, bahkan dalam beberapa bagian seperti "kurang darah".&lt;br /&gt;Maka muncul kesan, kisahnyalah yang terpenting. Itu pun melalui mulut Slamet Gundono yang seperti begitu bebas menerjemahkan ucapan Catherine. Malah ada kesan Slamet mendominasi permainan. Penonton serasa hanya boleh sekilas-sekilas menyimak akting Catherine.&lt;br /&gt;Ketidakistimewaan pertunjukan malam itu juga diakui Francois Cervantes yang telah mementaskan monolognya 150 kali di Prancis. "Ini memang kali pertama monolog itu dipentaskan di Indonesia. Kami hanya berproses beberapa hari dan sangat tidak sempurna. Ya, kami menganggap pertunjukan ini dan besok (pentas yang sama di LIP Yogya, 22/8/2003) hanya sebuah pengalaman," katanya.&lt;br /&gt;Dia membandingkan pertunjukan itu dengan &lt;em&gt;Epos Gilgamesh&lt;/em&gt; yang digarap bersama beberapa seniman Surabaya tahun 1997. Lakon itu digarap selama 4 bulan di Surabaya sebelum pentas selama 2,5 bulan di Prancis.(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dari Sekelumit Pijakan Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LAKON&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Le Voyag&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SLuYekOXCuI/AAAAAAAAADs/B7zZym19UdI/s1600-h/sm5cerva23.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5240950242263108322" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SLuYekOXCuI/AAAAAAAAADs/B7zZym19UdI/s320/sm5cerva23.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;e de Penazar&lt;/em&gt; yang rampung ditulis Francois Cervantes tahun 1999. Kisah berangkat dari sebuah wilayah yang dalam terminologi historis kita adalah wilayah yang nyata ada pada abad ke-15: Kerajaan Jenggala, Jawa Timur.&lt;br /&gt;Benarkah lakon yang ditulis dramawan Prancis kelahiran 14 Agustus 1959 itu berpijak dari peristiwa sejarah? Berikut petikan wawancara dengan penulis lakon dan sutradara yang hanya paham bahasa Prancis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Anda menyebut Jenggala dalam lakon Anda. Apa memang Anda berpijak dari peristiwa sejarah saat menulis?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Walaupun serba sedikit, memang ada pijakan historis. Itu tampak pada abad-abad yang tertulis dalam lakon. Saya memang menyebut Jenggala, bahkan kerajaan itu menjadi pijakan pengembaran tokoh Kartala. Sebab, lakon itu murni diilhami sebuah topeng yang setelah saya lacak berasal dari Bali. Penazar namanya dan bernama Kartala di Jenggala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kisah topeng itu bagaimana?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya menemukan sebuah topeng di toko antik di Prancis. Saya begitu takjub. Saya melihat itu bukan sekadar topeng melainkan topeng bernyawa. Saya lacak asal topeng itu dan ternyata figur Penasar Cenikan dalam dramatari di Bali. Saya telusur lagi, ternyata ada kaitan dengan figur Kartala di Jenggala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jadi, cerita dalam lakon itu melulu soal perjalanan sebuah topeng?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi begitu. Tokoh Kartala bukanlah sekadar seorang manusia. Perjalanannya bukan perjalanan manusia. Itu lebih sebagai perjalanan roh, spritual. Tapi yang pasti, saya ingin mengetengahkan bagaimana tokoh itu begitu setia sebagai seorang abdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Lakon itu telah dipentaskan 150 kali di negara Anda. Bagaimana reaksi penonton terhadap lakon yang menyebut nama asing?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kali pertama mementaskannya, saya dihujani banyak pertanyaan. Jenggala itu nyata ataukah fiktif. Saya bilang, itu nyata. Selanjutnya, ketertarikan mereka setiap kali lakon itu dimainkan seperti tak habis-habis. Catherine Germain-lah yang selalu memainkannya. Kebetulan dia aktris bagus yang punya ketertarikan berakting dengan topeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ke hal lain, bagaimana kehidupan teater di negara Anda?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sangat bagus. Kami punya banyak kelompok teater. Kami punya banyak gedung teater. Kami juga punya penonton teater. Aktivitas teater begitu hidup di sana. Bayangkan saja, selama 15 tahun bergulat dalam dunia teater, saya telah menyutradarai ribuan pementasan. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks &amp;amp; Foto: Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 23 Agustus 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-1887929455530078306?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/1887929455530078306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=1887929455530078306' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/1887929455530078306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/1887929455530078306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/09/kesetiaan-yang-tak-mati-mati.html' title='Kesetiaan yang Tak Mati-mati'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SLuXsO4fX5I/AAAAAAAAADU/owCOUMffghE/s72-c/sm5penabud23.0.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-7522585709319870860</id><published>2008-08-30T01:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:33:14.695-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Social Change'/><title type='text'>Berubah, Berbuah atau Bubrah</title><content type='html'>&lt;strong&gt;HAMPIR&lt;/strong&gt; tiap lepas Maghrib, Rokhmad (58) duduk di beranda rumahnya, bersarung dan bertelanjang dada bila cuaca terasa gerah, dan menyedot rokok kretek filternya pelan-pelan. Sesekali matanya memandang atap tertinggi bangunan kampus. Kali lain dia memandangi lalu lalang mahasiswa, yang berjalan atau yang bersepeda motor. Kadang-kadang sembari mengembuskan asap rokok, pikirannya menerawang ke masa dua puluhan tahun lalu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu ingat pasti, tempat yang kini ditanami banyak gedung kampus itu hanyalah bentangan tanah sawah tadah hujan yang lebih banyak kekeringan. Di situ, setiap malamnya hanya jengkerik yang berpesta ''menggelar'' orkestrasi bebunyian yang nyaring. Di seselanya sering pula terdengar derik ular. Dan yang paling diingat Rokhmad adalah sebidang tanah tak luas miliknya yang harus dia jual untuk pembangunan kampus IKIP Semarang (sekarang Unnes).&lt;br /&gt;Dan jalanan Sekaran yang sekarang beraspal &lt;em&gt;hotmix&lt;/em&gt; itu pun dulunya jalanan kampung yang jelek dan tanah merahnya selalu becek. Ingatan selebihnya adalah malam-malam yang sepi. Gerak hidup saat itu seperti terhenti selepas Isya.&lt;br /&gt;Semua itu sudah berubah mengikuti eksodus mahasiswa yang berkuliah di kampus tersebut. Malam-malamnya pun seperti lebih panjang. Tapi Rokhmad tak pernah menyesali semua perubahan itu. ''Hidup memang harus berubah. &lt;em&gt;Nuting jaman kalakone&lt;/em&gt;,'' ucapnya lirih.&lt;br /&gt;Dia memang telah kehilangan beberapa petak tanahnya karena telah dia jual. Tapi kini dia bisa hidup dari petak tanah yang lain dan juga dari kos-kosan yang dia buka untuk mahasiswa. Lebih-lebih lagi, ketiga anaknya sekarang telah ''mentas'' dan punya rumah sendiri-sendiri di tempat lain.&lt;br /&gt;Ya, sebagian besar masyarakat sekitar kampus Unnes mengakui kedatangan mahasiswa ke wilayah mereka memang memengaruhi pola hidup mereka. Paling jelas terlihat pada mata pencaharian mereka. Tolchah (38) bercerita, dulu orang sekitar kampus Unnes adalah petani, buruh tani, pekerja proyek, dan paling banyak jadi pedagang buah di Jakarta. ''Setelah ada kampus, yang merantau memilih pulang dan berusaha di kampung. Karena tanah habis dijual, kami membuka kos-kosan, warung, atau toko kelontong di rumah,'' ujar buruh bangunan yang tinggal di Dukuh Banaran, Kelurahan Sekaran, Gunungpati, Semarang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERUBAHAN&lt;/strong&gt; sosial serupa juga terjadi di sekitar kampus Unsoed Purwokerto dan UNS dan STSI Surakarta.&lt;br /&gt;''Sekarang desa saya ramai sekali,'' cerita Kusmiyati (36), warga Jl Cendrawasih, Gang Perkutut, Grendeng Purwokerto, ''Ketika saya kecil, di sini rumah masih jarang-jarang. Yang membuka kos-kosan juga baru satu-dua. Sekarang, 95% rumah punya kos-kosan.''&lt;br /&gt;Dari sisi ekonomis, masyarakat setempat memang terangkat. Simak saja perhitungan Ir Sunardi (64), dosen Unsoed yang tinggal di sekitar kampus. ''Saat ini ada sekitar 20 ribu mahasiswa. Kalau mereka rata-rata membelanjakan uang Rp 750 ribu per bulan, berarti ada Rp 15 miliar uang yang berputar di sini. Yang kena dampak positifnya ya masyarakat sekitar dari pemilik kos, tukang becak, pemilik warung hingga petani.''&lt;br /&gt;Selain dampak ekonomi, yang tercatat sebagai dampak positif adalah pola berpikir masyarakat setempat. ''Pergaulan dengan mahasiswa setidaknya membuat masyarakat berpikir lebih rasional. Mereka misalnya tak mau menjual tanah kalau akan dibangun perumahan atau supermarket. Kita bisa lihat pada kasus tanah banda di Desa Pabuaran. Bahkan saya melihat ada semacam kecenderungan mereka mau melepas tanah kalau untuk didirikan lembaga pendidikan. Bagi mereka itu lebih bagus ketimbang dibangun pabrik,'' tambah Sunardi.&lt;br /&gt;Di kawasan Kentingan Solo juga begitu. ''Pola pikir masyarakat asli jadi lebih cerdas dan kritis karena bergaul dengan mahasiswa,'' ujar Sarwadi (40), seorang pemilik rental komputer.&lt;br /&gt;Perubahan secara ekonomis pun sangat jelas terlihat. Sekitar tahun 1980-an, pada lokasi yang sekarang berdiri UNS dan STSI Surakarta itu tadinya hanya &lt;em&gt;bong&lt;/em&gt; (kuburan) China. Orang yang datang ke situ hidup secara &lt;em&gt;magersaren&lt;/em&gt; alias menumpang pada rumah penduduk. Ketika &lt;em&gt;bong&lt;/em&gt; itu direlokasi ke Karanganyar dan dibangun kampus UNS, orang mulai berdatangan ke situ. Mata pencaharian orang pun ikut berubah. Selain membuka kos-kosan, tak sedikit yang membuka warung atau rumah makan, dan sarana lain pendukung aktivitas kampus seperti rental komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TAK&lt;/strong&gt; hanya kondisi perekonomian yang berubah, tapi juga perilaku mereka, khususnya terhadap anak muda asli. Kalau dari sisi ekonomis semua perubahan itu tampak bagus, tak begitu dengan perubahan perilaku. Meskipun tak ada penolakan atau ketidakterimaan berlebihan, masyarakat sekitar kampus sering mengeluhkan adanya pergeseran budaya ketimuran yang sekian lama mereka junjung tinggi. Hanya saja, menurut sumber-sumber yang dimintai informasi, pergeseran budaya itu masih bisa ditoleransi.&lt;br /&gt;''Sebelum mahasiswa datang, tak ada anak muda kami yang bisa main gitar. Sekarang sudah banyak yang pintar bergitar,'' cerita Tolchah (38), buruh bangunan yang tinggal di Dukuh Banaran, Kelurahan Sekaran, Gunungpati, Semarang, ''Cuma yang agak &lt;em&gt;ngganjel&lt;/em&gt; itu perilaku mahasiswa yang kalau tak dipantau, sering membawa teman perempuan ke kamar kos mereka.''&lt;br /&gt;Cara mahasiswa dalam bersopan-santun pun sering dikeluhkan masyarakat sekitar kampus. ''Kadang-kadang para mahasiswa itu kurang sopan ketika mengendarai sepeda motor. Ada juga mereka yang &lt;em&gt;cuek&lt;/em&gt; dan tak mau bertegur sapa dengan kami,'' cerita Wiharto (50), anggota TNI AD, yang juga Ketua RW 7 Kelurahan Tembalang Semarang, ''Tapi itu masih bisa kami toleransi.''&lt;br /&gt;Di sekitar kampus Unsoed, kata Kusmiyati, pada tahun 1980-an, mahasiswanya sangat ber-&lt;em&gt;unggah-ungguh&lt;/em&gt;. ''Mau keluar malam saja pamitan sama yang punya kos. Mereka juga membaur dengan anak muda setempat dan sering bikin acara bareng. Sekarang semua itu sudah berubah. Mereka berperilaku agak bebas dan berkesan semaunya. Yang kena juga anak dari penduduk asli. Misalnya, banyak dari mereka yang kini ikut-ikutan ngecat rambut.&lt;br /&gt;''Perubahan perilaku masyarakat setempat, khususnya di kalangan anak muda, yang bisa ditandai dengan spidol merah adalah mentalitas transisional yang mengkhawatirkan. ''&lt;br /&gt;Adanya kampus memang memotivasi anak muda setempat berstudi lebih tinggi. Tapi yang tak punya kesempatan kuliah, gaya hidup mereka jadi tidak jelas. Gayanya seperti orang kota tapi mentalitasnya desa. Satu contoh misalnya soal kegemaran mabuk-mabukan,'' tandas Sunardi.&lt;br /&gt;Yang jelas, pengaruh paling kuat mengikuti kedatangan mahasiswa adalah dalam soal gaya hidup. Menurut Anggis Jaka Cahyana (23) yang tinggal di Gang Wijaya Kusuma, Sumampir Purwokerto, mahasiswa adalah &lt;em&gt;trendsetter&lt;/em&gt; apa pun utuk pemuda setempat.''Mahasiswa jadi motor &lt;em&gt;youth culture&lt;/em&gt; (budaya anak muda) misalnya dalam bikin &lt;em&gt;gigs&lt;/em&gt; (pertunjukan) musik, atau juga dalam mode. Yang jelas, semua itu membuka peluang usaha seperti kafe, distro, desain grafis, atau &lt;em&gt;event organizer&lt;/em&gt;.''&lt;br /&gt;Itu berarti memang secara ekonomis pembangunan kampus itu berbuah positif bagi masyarakat setempat. Perubahan perilaku pun direaksi dengan peningkatan perekonomian dengan meluasnya peluang usaha. Apalagi masyarakat memang tak bisa menolak perubahan yang berjalan pelan. Jadi bijak benar misalnya Rochmad tak menyesali apa pun yang telah berubah dan berprinsip &lt;em&gt;nuting jaman kalakone&lt;/em&gt;. Artinya, orang memang harus ikut perubahan kalau tak ingin tersisih. Syukurlah bila perubahan itu berbuah sesuatu yang positif seperti misalnya peningkatan taraf hidup. Sebab kalau perubahannya hanya dalam bentuk kesenangan mengecat rambut atau mabuk-mabukan, atau pergaulan bebas, itu namanya bukan berbuah melainkan &lt;em&gt;bubrah&lt;/em&gt;. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Potensi Kecemburuan Sosial&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DALAM&lt;/strong&gt; proses perubahan, umumnya ada pihak yang dominan, dan ada yang didominasi. Pada kasus perubahan masyarakat di sekitar kampus, yang dominan umumnya adalah masyarakat pendatang yang tak lain adalah kalangan mahasiswa. Hanya saja, di luar soal itu, ada suatu interaksi yang bersifat mutualistis alias saling menguntungkan. Pendapat Jarot Santoso MSi, sosiolog dari Fisip Unsoed Purwokerto mengenai perubahan masyarakat sekitar kampus bisa kita simak dalam petikan wawancara berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tolok ukur apa yang mudah untuk menggambarkan perubahan di sekitar kampus?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, perubahan yang terjadi di sekitar kampus akan sama. Di Yogyakarta atau di sekitar kampus Unsoed ini sama saja.Tolok ukurnya mudah. Kelurahan Grendeng yang sekarang jadi lokasi Unsoed, dahulu terkenal dengan beras Grendeng-nya. Sekarang tidak ada lagi lahan pertanian. Ujudnya berupa unit-unit usaha mulai dari ruko mewah hingga kelas kaki lima. Artinya, masyarakat agraris sudah lenyap berganti dengan masyarakat kota. Perubahan lainnya terjadi dalam hal literasi. Sebagai masyarakat agraris, warga asli menganggap perguruan tinggi sebagai sesuatu yang sangat tinggi dan tidak mungkin terjangkau. Perguruan tinggi adalah tempat bagi orang berkelas sosial atas, orang kaya, dan orang pintar. Itu bukan dunia mereka. Kini setelah melakukan kontak, anggapan semacam itu sudah tidak ada. Perguruan tinggi dianggap sebagai sesuatu yang biasa bagi mereka, sesuatu yang mereka juga bisa merengkuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Untuk perubahan literasi, apa tolok ukurnya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya banyak berbicara dengan warga lokal, termasuk karyawan Unsoed dari penduduk setempat. Bahkan warga yang kini menjadi sopir berusaha semampunya agar anaknya bisa kuliah. Ini perubahan yang positif. Juga terjadi perubahan dalam gaya hidup. Kaum muda di sini pada masa agraris dulu tidak boleh berpacaran. Itu aneh. Tapi sekarang, kalau putra-putrinya sudah dewasa dan tidak punya pacar, malah ditanya. Artinya, pacaran sudah menjelma menjadi institusi sosial yang harus dialami kaum muda. Itu contoh sederhananya.Namun dalam bidang ekonomi, berpotensi muncul kecemburuan sosial secara tersembunyi, juga perasaan minder.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seperti apa misalnya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penduduk asli tergeser. Mereka sering mengalah dan terpinggirkan karena nilai dari luar lebih dominan. Banyak penduduk asli yang lebih memilih menjual tanahnya dan berpindah ke daerah pinggiran, bukan semata karena pertimbangan ekonomis. Mereka merasa lingkungan asalnya itu sudah bukan dunianya lagi. Lingkungannya sudah diisi oleh orang kaya, berpangkat, pintar dan lain-lain. Ketika saya meminta sejumlah penduduk asli mempertahankan tanahnya, alasan itu keluar dan memang tidak bisa disalahkan. Tidak hanya di Kota Purwokerto. Itu terjadi di Desa Pamijen Kecamatan Sokaraja, tempat tinggal saya. Penduduk asli mulai pindah sejak ada Fakultas Kedokteran. Sebaliknya kos-kos besar dan mewah bermunculan. Warung-warung yang berkembang itu modalnya dari luar seperti dari Tegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jadi terjadi gegar budaya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ya, termasuk dialami warga asli yang tanahnya dibeli dan memiliki uang banyak. Ada sopir yang bercerita kalau uangnya sampai disimpan di kandang ayam karena tidak tahu lagi ditaruh di mana. Lalu gaya hidup mereka berubah menjadi komsumtif. Saat uang habis, mereka bekerja sebagai sopir lagi. Banyak cerita seperti itu di sekitar kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa dampaknya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Muncul kriminalitas ringan dan itu memang harus diterima sebagai bagian dari perubahan sosial. Mereka bukan semata karena ingin bertindak jahat, atau karena malas mencari pekerjaan. Mereka tidak mendapat kesempatan dan terjadi kecemburuan ekonomi. Ini pada akhirnya menjadi fenomena dalam skala nasional juga. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tim Peliput:&lt;/strong&gt; Leonardo Agung B (Semarang), Sigit Harsanto (Purwokerto), Wisnu Kisawa (Solo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 13 Juli 2008&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-7522585709319870860?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/7522585709319870860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=7522585709319870860' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7522585709319870860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7522585709319870860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/08/berubah-berbuah-atau-bubrah.html' title='Berubah, Berbuah atau Bubrah'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-5967955560811362884</id><published>2008-08-02T03:32:00.000-07:00</published><updated>2008-09-01T00:00:13.586-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><title type='text'>Sekolah Internasional dan Masa Depan Itu</title><content type='html'>&lt;strong&gt;COBA&lt;/strong&gt; tanyakan pada orang di sekitar Anda: pendidikan seperti apa yang dia inginkan untuk anaknya? Jawabannya sangat mungkin bakal kompak, ''Tentu saja yang terbaik dan bisa menjamin masa depannya.'' Apalagi orang bilang, pendidikan itu suatu investasi. Jadi, jika orang tua memberikan anaknya pendidikan berkualitas utama, kecil kemungkinan investasi itu sia-sia. Ketika menerbangkan anak semata wayangnya jauh-jauh ke Los Angeles untuk bersekolah SMA, Ny Edith Budiman pun mengimpikan anaknya bakal bermasa depan bagus. Lebih-lebih lagi, dia punya uang untuk ongkos pendidikan yang pasti mahal itu. ''Dia telah lulus dari California State University, North Ridge, Los Angeles. Kini dia sudah bekerja di sana,'' ujar perempuan itu seraya tersenyum simpul. Senyum itu bolehlah kita maknakan bahwa impiannya telah terwujud. Si anak telah punya masa depan bagus dengan membangun karier di negeri Paman Sam.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja alasan Ny Edith bersifat personal. Lagi pula, alasan itu tak lantas kuat untuk menyimpulkan bahwa pendidikan nasional kita tak lagi menjamin masa depan subjek belajar. Pasalnya, masih begitu banyak orang meyakini pendidikan di Indonesia bergaransi masa depan bagus. Meski begitu, kita tak bisa membantah kenyataan bahwa banyak orang berpikiran serupa perempuan itu. Hanya saja tak gampang bisa bersekolah di luar negeri. Tak lantas kalau kita sudah punya simpanan gunung uang, kita tinggal bilang ''Sesame, buka pintu'' pada sekolah target. Perbedaan kurikulum, pola pendidikan, dan budaya mengharuskan anak kita yang hendak berstudi di luar negeri mesti melakukan penyesuaian. Itu memotivasi banyak orang di Indonesia membuat sekolah yang lulusannya tak perlu menjalani kelas persiapan kalau ingin bersekolah di luar negeri, tapi tetap berkurikulum nasional. Maka bermunculan lembaga pendidikan yang diabsahkan Depdiknas sebagai Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (SNBI).''Saya lihat anak-anak Indonesia lulusan SMA yang ingin berkuliah di luar negeri harus menjalani sekolah persiapan selama 1-1,5 tahun. Makanya kami bikin sekolah yang begitu siswa lulus langsung bisa kuliah,'' ujar Lie Ngian Keng, direktur akademis Bina Bangsa School (BBS), salah satu SNBI di Indonesia.Sejak didirikan tahun 2001, BBS memang bertujuan memberikan pendidikan di Indonesia yang diakui secara internasional sehingga pembelajar beroleh pendidikan yang baik dan bisa melanjutkan studi negara mana saja, termasuk Indonesia. Dengan basis kurikulum Indonesia dan mengadopsi model pendidikan Singapura, di mana tesnya berskala internasional dari University of Cambridge, Inggris, jelas terjamin keberterimaannya pada lembaga pendidikan di luar negeri.Dan karena yakin bahwa pendidikan berstandar internasional itu sebaiknya dimulai sedari dini dan berkelanjutan, pengelola BBS membuka sekolah dari prasekolah yang dinamai &lt;em&gt;nursery, primary school &lt;/em&gt;(SD)&lt;em&gt;, secondary school &lt;/em&gt;(SMP)&lt;em&gt;, &lt;/em&gt;hingga&lt;em&gt; junior college &lt;/em&gt;(SMA)&lt;em&gt;. &lt;/em&gt;Untuk tujuan tersebut, BBS harus berinvestasi besar.&lt;br /&gt;Apalagi kata Lie, ''Kami berprinsip selalu memulai dengan membeli tanah dan membangun sekolah di atasnya. Itu agar BBS bisa punya nilai beda bagi anak-anak Indonesia.''BBS memang berkembang bagus. Setidaknya, dalam rentang delapan tahun saja, BBS beroperasi di beberapa tempat: dua di Jakarta (Kebon Jeruk dan Pantai Indah Kapuk) dan masing-masing sebuah di Bandung, Malang, dan Semarang (mulai beroperasi 21 Juli 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KEHADIRAN &lt;/strong&gt;banyak SNBI, apalagi setelah pemerintah ''mengharuskan'' minimal ada satu SNBI di tiap kabupaten atau kota, bukannya tanpa kritik. Dengar saja pendapat Ir Saratri Wilonoyudho MSi, pengamat pendidikan dari Unnes. ''Saya mencermati banyak SNBI yang berkesan belum dipersiapkan dengan matang. Apakah untuk disebut bertaraf internasional cukup dengan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar proses belajar-mengajar, atau fasilitas pendidikan yang lengkap saja?''&lt;br /&gt;Lie tentu saja menampik anggapan seperti itu. Atribut sekolah internasional yang disandang BBS tak melulu karena berbahasa pengantar bahasa Inggris. Tidak juga bersandar pada pengembangan kemampuan kognitif pada siswa. ''Hanya bikin pintar siswa itu percuma kalau mentalitasnya tak bagus. Makanya kami mengembangkan &lt;em&gt;character building &lt;/em&gt;pada siswa.''Secara lebih jelas, Lie mendedah lima unsur yang jadi basis pola pendidikan di BBS. Pertama, pengembangan spiritualitas agar siswa mengenal dan dekat dengan Tuhan. Kedua, &lt;em&gt;citizenship &lt;/em&gt;atau kesadaran sebagai warga negara Indonesia. Ketiga, pengembangan kompetensi akademis yang bertujuan agar siswa bisa berpikir logis, bertindak serta mengembangkan proses belajar yang berkelanjutan. Hal tersebut sejalan dengan visi BBS yang berbunyi ''&lt;em&gt;an environment nurturing life-long learners&lt;/em&gt;'' atau gamblangnya ''proses penciptaan lingkungan di mana siswa termotivasi untuk terus belajar di sepanjang hayatnya''. Selanjutnya unsur keempat adalah pengembangan emosional yang bertujuan agar siswa bisa mengenali dirinya sendiri. Dan unsur kelima atau terakhir adalah pengembangan fisik agar siswa bisa menjaga tubuhnya sendiri, misalnya dengan berolahraga.&lt;br /&gt;SNBI lainnya seperti Yayasan Pendidikan Kristen Krista Mitra Semarang juga tak melulu mengembangkan kemampuan akademis siswa. ''Konsep awal sekolah kami adalah mencoba memberdayakan siswa agar berkarakter dan berkerohanian. Jadi, kami sangat menekankan&lt;em&gt; character building&lt;/em&gt;,'' ujar Drs Christianus Dwi Estafianto, Kepala Sekolah SMA Krista Mitra Semarang. Berbeda dengan Bina Bangsa School yang sedari awal diarahkan sebagai SNBI, Krista Mitra ''mengambil'' predikat tersebut setelah berjalan beberapa tahun sejak didirikan tahun 1993. ''Selama beberapa waktu, setiap tahunnya sekitar 10% lulusan SMA kami melanjutkan ke luar negeri. Bahkan, banyak pula yang baru kelas 2 SMA sudah pindah ke luar negeri. Dari situ kami berpikir untuk mengembangkan pola pendidikan bertaraf internasional agar alumni kami tak harus menjalani kelas persiapan sebelum berkuliah di luar negeri.''&lt;br /&gt;Sekolah lainnya yang memang diarahkan sebagai sekolah internasional tetapi dengan pola yang agak berbeda adalah Semesta Bilingual Boarding School (SBBS). Ini bisa dibilang sekolah pertama di Semarang yang dalam istilah sekarang termasuk SNBI. Perbedaan dengan sekolah sejenis adalah pada pola pengasramaan siswanya.&lt;br /&gt;Seperti yang lainnya, sekolah yang didirikan Yayasan Al-Firdaus dan Yayasan Pasiad Indonesia punya misi membentuk individu luar biasa yang bakal mampu menghadapi tantangan zaman dalam pergaulan internasional. Tentu saja bahasa menjadi unsur yang sangat penting. Menariknya, demi mengembangkan kemampuan bahasa tersebut, ketika pemerintah belum menetapkan standar SNBI, dengan tetap berbasis kurikulum Indonesia, untuk mata pelajaran &lt;em&gt;science &lt;/em&gt;(matematika, IPA), SBBS mengembangkan proses pembelajaran dengan bahasa pengantar bahasa Inggris.''Model itu benar-benar inovasi kami sendiri. Pernah kami tanyakan hal itu pada Depdiknas. Karena tak ada acuannya, lembaga itu tak melarang dan tak menyarankan. Jadi, kami jalan terus,'' ujar Moh Haris, Kepala SMP-SMA SBBS.Yang jelas, semua sekolah internasional itu berkehendak membangun karakter anak bangsa ini dengan tak lupa memberi ''jaminan'' masa depan. Itu juga yang diharapkan para orang tua yang anaknya bersekolah di situ. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bergengsi dan Elitis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BERSEKOLAH&lt;/strong&gt; internasional atau di luar negeri itu bergengsi. Maka orang tua yang menyekolahkan anaknya ke sekolah-sekolah sejenis itu hanyalah memburu gengsi. Benarkah?&lt;br /&gt;''Tidak juga,'' jawab Umi S Adi Susilo, pemilik Batik Semarang 16, yang menyekolahkan dua anaknya di SBBS, ''Yang penting sekolahnya menanamkan nilai-nilai kerohanian Islam dan membuat anak bisa mandiri. Semesta memberi keduanya dan saya sudah melihat kemandirian itu pada kedua anak saya.''&lt;br /&gt;Pihak pengelola sekolah internasional pun tak selalu sepakat soal predikat ''bergengsi'' itu. Krista Mitra yang ber-&lt;em&gt;sister school&lt;/em&gt; dengan Goulburn Valley Grammar School di Melbourne menganggap sekolah jenis itu adalah sebuah keniscayaan. ''Saya yakin dalam waktu-waktu mendatang banyak sekolah asing yang masuk ke sini. Ini bisa berterima sebagai konsekuensi logis dari pergaulan yang semakin global, juga pada era pasar bebas,'' tandas Christianus, sang kepala sekolah.Berbeda dengan dia, Lie dari BBS sepakat bahwa sekolah internasional tak termungkiri memiliki predikat bergengsi, elitis, dan eksklusifnya. ''Ya memang kualitasnya begitu. Pendidikan ini memang mahal.''&lt;br /&gt;Ya, untuk mendapatkan sesuatu yang bagus, kita memang mesti rela mengeluarkan banyak hal, termasuk uang. Begitu juga, banyak orang tak memusingkan uang demi pendidikan anaknya. Apalagi bila lembaga pendidikan itu memiliki citra bagus, bergengsi, dan eksklusif.Kalau begitu, tak bisakah orang dengan kondisi perekonomian biasa, atau bahkan ''di bawah biasa'' ikut menikmati ''kemewahan'' sekolah internasional itu? Mengenai hal itu, Moh Haris dari SBBS bilang, ''Kalau saya cermati, motivasi orang membawa anaknya ke sekolah kami itu beragam. Ada yang tertarik karena sekolah ini bercitra sekolah olimpiade &lt;em&gt;science&lt;/em&gt;. Ada juga yang mencari gengsi. Ini untuk segmen tertentu, misalnya kalangan eksekutif. Tapi jangan anggap hanya anak orang kaya yang bisa bersekolah di sini.''Haris memberi alasan, anak-anak dari kalangan eksekutif memang berkategori membayar penuh. ''Tapi kami juga punya kategori siswa yang membayar dengan diskon, dan ada juga yang benar-benar gratis karena dapat beasiswa.''Di luar itu, merebaknya sekolah internasional di Indonesia memunculkan pertanyaan yang cukup serius: Apakah orang sudah tidak percaya lagi pada pola pendidikan nasional?''Saya tidak berpikir begitu. Bahkan, sekolah-sekolah bertaraf internasional jadi pelengkap lembaga pendidikan di Indonesia,'' tutur Christianus.&lt;br /&gt;''Tidak, kok. Saya masih optimistis pada sekolah-sekolah Indonesia yang terus memperlihatkan perkembangan bagus. Hanya saja, dalam beberapa segi, sekolah kita perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman,'' tandas Moh Haris.&lt;br /&gt;Jadi, tak cukup hanya membanding-bandingkan antara sekolah internasional dengan sekolah nasional. Ada banyak hal yang perlu dibenahi pada sistem pendidikan kita. ''Sistem keseluruhannya yang harus dirombak. Kalau pemerintah konsekuen terhadap dunia pendidikan, ya memang perlu melakukan penataan dalam banyak segi,'' ujar pengamat pendidikan Saratri Wilonoyudho. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 6 Juli 2008&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-5967955560811362884?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/5967955560811362884/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=5967955560811362884' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5967955560811362884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/5967955560811362884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/08/sekolah-internasional-dan-masa-depan.html' title='Sekolah Internasional dan Masa Depan Itu'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-886850323243755694</id><published>2008-06-28T02:40:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T23:50:01.776-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tourisme'/><title type='text'>''Dagangan'' Bernama Alam</title><content type='html'>Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SISWONO&lt;/strong&gt; Yudhohusodo tak pernah bisa melupakan suatu hari yang cerah pada tahun 1958. Dia berusia 15 tahun kala ayahnya yang dokter mengajak dia mengobati seseorang di Medini. Itu sebuah tempat di lereng Gunung Ungaran yang masuk wilayah Kendal. ''Alam di situ sangat menakjubkan. Pesonanya seperti terus membayang dalam diri saya,'' kenang mantan menteri zaman Orba itu.&lt;br /&gt;Ketika telah hidup di kota besar seperti Jakarta, keindahan panorama Gunung Merbabu, Telomoyo, Andong, juga Rawapening yang terpampang dari puncak Gunung Ungaran menjadi kenangan yang terus mengharu-biru dirinya. Kenangan itu begitu kuat mengajak dia kembali.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan dia kembali ke tempat itu pada 2007. Seperti sebuah &lt;em&gt;deja-vu&lt;/em&gt;, dia masih menjumpai keindahan yang sama dengan saat dia melihatnya hampir setengah abad lalu. Pada saat itu dia berpikir bagaimana agar keindahan itu tak hanya dia nikmati sendiri. Dia ingin orang lain ikut merasakan keterpesonaan yang dia alami. Maka, 2 Agustus 2007, jadilah Umbul Sidomukti, sebuah wisata alam berluas 36 hektare dengan sebuah kolam renang alami pada ketinggian 1.000 meter dpl.&lt;br /&gt;Tak hanya kolam renang, Siswono yang ketika mahasiswa memang pecinta petualangan alami melengkapi tempat itu dengan sarana untuk uji nyali. &lt;em&gt;Flying fox&lt;/em&gt; yang terbentang pada Lembah Ungup-ungup, juga &lt;em&gt;marine bridge&lt;/em&gt; (jembatan tali) terpasang. Tak ketinggalan &lt;em&gt;camping ground&lt;/em&gt; untuk perkemahan dia sediakan.Tak lama setelah dibuka, Umbul Sidomukti yang berada di bawah naungan PT PAS jadi serupa magnet yang menarik minat banyak orang penyuka wisata alam. ''Ketika liburan, pernah sehari datang seribu pengunjung,'' jelas Bambang Wijanarko yang dipercaya Siswono sebagai manajer lapangan.&lt;br /&gt;Sepintas saja, sebagai bisnis, wisata alam seperti itu tentu sangat menguntungkan. Betapapun begitu, Siswono menampik usahanya semata bisnis yang memburu laba. ''Saya membuatnya setahap demi setahap dari uang sendiri. Tak ada pinjaman dari bank. Ini tak semata bisnis. Sebab, untuk idealisme, laba rugi adalah pertimbangan kesekian.''Barangkali agak mengherankan melihat seseorang membuka lahan wisata yang tentu saja berbiaya besar tanpa mengharapkan keuntungan darinya. Tapi kita juga tak bisa memungkiri, untuk sebuah idealisme adakalanya orang memang mau melakukan apa saja, termasuk siap (omong pahitnya) rugi dalam hitungan bisnis.&lt;br /&gt;Begitu juga ketika Budi Dharmawan membuka wisata agro Sentra Buah Prima Ngebruk di Desa Patean, Sukorejo Kendal. Sebagai pengusaha, tentu dia memikirkan keuntungan dari usaha itu. Apalagi, dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp 2 miliar untuk mewujudkan lokawisata agro tersebut. Tak termasuk perkebunan yang memang sudah ada, uang itu untuk sarana pendukung perwisataan seperti pembangunan gedung auditorium, infrastruktur jalan, dan operasional kendaraan wisata. Dan itu bukan jumlah yang kecil.&lt;br /&gt;''Jujur saja, saya memikirkan keuntungan. Tapi awalnya, tujuan saya adalah agar buah produksi petani lokal mampu bersaing dengan buah impor. Bolehlah disebut ini upaya pemberdayaan petani buah kita.''&lt;br /&gt;Ya, keuntungan tetap penting dipikirkan. Tapi sering pula ada yang lebih dari itu. Idealisme memberdayakan petani buah dalam hal ini menjadi prioritas awal. Lebih-lebih lagi, kata Pak Budi, usahanya baru balik modal atau istilah kerennya &lt;em&gt;break even poin&lt;/em&gt; (BEP) baru enam tahun setelah beroperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DI&lt;/strong&gt; luar ihwal pemenuhan idealisme atau perburuan keuntungan, beberapa tahun belakangan muncul kecenderungan orang membuat lokawisata dari alam yang tadinya berkesan biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang memiliki daya tarik. Dalam ranah ekonomi, ini ihwal bagaimana orang melakukan &lt;em&gt;branding&lt;/em&gt; sehingga yang biasa menjadi tidak biasa atau bahkan luar biasa.&lt;br /&gt;Memang tak selalu seperti itu. Alam di kitaran Umbul Sidomukti memang telah sangat cantik dan memesona sehingga membuat orang seperti Siswono terimpi-impi. Tapi tanpa naluri ''bisnis'' darinya, tempat itu mungkin hanya mirip seorang perawan molek yang terpingit sehingga sangat mungkin ia hanya bakal jadi perawan tua.&lt;br /&gt;Tapi coba lihat Sentra Buah Prima Ngebruk. Sebelum dijadikan lokawisata agro, tempat itu hanyalah perkebunan biasa yang mungkin hanya menarik untuk dipandang selintasan sembari berkendara. Atau yang dahsyat kita jumpai pada Wahana Bahari Lamongan di Jatim. Tempat itu awalnya memang sudah jadi tujuan wisata bernama Tanjung Kodok. Lantaran objeknya hanya batu-batu serupa katak dan panorama laut, ia kehilangan &lt;em&gt;kaloka&lt;/em&gt; alias popularitasnya. Nah, datang saja sekarang ke sana, Tanjung Kodok itu masih ada dan hanya menjadi lirikan sepintas duyunan pengunjung yang lebih terharu-biru oleh objek-objek buatan semacam Rumah Sakit Hantu, &lt;em&gt;water boom&lt;/em&gt;, arena gokar, atau Sarang Bajak Laut. Dan itu semua objek-objek buatan.&lt;br /&gt;Tirto Arum Baru di Jl Soekarno Hatta Barat Km 2,7 Kendal juga tadinya sebuah kolam renang. Tapi begitu bermetamorfosis menjadi tempat outbound berfasilitas lengkap, ia menjadi tempat tujuan berehat dan bermain-main dengan sebutan ''oase di jalur pantura.''&lt;br /&gt;Di Jateng, nama Owabong di Purbalingga pantas dicatat sebagai tempat wisata buatan yang &lt;em&gt;kaloka&lt;/em&gt;. Di tempat tersebut, materi alam berupa air yang jadi ''dagangan'' utama. Fasilitasnya berupa &lt;em&gt;water boom&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;olympic pool&lt;/em&gt;, kolam arus, ember tumpah, pantai bebas tsunami ditambah &lt;em&gt;flying fox&lt;/em&gt; dan sirkuit gokar. Sejak dibuka tahun 2005, pengunjung dari banyak kota berdatangan. Agus Dwiyantoro, manajer pemasaran Owabong memang tak menyebut rerata pengunjung tiap bulannya. Satu yang pasti, tempat itu mirip mesin pengeruk uang. Kata Agus, meskipun target yang dibebankan dari pemerintah setempat untuk PAD (pendapatan asli daerah), angkanya selalu naik (Rp 1 miliar di tahun 2005, Rp 1,5 miliar di tahun 2006, dan Rp 1,6 miliar di tahun 2007), Owabong selalu mampu memenuhinya. ''Tahun ini, targetnya dahsyat: Rp 2,3 miliar. Sampai bulan ini (Juni-Red), kami sudah beroleh sepertiganya,'' tandas Agus.&lt;br /&gt;Jadi jelas benar, alam itu ''dagangan'' yang menjanjikan keuntungan. ''Tentu saja menguntung. Kalau tidak, mungkin kami sudah tutup,'' ujar Sri Sarwo Utomo, Direktur Tirto Arum Baru.&lt;br /&gt;Kalau disigi lebih dalam, hal tersebut tentu saja dipengaruhi oleh kecenderungan orang untuk meyakini kembali konsepsi klasik tentang &lt;em&gt;back to nature&lt;/em&gt;. Ya, kembali ke alam, dan kalau bisa dapat untung ketika kembali kepadanya. Gamblangnya, yang menikmati dapat pesona alam, yang mengelola dapat ''pesona'' uang.(73)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;Peliput: Rony Yuwono, Modesta Fiska, Budi Setyawan&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Di Kota pun Oke&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;APA&lt;/strong&gt; yang terpacak di benak Anda ketika seseorang menyebut tempat &lt;em&gt;outbound&lt;/em&gt;? Sebuah dusun yang hening, agak di daerah ketinggian, atau pelosok yang yang medannya sulit dijangkau? Tak sepenuhnya Anda keliru. Gambaran seperti itu juga yang dipertimbangkan pengelola Tirto Arum Baru di Kendal ingin membuka sarana &lt;em&gt;outbound&lt;/em&gt; di tempat tadinya hanya kolam renang dan restoran lesehan. Pasalnya, tempat itu berada di pinggir jalan yang sibuk dan hanya sekitar dua kilometer dari pusat kota Kendal.&lt;br /&gt;''Buka tempat &lt;em&gt;outbound&lt;/em&gt; di kota itu bisa menguntungkan, tapi bisa pula tak bakal laku. Selama ini orang membayangkan tempat &lt;em&gt;outbound&lt;/em&gt; itu sebuah pedesaan atau tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Lebih-lebih lagi orang membayangkan Kendal itu berhawa panas. Belum-belum, orang sudah membayangkan suasana yang tidak asyik,'' ujar  Sri Warso Utomo.&lt;br /&gt;Keraguan lelaki itu &lt;em&gt;palastra&lt;/em&gt; alias sirna. Buktinya, sejak dibuka tahun 2004, jadwal &lt;em&gt;outbound&lt;/em&gt; di situ hampir selalu penuh. Di situ, orang bisa beriang-riang bermain polo di lumpur , &lt;em&gt;flying fox&lt;/em&gt; yang kayaknya wajib ada untuk &lt;em&gt;outbound&lt;/em&gt;, naik &lt;em&gt;gethek&lt;/em&gt; di ''danau'' buatan, taman refleksi untuk pijat-pijak kaki, atau berdebar-debar dalam ayunan berantai di atas kolam.&lt;br /&gt;Pengunjung pun berdatangan dari berbagai tempat. Tak hanya Semarang, orang dari tempat sejauh Cirebon pun kata Sarwo mau ber-&lt;em&gt;outbound&lt;/em&gt; di situ. Apalagi sejak tahun 2005, ada pengembangan baru berupa wisata agro. Walhasil, pada lahan seluas 3 hektare, orang bisa datang untuk berupa-rupa kegiatan. Lagi-lagi ini persoalan mengemas sesuatu dari yang biasa menjadi tak biasa. Selain &lt;em&gt;tagline&lt;/em&gt; ''oase di jalur pantura'', Tirto Arum Baru menyedot pengunjung dengan ''merek'' yang menyebutkan tempat itu sebagai agrowisata. Jangan membayangkan sebuah perkebunan yang berhampar-hampar dengan aneka buah. Yang ada hanya puluhan pohon mangga yang kini ditambahi mengkudu dan lidah buaya.&lt;br /&gt;''Meski tak banyak, tapi pepohonan itu tetap penting, setidaknya sebagai medium edukasi bagi sebagian orang,'' kata Sarwo.&lt;br /&gt;Edukasi? ''Ya, selain bisnis, secara moral kami juga terdorong memberikan pendidikan alam, khususnya pada anak-anak.''Mungkin itu tak semata dalih. Sarwo bercerita mengapa tempatnya membuka program bertanam dan memanen padi di sawah. ''Suatu hari, ada serombongan keluarga makan di restoran ini. Saat itu padi sedang menguning. Si anak bertanya apa tanaman itu dan ayahnya menjawab itu padi yang nantinya jadi beras. Si anak langsung mengatakan bahwa itu 'pohon beras'. Itu satu contoh, ada sebagian orang yang anaknya tak tahu sama sekali berasal dari apa nasi yang dia makan. Itu mendorong kami untuk mengembangkan program-program edukatif.''&lt;br /&gt;Yang jelas, untuk berpelesir dan berehat sekaligus beriung-ria, orang tak selalu harus pergi ke tempat terpencil. Di kota atau pinggirannya pun oke. Kalau bagus dalam pengemasan, tempat yang sibuk pun bisa dijadikan lokasi berwisata alam. Wahana Bahari Lamongan misalnya, ada di jalur jalan utama Tuban-Lamongan. Begitu juga Owabong yang berada di Desa Bojongsari, jaraknya hanya sekitar lima kilometer dari kota Purbalingga. Ini memudahkan orang yang tak ingin ''berpayah-payah'' dahulu melintasi medan yang (mungkin) sulit sebelum menikmati kegembiraan.(73)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-886850323243755694?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/886850323243755694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=886850323243755694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/886850323243755694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/886850323243755694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/06/dagangan-bernama-alam.html' title='&apos;&apos;Dagangan&apos;&apos; Bernama Alam'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-6440400711356523692</id><published>2008-06-27T01:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T23:51:07.939-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Healthy Life'/><title type='text'>Wira-Wiri Waras</title><content type='html'>Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelang logam itu berkesan sederhana. Warnanya pun tak semengilat perak, malah agak kusam. Di tangan atau kaki, ia tak lebih sebagai gelang aksesoris. Tapi bagi Anwar (26), gelang itu bukan semata hiasan tangan melainkan serupa ''jimat''. Namanya gelang biomagnetik.&lt;br /&gt;''Tadinya saya tak percaya gelang seperti itu punya khasiat hebat. Tak lama setelah pakai gelang ini, pusing dan mudah lelah yang saya idap jadi hilang. Tubuh pun jadi selalu segar ketika bangun tidur,'' kata Anwar dengan gaya bicara mirip &lt;em&gt;salesman&lt;/em&gt; produk kesehatan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Betapa afdolnya ''jimat'' milik Anwar itu. Ketika dia pusing atau kelelahan, dia tak perlu meminta seseorang memijati tubuhnya atau pun meminum obat. Cukup melingkarkan gelang itu di tangan atau kaki, bersantai atau bahkan beraktivitas lain, dia bebas dari penyakit menjengkelkan itu.&lt;br /&gt;''Padahal tadinya saya &lt;em&gt;ndak &lt;/em&gt;percaya kalau gelang itu memang berkhasiat.''&lt;br /&gt;Yusuf (37) pun tadinya begitu. Saat ditawari untuk membeli gelang tersebut, dia langsung berpikiran bahwa itu hanya trik jualan anggota MLM (&lt;em&gt;multilevel marketing&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;''Banyak teman menyarankan agar saya pakai gelang itu untuk menyembuhkan migren dan imsomnia menahun saya. Katanya, mereka sudah mencoba dan berkhasiat. Jadi tertarik juga. Awalnya, tak ada pengaruh yang berarti. Setelah satu bulan saya pakai, kedua penyakit itu lenyap.''&lt;br /&gt;Tulisan ini tak melulu membicarakan gelang sederhana yang oleh sebagian orang dipercaya seajaib jimat penyembuh itu. Yang lebih menarik adalah mencermati perilaku pemakai peranti kesehatan. Sebab, pada hakikatnya setiap orang ingin sehat. Berbagai cara mereka lakukan untuk jadi sehat. Bahkan, kadang uang dianggap nomor dua setelah kesehatan. Buktinya, meski gelang itu mahal (lebih dari Rp 1 juta), banyak orang membelinya. Pada titik tertentu, peranti yang bentuknya mirip jam tangan atau rosario tersebut jadi &lt;em&gt;ngetren&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Tapi sampai kapan kecenderungan itu bertahan? Itu pertanyaan skeptis mengingat sudah banyak orang memburu peranti tertentu, yang lalu jadi ngetren, lalu hilang begitu saja atau digeser ''barang'' baru.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SERUPA&lt;/strong&gt; dengan gelang biomagnetik, sebelumnya ada korset dan bantal kesehatan. Kebanyakan kalangan perempuanlah yang kepincut. Padahal seperti peranti kesehatan lainnya, harga produk itu terbilang mahal. Lihat saja, satu korset harganya Rp 2,5 juta itu, sementara bantal seharga Rp 800 ribu.&lt;br /&gt;Untuk Eni Suprihati (41) yang kondisi perekonomiannya pas-pasan, harga korset dan bantal itu jelas mahal sekali. Tapi demi memburu kesehatan, dia membelinya juga. Dia berprinsip uang bisa dicari, tapi kalau kesehatan sudah jebol, risikonya bisa sangat parah.&lt;br /&gt;Lalu apa yang diperoleh perempuan itu? Nihil! Berbulan-bulan memakai kedua peranti itu, dia tak merasakan manfaat apa pun. Padahal, tadinya dia sangat yakin bisa menyembuhkan gangguan syaraf penglihatan yang dia derita. Itu juga yang diomongkan produsen alat itu saat berpromosi.&lt;br /&gt;''Saat itu saya benar-benar terpengaruh oleh informasi mengenai kemujaraban yang diimpor dari Jepang itu. Tetangga dan teman juga ikut memengaruhi. Banyak dari mereka yang tak mampu beli ingin meminjam punya saya. Karena belinya mahal, saya sewakan saja. Lumayan, per minggu saya sewakan Rp 20 ribu.''&lt;br /&gt;Tapi sayang sekali, hingga berbulan-bulan, Eni merasa tak mendapat manfaat dari kedua barang itu. Hasilnya, keduanya kini mangkrak. Berdebu.&lt;br /&gt;Akankah gelang biomagnetik atau peranti kesehatan lainnya (sekadar menyebut misalnya &lt;em&gt;biolantern&lt;/em&gt;) hanya tren sesaat yang bakal segera diganti tren lain? Kita lihat saja nanti. Sebab, diakui atau tidak hal seperti itu sering terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;strong&gt;YANG&lt;/strong&gt; jelas, kita memang berhak memilih produk kesehatan yang kita sukai. Kadangkala kita mengalami semacam fanatisme terhadap produk tertentu. Ada orang yang lebih suka mengonsumsi obat generik untuk menyembuhkan penyakitnya. Lebih khusus lagi, acap kali seseorang hanya cocok dengan satu merek obat saja dan ogah merek lainnya.&lt;br /&gt;Begitu pula, ada orang-orang yang lebih memercayai obat-obat herbal ketimbang obat kimiawi. Lihat saja orang yang datang ke beberapa toko obat herbal China di Jl Pekojan Semarang. Yang membeli tak hanya orang Tionghoa. Di kalangan etnis Tionghoa, khususnya penganut Konghucu, fanatisme terhadap jenis obat itu bisa dibilang menjadi bagian dari keyakinan mereka. Dan benarlah, salah satu hal yang selalu diinginkan ketika orang melakukan ritual ciamsi di kelenteng adalah meminta obat.&lt;br /&gt;''Banyak yang datang ke sini cuma bawa resep dari kelenteng. Saking fanatisnya, kalau di tempat kami tak ada, mereka tak mau,'' cerita Luciana Thio, pemilik Toko Obat Taurus.&lt;br /&gt;Apa pun jenis peranti pengobatannya, sebenarnya kita tidak boleh mengabaikan pola hidup kita. Sehat-sakitnya seseorang banyak dipengaruhi oleh bagaimana kita menjalani hidup. Saya yakin, kita sudah banyak membaca entah itu dari media cetak atau &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;, atau dari buletin dan jurnal-jurnal kesehatan mengenai tips-tips untuk sehat. Kalau ditarik garisnya, tips-tips itu memang bermuara pada pola hidup kita.&lt;br /&gt;Maka perlu kita renungkan ucapan seorang tabib besar Arab seperti yang dikutip Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya &lt;em&gt;The Prophetic Medicine&lt;/em&gt; (1997): ''Barangsiapa ingin panjang usia, meskipun hidup abadi itu mustahil, harus makan siang dan makan malam pada waktunya, mengenakan pakaian yang lembut dan menghindari aktivitas berlebihan.''&lt;br /&gt;Jadi, siapa yang mau sakit? Siapa yang tak mau hidup sehat? Saya jadi ingat sebuah tulisan di bak belakang truk yang puitik-menggelitik tapi mengandung doa yang (bisa saja) mustajab. Bunyi tulisan itu: &lt;em&gt;wira-wiri waras&lt;/em&gt;. Tentu saja itu bisa kita terjemahkan secara bebas bahwa ke mana pun atau dengan cara apa pun, kita memang menginginkan selalu sehat-sehat saja. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Murah pun Bisa Bikin Sehat&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JANGAN&lt;/strong&gt; gampang percaya terhadap satu jenis alat kesehatan. Sebagian orang yang kecewa tak mendapat manfaat dari alat alat yang konon bisa menyembuhkan pelbagai penyakit bisa kita ambil contoh. Mengenai gelang biomagnetik,  Ruddyanto Nadjoedjojo, ahli pengobatan tradisional China yang berkala mengisi rubrik &lt;em&gt;Pengobatan Sinshe&lt;/em&gt; di harian &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, mengatakan belum bisa membuktikan alat itu secara ilmiah.&lt;br /&gt;''Gelang itu mungkin hanya berkhasiat untuk penyakit-penyakit riangan seperti pusing-pusing atau demam. tapi untuk menyembuhkan openyakit berat seperti kanker misalnya, saya kok tak yakin,'' tandas dia.&lt;br /&gt;Guru Besar Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, Prof Dr dr Anies MKes PKK berpendapat hampir serupa.&lt;br /&gt;''Apakah alat-alat seperti itu benar-benar bisa mengurangi sakit atau menyembuhkan penyakit?'' tanyanya. Lalu dia jawab sendiri,  ''Sebagian kecil secara teoretis benar, tapi sebagian besar sama sekali bohong. Bagaimana dalam tinjauan media? Sebagai dokter, saya mengatakan perlu pembuktian lebih lanjut, dalam hal ini harus dilakukan penelitian yang mendalam.''&lt;br /&gt;Pasalnya, semua keputusan medis harus berdasarkan &lt;em&gt;evidence base medicine&lt;/em&gt; atau dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah kedokteran. Adapun alat-alat kesehatan tersebut biasanya ditawarkan hanya berdasarkan argumentasi, logika, dan kesaksian.&lt;br /&gt;''Itu bukan cara-cara ilmiah kedokteran.''&lt;br /&gt;Kalau seperti itu, pakar kesehatan keluarga, itu memandang antusiasme orang membeli alat-alat kesehatan itu semata gaya hidup. ''Padahal, kalau tujuannya mencari cara untuk sehat, sebenarnya banyak yang mudah dilakukan dan murah. Tak perlu Mahal, murah pun bisa bikin sehat. Misalnya, kalau ingin mengurangi lemak, ya kita harus mengurangi makanan berlemak dan berolahraga teratur. Ingin mengurangi berat badan? Mengapa tidak &lt;em&gt;jogging&lt;/em&gt;, bersepeda, atau berenang? Semua itu lebih sehat, murah, dan bisa dipertanggungjawabkan."&lt;br /&gt;Dalam hal-hal tertentu, menurut dia, orang-orang modern ''terancam'' bahaya penyakit gaya hidup. Biang keladinya adalah &lt;em&gt;unhealthy lifestyle&lt;/em&gt; (gaya hidup tidak sehat). Contoh-contohnya pola makan tidak sehat, aktivitas kurang gerak, kebiasaan merokok, atau minum minuman beralkohol. Itu semua sumber penyakit seperti jantung koroner, penyakit pembuluh darah otak atau stroke, &lt;em&gt;diabetes mellitus&lt;/em&gt;, dan kanker paru-paru.&lt;br /&gt;''Itulah penyakit-penyakit gaya hidup yang tak sehat. Lebih parah lagi bagi yang jarang beraktivitas fisik. Misalnya naik ke lantai dua saja harus pakai lift, atau pergi ke tempat yang dekat sajaharus naik mobil. Ini akan menurunkan HDL (&lt;em&gt;high density lipoprotein&lt;/em&gt;) atau kolesterol baik yang berkecenderungan menyebabkan penyakit.''&lt;br /&gt;Selain pemakaian alat-alat kesehatan, kecenderungan orang berduit yang berobat ke Singapura atau luar negeri bagi dr Anies pun semata gaya hidup.&lt;br /&gt;''Mengapa Mengapa harus ke Singapura, sementara di Indonesia sebenarnya sudah ada fasilitas pengobatan yang kurang lebih sama? Jelas itu bagian dari gaya hidup orang-orang kaya.''&lt;br /&gt;Tapi menurutnya kecenderungan itu tidak lahir begitu saja. Perbedaan pelayanan pengobatan di Singapura dan Indonesia bisa jadi faktor pemicunya.&lt;br /&gt;''Kalau di Indonesia, masih banyak dokter atau pekerja medis yang memperlakukan pasien dengan pendekatan organ tubuh. Jadi pasien dianggap seolah-olah benda mati saja. Kalau di Singapura pasien lebih dimanusiakan dengan pendekatan kekeluargaan.''&lt;br /&gt;Karena semata tren, dia yakin itu bisa berubah. Caranya? ''Ya pelayanan kesehatan di negeri kita harus ditingkatkan." (*)&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;Reporter: Sarby&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Foto-foto: Maulana M Fahmi&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Selasar &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 15 Juni 2008&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-6440400711356523692?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/6440400711356523692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=6440400711356523692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/6440400711356523692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/6440400711356523692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/06/wira-wiri-waras.html' title='Wira-Wiri Waras'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-7157187603845690854</id><published>2008-06-22T06:18:00.000-07:00</published><updated>2008-11-18T21:51:16.984-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leisure'/><title type='text'>Godaan Mainan Maya</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5U1dXl70I/AAAAAAAAAAo/y1zmuxi_29I/s1600-h/20fSelasar2-fhm.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214698695934996290" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5U1dXl70I/AAAAAAAAAAo/y1zmuxi_29I/s320/20fSelasar2-fhm.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;JAM&lt;/strong&gt; satu ini saya mau perang,'' ujar Ipang (25) seraya menyeruput es teh dari gelasnya. Saya melihat mimik mukanya begitu santai. Sedotan rokok &lt;em&gt;mild-&lt;/em&gt;nya pun berkesan ringan. Roy (29), temannya, ikut berkata sambil menunjuk lelaki muda itu, ''Dia memang jagoan perang. Makanya dia dipilih jadi panglima.''&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya kembali memandang Ipang. Senyaman itukah air muka orang yang hendak berperang? Semestinya sebagai panglima, lelaki bermuka tirus itu sudah harus menyiapkan taktik dan strategi jitu untuk berperang. Dan itu setidaknya akan membuat dia tegang. Apalagi, jam 13.00 tinggal belasan menit lagi. &lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi tidak. Tak seguris pun kecemasan terbayang pada wajahnya. Lihat juga penampilannya: berkaus tertutup jaket biru tua dan bercelana jins hitam. Padanya tak terjumpai pistol atau pemarkah seorang komandan atau seorang johan alias jagoan yang berwibawa di medan laga. Panglima macam apa dia?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jangan menilai berlebihan dahulu. Ipang hanyalah panglima perang di dunia maya bernama &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt;. Pada permainan Racing Force Online (RFO) yang lagi populer sekarang, dia memang &lt;em&gt;archon&lt;/em&gt; alias panglima perang bernama maya ''Slavin''. Dan galibnya pemimpin perang di dunia nyata, dia juga memiliki ratusan anak buah. Uniknya, bisa saja dia tak kenal sama sekali jatidiri orang-orang yang dia pimpin. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Siang itu, dua ruangan Transbitnet, sebuah &lt;em&gt;game center&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;internet cafe&lt;/em&gt; di Jl Erlangga Timur 5, Semarang, telah dipenuhi para pemain &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt;. Kata Bagus Sundaru (31), pengelola tempat itu, dengan 40 unit komputer, per harinya pemain berkisar antara 100-200 orang . Kalau hari libur, jumlahnya bisa lebih dari itu. Kami lalu masuk ke sebuah ruangan. Di situ, di hadapan puluhan unit komputer yang berderetan, puluhan anak muda (banyak di antara mereka masih mengenakan seragam sekolah) tengah memelototi monitor dan tangan mereka sibuk menggeser-geser &lt;em&gt;mouse&lt;/em&gt;. Pada layar-layar monitor itu bergerak sosok-sosok karikaturis. Ada yang tengah berperang lewat &lt;em&gt;game&lt;/em&gt; RFO, berdansa dalam &lt;em&gt;game&lt;/em&gt; Ayo Dance Online (ADO) dan Idol Street Online (ISO), atau bertualang dalam Ragnarok Online.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Suasana begitu riuh oleh teriakan para pemain. Ledakan kegirangan tertingkah kesah kekecewaan. Udara begitu pengap oleh kepulan asap rokok. Padahal menurut Bagus, ruangan itu semestinya bebas asap rokok.''Banyak pemain merasa lebih bisa berkonsentrasi kalau merokok. Jadi, ruangan kami bagi dua. Satu bebas rokok, satunya &lt;em&gt;smoking area&lt;/em&gt;. Kami juga menolak pemain yang masih berseragam. Tapi dasar sudah keranjingan, mereka kadang bawa pakaian bebas dan memakainya di toilet. Ada juga yang sengaja menutupi seragamnya dengan jaket,'' ujar Bagus. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nyatanya di antara kepengapan dan keriuhan seperti itu, para pemain tetap asyik-asyik saja. Meskipun terlihat keruh dan lelah, rona keriangan tetap menguar pada muka-muka mereka. Bagaimana tak suram muka mereka kalau dalam sekali &lt;em&gt;ngegame&lt;/em&gt;, paling sedikit mereka bertahan di depan monitor selama lima jam.''Itu belum apa-apa. Ada yang betah sehari semalam,'' tambah Roy, seorang maniak &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; sekaligus pengelola &lt;em&gt;game center&lt;/em&gt; Versus di Banyumanik Semarang, ''Yang sampai tiga hari atau seminggu pun ada. Mandi dan makan ya di depan monitor.''&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5VC-YLeaI/AAAAAAAAAAw/Lz64jjjwcUk/s1600-h/20fSelasar5-fhm.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214698928134125986" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5VC-YLeaI/AAAAAAAAAAw/Lz64jjjwcUk/s320/20fSelasar5-fhm.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Roy pasti tidak membual. Saat itu, ketika Ipang telah jadi sang &lt;em&gt;archon&lt;/em&gt; Slavin, saya melihat seorang pramusaji dari kafe di Transbitnet mengantar nasi goreng berlauk telur mata sapi ke seorang pemain. Setelah membayar, sembari menyendok nasi dengan satu tangan, si pemain tetap memainkan &lt;em&gt;mouse&lt;/em&gt; pada tangan satunya. Tentu saja dia tak mau melewatkan ''perang''-nya satu detik pun. Sebab, lena sekejap bisa jadi bulan-bulanan musuh mayanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;YA&lt;/strong&gt;, ketika seseorang keranjingan atau bahkan kecanduan, dia bisa mengorbankan apa saja demi memuaskan hasratnya. Juga para pecandu &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; itu. Demi mengejar kepuasan atau mungkin hanya kepenasaran, seseorang bisa rela ''membuang'' berjam-jam atau berhari-hari dari waktu hidupnya. Belum lagi soal uang yang harus dikeluarkan. Kalau sewa per jamnya berkisar Rp 2.000-Rp 3.000, berapa rupiah untuk yang berhari-hari?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kita mungkin bisa menganggap perilaku seperti itu hanyalah pemborosan waktu. Mungkin pula kita merasa aneh menyaksikan bagaimana seseorang bisa sangat kegirangan ketika sosok maya yang dia cipta memenangi sesuatu, dan pada saat lainnya bisa mendesahkan keluhan, atau bahkan air mata sedih ketika pahlawan ciptaannya dikalahkan musuh yang juga maya. Seperti ada ironisme di situ. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi mungkin juga bukan sesuatu yang ironis kalau kita mengingat istilah hiperealitas dari Umberco Eco. Pada fenomena hiperealitas terdapat prinsip representasi di mana sebuah salinan atau tiruan itu masih merupakan representasi dari rujukan atau referensinya (lihat &lt;em&gt;Travel in Hyper-Reality&lt;/em&gt; karya Umberto Eco yang diterjemahkan penerbit Jalasutra menjadi &lt;em&gt;Tamasya dalam Hiperealitas&lt;/em&gt;). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dalam hal ini, para pemain &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; itu seolah-olah mendapat rujukan, bahwa dunia maya yang mereka mainkan merupakan representasi dari dunia nyata mereka. Setidaknya representasi dari keinginan mereka untuk jadi hero alias pahlawan alias idola, yang mungkin tak kesampaian dalam kehidupan nyata mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tentang yang terakhir, Roy berkisah, ''Saya punya teman yang selalu patah hati. Eh, dalam &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;, dia itu macam Cassanova atau Don Juan saja. Gampang memikat tokoh cewek.''Namun, lepas dari konsep-konsep seperti itu, Bagus yang telah menggulati &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; sejak 2003, menampik anggapan aneh dari orang-orang ''awam game''. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;''Kalau belum mengenal &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt;, orang akan menganggap para pemain ini orang-orang aneh. Mereka pikir, kami hidup di alam impian. Alam maya. Padahal kalau sudah lebih mengenal, mereka akan paham, ini tak sekadar dunia maya.''&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tak sekadar dunia maya? Tentu saja, Bagus tak sedang membela kaum pecandu &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt;. Dia bilang, seseorang bisa beroleh penghidupan dari permainan maya itu. Gamblangnya, seseorang bisa mengantongi lembaran rupiah atau bahkan dolar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;''Dalam &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;, kami mengumpulkan poin. Poin itu bisa ditukar rupiah. Uang nyata itu. Dulu saya bayar kuliah dari rupiah yang dikonversi dari poin &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;. Kini, saya pun hidup dari itu. Seminggu paling tidak saya dapat Rp 500 ribu.''&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bukan cuma poin yang bisa diuangkan. Dalam &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;, ada item bagus atau di kalangan para pemain disebut ''barang dewa'' yang kalau dijual harganya mahal. Tapi itu membutuhkan hoki tersendiri. Tak setiap pemain bisa memerolehnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;''Seorang teman saya pernah menukar satu 'barang dewa' dengan sebuah sepeda motor Ninja. Itu lebih dari Rp 20 juta, lho,'' tandas Roy antusias.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau begitu, permainan maya itu tak semata memuaskan kebutuhan manusia sebagai makhluk yang suka bermain-main (&lt;em&gt;homo ludens&lt;/em&gt;), tapi juga memenuhi fitrah manusia sebagai makhluk ekonomi (&lt;em&gt;homo economicus&lt;/em&gt;). Lebih pasti lagi, dengan atau tanpa motivasi beroleh rupiah, permainan maya itu memang menggoda seseorang untuk ''masuk'' ke dalamnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kalau rupiah urung direguk, kegembiraan pastilah tertangguk. Tapi tentu saja, itu harus dibayar dengan pengorbanan yang tak sedikit. Orang seperti Bagus, Roy, atau Ipang sering harus rela, setidaknya, mengorbankan waktu luang dan tidur mereka.(*)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;strong&gt;SELASAR&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 22 Juni 2008)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jujur Saja Dapat Duit, Kenapa Curang?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;KETIMBANG&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;game off-line&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; memang muncul agak belakangan pada tahun 2002. Saat itu pengguna internet memainkan &lt;em&gt;game&lt;/em&gt; Nexia yang berbentuk kotak dua dimensi bersistem &lt;em&gt;Roll Playing Game&lt;/em&gt; (RPG). Permainannya berupa petualangan dengan satu karakter dan dimainkan secara perseorangan.Setelah itu, muncul Ragnarok Online (RO) dari Korea yang mulai memakai sistem &lt;em&gt;Multimessage Playing Online Roll Game&lt;/em&gt; (MMPORG). Permainannya mulai canggih dan bisa dimainkan banyak orang dengan fasilitas pesan yang jadi medium interaksi pemain lewat internet. Mungkin kita masih ingat betapa populernya Ragnarok ketika itu. Jumlah pemainnya berkisar antara 2.000 hingga 3.000 orang pada satu server. Padahal, server penyedianya berjumlah tiga buah. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Antusiasme orang bermain &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; itu lalu menarik minat para pemilik warnet untuk membuka &lt;em&gt;game center&lt;/em&gt;. Di Semarang, antara lain ada Transbitnet, Versus, X-Cyber, XYZ, Dot Net. Kalau dalam sehari Transbitnet dikunjungi 100-200 pemain, atau Versus rata-rata 100 pemain, Anda sudah bisa membayangkan sendiri berapa orang yang keranjingan jenis permainan itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Game&lt;/em&gt; lain yang mengikuti Ragnarok antara lain Ran Online, TS Online, dan Seal Online. Visualisasi &lt;em&gt;game-game&lt;/em&gt; itu masih berupa gambar dua dimensi sebelum dipercanggih menjadi tiga dimensi (tridi), seperti pada Seal, Racing Force, dan Ran. Jenisnya pun tak hanya peperangan dan petualangan, tapi muncul permainan yang lebih santai untuk &lt;em&gt;chatting&lt;/em&gt; atau mendengarkan musik seperti Ayo Dance dan Idol Street.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rupanya tak cukup hanya untuk &lt;em&gt;having fun&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; mulai dijadikan &lt;em&gt;e-sport&lt;/em&gt; tahun 2006. Bentuknya berupa kompetisi yang diikuti oleh lebih dari 50 negara. Ini bukan kompetisi main-main kalau melihat hadiah yang ditawarkan penyelenggara seperti World Cyber Game. Tahun 2003, jumlahnya mencapai 25 ribu dolar AS. Hal itu menegaskan, sesuatu yang maya bisa ''hadir'' sebagai sesuatu yang nyata. Bukan cuma itu, lewat interaksi dunia maya, para pemain juga membentuk komunitas yang disebut &lt;em&gt;guild&lt;/em&gt;. Itu komunitas nyata di mana para anggotanya sering bertemu, berdiskusi, bahkan memilih pemimpin. Orang seperti Ipang yang menjadi pemimpin perang dalam &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;, juga terpilih lewat &lt;em&gt;guild&lt;/em&gt;. Gilanya, mereka menyusun ''strategi perang'' pun ketika berkumpul. Beberapa komunitas permainan dunia maya itu antara lain Versus Allstars, Barack, Holinitro, Sesame Street, atau Herois. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;''Lewat &lt;em&gt;game&lt;/em&gt;, saya punya banyak teman,'' tandas Roy.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aspek ikutan &lt;em&gt;game online&lt;/em&gt; yang menarik adalah fenomena &lt;em&gt;hacker&lt;/em&gt; atau pembajak, atau dikenal pula dengan istilah &lt;em&gt;cheater&lt;/em&gt; (pemain curang). Dengan iming-iming konversi poin atau item &lt;em&gt;game &lt;/em&gt;menjadi uang nyata, siapa yang tak tergerak bermain curang? Roy memberi satu contoh pada game Racing Force. Setiap Rp 1 juta yang dimiliki seorang pemain dalam game, ia sudah mengantongi uang nyata Rp 1.000 hingga Rp 2.000. Polanya berupa pembongkaran kode server yang memungkin seorang pemain bisa mencuri poin atau item, atau hanya berupa jalan pintas ke level tertentu. Satu contoh sederhana, bila dalam sehari bermain umumnya seseorang hanya mampu menyelesaikan satu level, si curang bisa mencapai level kelima atau seterusnya. Poinnya pun jadi besar tanpa harus bersusah payah.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tentu saja para pemain curang itu dimusuhi pemilik server. Mereka tak mau bangkrut seperti penyedia game Knight Online yang dijebol seorang pemain curang. Makanya para penyedia permainan melakukan pengawasan ketat lewat Game Master.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;''Silakan main curang dan tanggung risikonya. Kalau ketahuan, ID kita bakal dicabut. Tentu saja, kita masih bisa main, tapi kembali dari awal dengan ID baru. Rugi besar kalau kita sudah mengumpulkan poin banyak. Lha wong jujur saja dapar duit nyata, kok,'' jelas Roy. (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;addthis_url='&lt;data:post.url/&gt;'; addthis_title='&lt;data:post.title/&gt;'; addthis_pub='ras';&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;script src="http://s7.addthis.com/js/addthis_widget.php?v=12" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-7157187603845690854?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/7157187603845690854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=7157187603845690854' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7157187603845690854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/7157187603845690854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/06/godaan-mainan-maya.html' title='Godaan Mainan Maya'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5U1dXl70I/AAAAAAAAAAo/y1zmuxi_29I/s72-c/20fSelasar2-fhm.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1281755759261159539.post-4386178384522925464</id><published>2008-06-22T05:28:00.000-07:00</published><updated>2008-11-18T21:51:17.310-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sport'/><title type='text'>Futsal = Sehat + Teman</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5PXE-irrI/AAAAAAAAAAY/MDOsKZG383g/s1600-h/1flasar1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214692676433260210" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5PXE-irrI/AAAAAAAAAAY/MDOsKZG383g/s320/1flasar1.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Oleh Saroni Asikin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ANAK&lt;/strong&gt; muda berkaus AC Milan itu berteriak meminta rekannya mengirim umpan. Dia berada pada sisi kiri pertahanan lawan. Begitu beroleh bola, kencang dia menendang. Bola itu membentur gawang dan kembali jadi rebutan para pemain di lapangan. Sial. Si penendang mengumpat kesal sambil memegang kepalanya. Gerakan itu membuat rambutnya menghamburkan percik-percik keringat.&lt;br /&gt;Tapi dia tak boleh berlama-lama menyesali kesialan itu. Sebab, dia tahu, dalam permainan futsal, dalam lapangan yang sempit, dia tak bisa berleha-leha menanti bola datang. Kalau ingin mendapat bola, dia mesti memburu dan berebutan dengan yang lain. Seperti para pemain &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_BGhhhO3O9vg/SE7UcBHTRgI/AAAAAAAAAAM/mplgCcHZa2Q/s1600-h/1flasar1.JPG"&gt;&lt;/a&gt;lainnya, dia mesti terus bergerak. Wajar saja, tubuh jadi kuyup oleh keringat.&lt;br /&gt;''Siapa bilang futsal tidak melelahkan seperti sepak bola? Lebih melelahkan malah,'' ujar Risam (23) sembari menyeka keringat yang berleleran di dahi dan pipinya, ''Dulu saya sering bermain sepak bola. Jadi bek. Kalau teman-teman sedang menyerang, saya bisa santai menunggu bola datang. Kalau main futsal, mana bisa?''&lt;br /&gt;Sore yang gerah itu, mahasiswa Unika Soegijapranata Semarang itu baru saja menyelesaikan satu sesi latihan bersama teman seklub di The Stadium Futsal Center, Jl Raden Patah 81 Semarang. Klub mereka bernama M7, nama yang sama dengan event organizer tempat mereka bekerja. Selain berlatih, M7 juga aktif ikut turnamen. Meskipun baru sekali menjadi perempat finalis pada sebuah kejuaraan futsal, kebanggaan tersemat dalam hati setiap anggotanya.&lt;br /&gt;Tak hanya mereka, beberapa tahun berselang, di kota-kota besar banyak orang sekantor yang membentuk klub futsal. Bak cendawan di musim hujan, futsal merambah tak melulu pada kota-kota yang selama ini selalu jadi pemantik tren apa saja seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya, tapi juga di banyak tempat lain. Sebut saja Semarang, Lampung, atau Palembang. Walhasil, orang pun menyebut futsal sebagai gaya hidup, khususnya masyarakat perkotaan.&lt;br /&gt;Ini fenomena yang menarik. Ketika menciptakan futsal di Montevideo, Uruguay pada tahun 1930, Juan Carlos Ceriani barangkali ingin agar sepak bola tak harus hanya dimainkan di luar ruangan tapi bisa juga di dalam ruangan. Lihat saja namanya, futsal berasal dari bahasa Spanyol &lt;em&gt;futbol&lt;/em&gt; (sepak bola) dan &lt;em&gt;sala&lt;/em&gt; (ruangan) (ada yang menyebutnya dari bahasa Portugis &lt;em&gt;futebol de salao&lt;/em&gt;). Yang pasti, semangatnya adalah olahraga. Dan ketika olahraga itu berkembang menjadi sebuah gaya hidup, pasti ada banyak segi yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;BISA&lt;/strong&gt; jadi, sifat ''sangat mirip''-nya futsal dengan sepak bola bisa disebut daya tarik kegemaran orang berfutsal. Siapa yang mau membantah bahwa sepak bola adalah olahraga paling digemari dan populer di bumi ini? Siapa yang sekarang tak mengenal nama Cristiano Ronaldo, Kaka, atau David Beckham? Atau yang lagi dinaungi bintang kemuraman macam Ronaldinho?&lt;br /&gt;''Sejak kecil saya suka sepak bola dan menjadi pemain meskipun amatiran. Tapi kini tak &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_BGhhhO3O9vg/SE7U7xHTRhI/AAAAAAAAAAU/66cbkRW9uXU/s1600-h/1flasar4.JPG"&gt;&lt;/a&gt;kesampaian karena rutinitas kerja dan kuliah. Futsal setidaknya jadi penyaluran hobi bermain bola,'' kata Risam.&lt;br /&gt;Alex (21), teman Risam yang jadi kapten M7, berpendapat serupa. ''Inginnya sih main di lapangan yang besar. Sayang itu tak kesampaian, jadi tak ada sepak bola, futsal pun jadilah,'' ujarnya sembari tertawa.&lt;br /&gt;Penyaluran hobi yang terbentur usia juga jadi alasan seseorang bermain futsal. ''Untuk orang seusia saya, mana kuat main sepak bola? Belum lagi kalau pas main di bawah matahari atau hujan, wah ngundang penyakit itu,'' ujar Sudibyo (34), karyawan Genuk Jaya Marine, Semarang, ''Lagian karyawan seperti saya, sulit cari waktu berolahraga. Jadi, seminggu sekali saya berlatih futsal bersama kawan-kawan. Cari keringatlah.''Tak seperti Risam atau Alex, sore itu Sudibyo tidak bersama teman-teman satu kantor. ''Tapi bisa dibilang, mereka teman satu bidang pekerjaan. Futsal membuat kami semakin akrab. Lebih-lebih lagi, kami bisa saling tukar informasi yang menguntungkan untuk pekerjaan kami masing-masing.''&lt;br /&gt;Yang tak bisa dimungkiri adalah manfaat berfutsal bagi kehidupan mereka sehari-hari, khususnya dalam pekerjaan. Secara tak langsung, futsal membuat mereka bergairah dalam bekerja.''Futsal membuat tubuh jadi bugar dan membuat saya bergairah dalam bekerja,'' tandas Alex.&lt;br /&gt;Risam menyambung, ''Jangan lupa manfaat futsal bagi kerja tim kami di kantor. Futsal itu permainan tim. Secara tak sadar, spirit kerja tim kami terbentuk.''&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5Phv8SCYI/AAAAAAAAAAg/edE1_oEcPxc/s1600-h/1flasar4.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5214692859765197186" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5Phv8SCYI/AAAAAAAAAAg/edE1_oEcPxc/s320/1flasar4.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;*** &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;MENCARI&lt;/strong&gt; keringat, pertemanan, dan relasi. Nah, itu rupanya yang menjadi daya tarik mengapa orang gemar berfutsal. Rionaldo Chandra, &lt;em&gt;general manager&lt;/em&gt; The Stadium Futsal Center, membenarkan hal itu. ''Yang datang ke sini tak cuma ingin main futsal. Selain ingin cari keringat, mereka juga bisa bersantai, ngobrol-ngobrol dengan kolega, juga menjalin relasi. Banyak eksekutif yang malah membicarakan proyek sembari menunggu main futsal. Maka wajar saja futsal tak hanya bagian olahraga tapi juga gaya hidup.''Freddy Joewono, &lt;em&gt;general manager&lt;/em&gt; Radja Futsal di Jl Majapahit 133, Semarang, bahkan menyebut futsal sebagai pemarkah atribut seseorang dalam hubungan sosial.&lt;br /&gt;''Futsal itu gaya hidup. Bahkan ada yang ekstrem mengatakan, gak futsal itu gak gaul. Selebritis aja kini lebih suka main futsal ketimbang basket atau badminton.''&lt;br /&gt;Bahkan tak melulu untuk menjalin relasi bisnis, Freddy menganggap futsal bisa jadi perekat bagi kawan yang lama tak saling bertemu. ''Futsal ini bisa jadi ajang reuni. Setelah saya buka tempat futsal, teman-teman SMA saya jadi bisa sering kumpul di sini. Mengasyikkan benar.''&lt;br /&gt;Jelaslah, beragam benar alasan orang mau berebutan bola di dalam ruangan dalam bidang lapangan dengan panjang 25-42 m x lebar 15-25 m tersebut. Selain bisa berolahraga dalam suasana penuh keriangan, mereka juga bisa merengkuh banyak kawan, yang kalau dipanjangkan bisa berarti keuntungan secara material dalam bentuk kerja sama bisnis.&lt;br /&gt;Selain itu, boleh saja ada sementara orang yang menganggap futsal sebagai olahraga ''pelarian'' lantaran olahraga itu hanyalah medium substitutif bagi orang-orang yang tak bisa bermain sepak bola. Risam, Alex, atau Sudibyo barangkali memang ''lari'' ke futsal karena tak kesampaian bermain sepak bola. Mereka juga tak pernah mengimpikan menjadi seperti Pele, Romario, Ronaldo, atau Ronaldinho, orang-orang yang kemampuan teknik sepak bolanya terasah lewat futsal. Keriangan bermain saja sudah cukup buat mereka.&lt;br /&gt;Yang jelas, kalau benar itu ''pelarian'', tak masalah juga toh tetap positif dan menguntungkan mereka. Tubuh yang sehat-bugar menjadikan kinerja mereka di kantor masing-masing jadi bagus. Belum lagi soal kesadaran kerja tim yang mereka peroleh dari bermain futsal itu bisa mereka aplikasikan dalam pekerjaan sehari-hari.Dan sebagai wahana mengasyikkan untuk berlobi bisnis, futsal (mungkin) punya kesempatan setara dengan golf, squash, atau boling. (*)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ya Sosialisasi, Ya Bisnis&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;FENOMENA&lt;/strong&gt; yang berkembang dalam masyarakat adalah lahan basah untuk berbisnis. Adagium seperti itu pasti disadari kalangan pebisnis. Maka ketika futsal yang kalau ditilik dari masa kelahirannya itu terlambat ''hadir'' di negeri kita bergerak menjadi gaya hidup, pusat-pusat futsal pun bermunculan di kota-kota besar. Di Semarang, sekadar contoh, ada The Stadium Futsal Center, Radja Futsal, dan Graha Futsal.&lt;br /&gt;Mendulang uang dari tren yang berkembang? Tak semudah itu. Sebab, seorang pebisnis tak bisa asal-asalan membuka sebuah pusat futsal. Harus ada ''sesuatu'' yang membuat orang mau datang dan berlatih. ''Sesuatu'' itu, bagi Rionaldo Chandra dari The Stadium Fustasl Center, berupa lapangan berstandar FIFA, berumput sintetis, plus berbagai fasilitas pendukung.&lt;br /&gt;''Waktu kuliah di Jakarta, saya melihat futsal telah sangat populer. Perkembangannya meluas ke Lampung, Palembang, dan Balikpapan. Kota-kota itu sudah punya futsal dengan fasilitas berstandar FIFA. Ketika balik ke Semarang, tak saya jumpai futsal dengan kualitas seperti itu,'' cerita lelaki yang akrab disapa Rio itu.&lt;br /&gt;Bersama beberapa orang, dia memermak bekas gudang di Jl Raden Patah Semarang menjadi pusat futsal dengan lima lapangan berstandar FIFA dengan rumput sintetis seperti yang digunakan dua klub Eredivisie, yaitu PSV Eindhoven dan Ajax Amsterdam FC. Itu dilengkapi dengan fasilitas pendukung berupa kafe, shower air panas, meja biliar gratis, dan tempat parkir luas.&lt;br /&gt;Fasilitas pendukung itu bagi Rio begitu penting karena dia tahu, sebagai bagian dari gaya hidup, orang datang ke tempat futsal tak melulu karena ingin bermain. ''Adakalanya orang datang hanya untuk bersantai dan bertemu kolega atau relasi bisnis. Nantinya tempat kami akan mengembangkan konsep sportainment. Dalam waktu dekat akan kami buka warnet dan &lt;em&gt;game center&lt;/em&gt;, juga lapangan basket &lt;em&gt;outdoor&lt;/em&gt;.''&lt;br /&gt;Kejelian pengelola The Stadium Futsal Center itu bisa dibilang berhasil. Selama sekitar lima bulan sejak dibuka Januari lalu, animo pefutsal cukup banyak ke tempat tersebut. ''Yang jadi &lt;em&gt;member&lt;/em&gt; lebih dari 40 tim. Kalau sama yang insidental, 80-100 tim tiap bulannya.''&lt;br /&gt;Tempat futsal lain seperti Radja Futsal yang memiliki tiga lapangan (dua di antaranya berumput sintetis) pun begitu mementingkan fasilitas sebagai daya tarik pefutsal, antara lain &lt;em&gt;shower&lt;/em&gt; dan kamar ganti sebagai. Tanpa memerinci jumlah tim yang main setiap bulannya, Freddy Joewono, GM tempat futsal itu mengatakan animo pefutsal di tempatnya sangat bagus. ''Dari anak-anak hingga kalangan eksekutif,'' ujarnya.&lt;br /&gt;Jadi benar-benar lahan bisnis yang menjanjikan, bukan? Meski begitu, Rio menampik kalau tempatnya hanya memburu keuntungan bisnis. ''Awalnya memang bermotif bisnis. Tapi lalu kami juga terdorong untuk menyosialisasikan olahraga ini. Jadi, selain bisnis, ada nilai edukatifnya.''&lt;br /&gt;Edukasi itu berupa program sekolah futsal untuk U-12 (di bawah 12 tahun) dan U-16 (di bawah 16 tahun). Rio optimistis, lewat sekolah futsal itu akan lahir para pefutsal andal. Dengan alasan serupa, Radja Futsal pun segera membuka sekolah futsal. ''Saya yakin sekali, suatu hari orang bisa hidup dari futsal seperti halnya para pemain sepak bola profesional,'' ujar Freddy.&lt;br /&gt;Meski begitu, sampai kapan futsal bisa bertahan sebagai gaya hidup? ''Selagi sepak bola masih digemari orang, futsal tak bakal mati,'' tandas Rio. (&lt;strong&gt;Saroni Asikin&lt;/strong&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Foto: Maulana M Fahmi&lt;br /&gt;SELASAR (&lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, 1 Juni 2008)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1281755759261159539-4386178384522925464?l=peselasar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://peselasar.blogspot.com/feeds/4386178384522925464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1281755759261159539&amp;postID=4386178384522925464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/4386178384522925464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1281755759261159539/posts/default/4386178384522925464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://peselasar.blogspot.com/2008/06/futsal-sehat-teman.html' title='Futsal = Sehat + Teman'/><author><name>Saroni Asikin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04748375844245585388</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/TAVBS0FL0eI/AAAAAAAAAHI/RdUjO7uespI/S220/creative_man.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_whiNGRtoFFw/SF5PXE-irrI/AAAAAAAAAAY/MDOsKZG383g/s72-c/1flasar1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
